Muhammad Antoso


Selamat Datang di Blogs Antok Pemuda Sumenep Semoga Bermanfaat

Kamis, 27 Desember 2012

LAPORAN OBSERVASI dan WAWANCARA DI SLB KARYA ASIH MARGOREJO



Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
“Psikologi Klinis”









Disusun oleh:
Lilin Nur Indah Sari                      B07210048
Moh. Antoso                                 B07210076
Anisa Gardiah Yuniarti                 B07210083        

    Dosen Pembimbing :
Zaky Nur Fahmawati, S.Psi, M. Psi, Psi

                                           PRODI PSIKOLOGI           
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2012

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Down syndrome adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental pada anak yang disebabkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Down syndrome dinamai sesuai nama dokter berkebangsaan Inggris bernama Langdon Down, yang pertama kali menemukan tanda-tanda klinisnya pada tahun 1866. Pada tahun 1959 seorang ahli genetika Perancis Jerome Lejeune dan para koleganya, mengidentifikasi basis genetiknya.
Manusia secara normal memiliki 46 kromosom, sejumlah 23 diturunkan oleh ayah dan 23 lainnya diturunkan oleh ibu. Para individu yang mengalami down syndrome hampir selalu memiliki 47 kromosom, bukan 46. Ketika terjadi pematangan telur, 2 kromosom pada pasangan kromosom 21, yaitu kromosom terkecil gagal membelah diri. Jika telur bertemu dengan sperma, akan terdapat kromosom 21 yang istilah teknisnya adalah trisomi 21. Down syndrome bukanlah suatu penyakit maka tidak menular, karena sudah terjadi sejak dalam kandungan.
Bayi yang mengalami down syndrome jarang dilahirkan oleh ibu yang berusia di bawah 30 tahun, tetapi risiko akan bertambah setelah ibu mencapai usia di atas 30 tahun. Pada usia 40 tahun, kemungkinannya sedikit di atas 1 dari 100 bayi, dan pada usia 50 tahun, hampir 1 dari 10 bayi. Risiko terjadinya down syndrome juga lebih tinggi pada ibu yang berusia di bawah 18 tahun.
Masalah ini penting, karena seringkali terjadi di berbagai belahan dunia, sebagaimana menurut catatan Indonesia Center for Biodiversity dan Biotechnology (ICBB) Bogor, di Indonesia terdapat lebih dari 300 ribu anak pengidap down syndrome. Sedangkan angka kejadian penderita down syndrome di seluruh dunia diperkirakan mencapai 8 juta jiwa. Angka kejadian kelainan down syndrome mencapai 1 dalam 1000 kelahiran. Di Amerika Serikat, setiap tahun lahir 3000 sampai 5000 anak dengan kelainan ini. Sedangkan di Indonesia prevalensinya lebih dari 300 ribu jiwa. Dalam beberapa kasus, terlihat bahwa umur wanita terbukti berpengaruh besar terhadap munculnya down syndrome pada bayi yang dilahirkannya. Kemungkinan wanita berumur 30 tahun melahirkan bayi dengan down syndrome adalah 1:1000. Sedangkan jika usia kelahiran adalah 35 tahun, kemungkinannya adalah 1:400. Hal ini menunjukkan angka kemungkinan munculnya down syndrome makin tinggi sesuai usia ibu saat melahirkan.





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengetian Down Syndrome
Down Syndrome adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental pada anak yang disebabkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Ahli pertama yang mengidentifikasikan gangguan ini adalah John Langdon Down. Berdasarkan hasil penelitian bahwa terjadi mutasi gen pada kromosom 21, dimana terdapat tambahan bagian pada kromosom tersebut. Jadi Down Syndrome adalah suatu keadaan fisik yang disebabkan oleh mutasi gen ketika anak berada dalam kandungan
Menurut JW. Chaplin (1995), down syndrome adalah satu kerusakan atau cacat fisik bawaan yang disertai keterbelakangan mental, lidahnya tebal, dan retak-retak atau terbelah, wajahnya datar ceper, dan matanya miring. Sedangkan menurut Kartini dan Gulo (1987), down syndrome adalah suatu bentuk keterbelakangan mental, disebabkan oleh satu kromosom tambahan. IQ anak down syndrome biasanya dibawah 50, sifat-sifat atau ciri-ciri fisiknya adalah berbeda, ciri-ciri jasmaniahnya sangat mencolok, salah satunya yang paling sering diamati adalah matanya yang serong ke atas. Sedangkan, dari segi sitologi, down syndrome dapat dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu:
a.       Syndroma Down Triplo-21 atau Trisomi 21, sehingga penderita memiliki 47 kromosom. Penderita laki-laki= 47,xy,+21, sedangkan perempuan= 47,xx,+21. Kira-kira 92,5% dari semua kasus syndrome down tergolong dalam tipe ini.
b.      Syndrome Down Translokasi, yaitu peristiwa terjadinya perubahan struktur kromosom, disebabkan karena suatu potongan kromosom bersambungan dengan potongan kromosom lainnya yang bukan homolog-nya.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa down syndrome merupakan suatu kondisi keterbelakangan mental dan fisik yang disebabkan oleh kelainan kromosom. Anak yang mengalami down syndrome, biasanya memiliki IQ di bawah 50.

B.     Penyebab Down Syndrome
Secara biologis down syndrome terjadi karena kelainan susunan kromosom ke-21, dari 23 kromosom manusia. Pada manusia normal, 23 kromosom tersebut berpasang-pasangan hingga jumlahnya menjadi 46. Pada penderita down syndrome, kromosom nomor 21 tersebut berjumlah tiga (trisomi), sehingga totalnya menjadi 47 kromosom. Jumlah yang berlebihan tersebut mengakibatkan kegoncangan pada sistem metabolisme sel, yang akhirnya memunculkan down syndrome.
Hingga saat ini, diketahui adanya hubungan antara usia sang ibu ketika mengandung dengan kondisi bayi. Yaitu semakin tua usia ibu, maka semakin tinggi pula risiko melahirkan anak dengan down syndrome.
Down syndrome juga disebabkan oleh kurangnya zat-zat tertentu yang menunjang perkembangan sel syaraf pada saat bayi masih di dalam kandungan, seperti kurangnya zat iodium. Menurut data badan UNICEF, Indonesia diperkirakan kehilangan 140 juta poin Intelligence Quotient (IQ) setiap tahun akibat kekurangan iodium. Faktor yang sama juga telah mengakibatkan 10 hingga 20 kasus keterbelakangan mental setiap tahunnya.
Mutasi gen ini memiliki kemungkinan paling besar terjadi pada kelahiran dimana usia ibu antara 40 sampai 50 tahun. Persentasenya sekitar 1.5 per 1000 kelahiran. Sampai saat ini belum dikemukakan pengobatan yang efektif atas kejadian ini. Wanita dengan usia diatas 35 tahun mempunyai kesuburan yang kurang dibandingkan dengan mereka yang berusia 20 tahun, angka kesuburan semakin menurun dengan bertambahnya usia. Wanita di atas 35 tahun juga lebih sering menderita keguguran dan melahirkan bayi dengan berat badan kurang. Semakin tua seorang ibu semakin besar kemungkinan hal ini terjadi. Tetapi timbulnya komplikasi yang serius relatif kecil, terutama bagi mereka dengan kesehatan diri dan perawatan kesehatan yang baik. Di dalam hal-hal yang diduga terdapat kemungkinan kelainan kromosom atau keabnormalan.

C.    Ciri – Ciri Down Syndrome
Ciri-ciri anak yang mengalami down syndrome dapat bervariasi, mulai dari yang tidak nampak sama sekali, tampak minimal, hingga muncul tanda yang khas. Tanda yang paling khas pada anak yang mengalami down syndrome adalah adanya keterbelakangan perkembangan mental dan fisik.
Penderita syndrome down biasanya mempunyai tubuh pendek dan puntung, lengan atau kaki kadang-kadang bengkok, kepala lebar, wajah membulat, mulut selalu terbuka, ujung lidah besar, hidung lebar dan datar, kedua lubang hidung terpisah lebar, jarak lebar antar kedua mata, kelopak mata mempunyai lipatan epikantus, sehingga mirip dengan orang oriental, iris mata kadang-kadang berbintik, yang disebut bintik “Brushfield”.
Berdasarkan tanda-tanda yang mencolok itu, biasanya dengan mudah kita dapat mengenalnya pada pandangan pertama. Tangan dan kaki kelihatan lebar dan tumpul, telapak tangan kerap kali memiliki garis tangan yang khas abnormal, yaitu hanya mempunyai sebuah garis mendatar saja. Ibu jari kaki dan jari kedua adakalanya tidak rapat. Mata, hidung, dan mulut biasanya tampak kotor serta gigi rusak. Hal ini disebabkan karena ia tidak sadar untuk menjaga kebersihan dirinya sendiri.

D.    Terapi Anak Down Syndrome
Terapi fisik yang digunakan untuk menangani anak-anak yang mengatasi kelainan down syndrome adalah dengan terapi treadmill, yaitu dengan cara melatih ibu atau pengasuh dan anak yang mengalami down syndrome. Ibu atau pengasuh anak down syndrome dilatih bagaimana cara yang tepat untuk melatih anak down syndrome agar dapat berjalan dan dapat melatih keterampilan motoriknya, misalnya bagaimana cara memegang bayi, melatih anak untuk duduk dan berjalan sendiri. Hal ini dilakukan karena anak-anak down syndrome seringkali mengalami keterbelakangan kemampuan motorik, seperti terlambat berdiri dan berlari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Palisano, dkk membuktikan bahwa 73% dari anak-anak down syndrome baru mampu berdiri pada usia 24 bulan, dan 40% bisa berjalan pada usia 24 bulan. Sehingga, terapi treadmill ini dilakukan agar dapat membantu anak-anak down syndrome dalam melatih keterampilan motoriknya.
Selain terapi fisik tersebut, dapat pula dilakukan beberapa intervensi sebagai penunjang dalam membantu perkembangan fisik dan psikologis anak-anak down syndrome, seperti intervensi berupa special education, menerapkan pendidikan khusus bagi anak-anak down syndrome, modifikasi perilaku, dan parenting skill bagi orang tua anak-anak down syndrome. Sehingga dengan adanya terapi fisik dan intervensi tersebut, diharapkan dapat membantu anak-anak down syndrome agar mereka dapat tetap berkembang dengan optimal, dan dapat beraktivitas, meskipun tidak seperti anak-anak normal lainnya.

















BAB III
HASIL OBSERVASI DAN WAWANCARA

A.    Hasil Observasi
Observasi kami laksanakan pada hari kamis tanggal 08 november 2012 pukul 10.00 wib di SLB Karya Asih JL. Margorejo Sawahan No.59E, dan memperoleh informasi-informasi sebagai berikut:
1.      Identitas Pasien
Nama                                                : Aditya Priambodo
Tempat, Tanggal Lahir          : Madiun, 01 Februari 1998
Jenis Kelamin                        : Laki - laki
Agama                                  : Islam
Urutan Kelahiran                  : Anak pertama dari tiga bersaudara
Tingkat pendidikan               : SD  Kelas 6 A

2.      Gambaran Umum Klien
SLB Karya Asih merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menangani anak dengan gangguan psikologis. Lembaga ini terletak di jl. Margerejo sawahan no. 59 E. Di lembaga inilah kami melakukan penelitian yang berbentuk observasi dan wawancara. Kami bertemu dengan subjek melalui perantara kepala sekolah dan juga guru. Subjek itu bernama Aditya Priambodo. Dia menderita down syndrome sejak bayi. Dia sejak usia 5 tahun  sampai sekarang sudah dimasukkan orang tuanya di sekolah SLB Karya Asih.
Pertama kali kita bertemu dengan subjek, dia sedang bermain dengan temannya dan kemudian kami langsung menghampirinya dan mengajaknya untuk berkenalan. Ketika kami mulai menanyakan tentang dirinya dia terlihat menunduk dan sesekali kedua matanya melirik kami dengan malu-malu sambil memberikan senyuman. Selain itu ia juga menunjukkan reaksi yang berbeda dengan anak normal ketika berhadapan dengan orang yang baru dia kenal.
Setelah itu kami menuju ruangan kelasnya yang didampingi dengan gurunya. Kondisi ruang kelas saat itu sangat panas karena luasnya tidak seperti kelas yang pada umumnya. fasilitas kelas hanya tersedia satu kipas angin kecil, empat meja, empat kursi, dan satu meja tempat untuk mainan. Di kelas subjek terlihat duduk sambil menundukkan kepalanya dan memainkan jari kedua tangannya. 
3.      Gambaran Fisik
Pada saat pertama kali bertemu dengan klien, klien kami sedang makan jajan dan ditangan kanannya memegang es. Penampilan dia rapi, dan dia memiliki ciri-ciri fisik diantaranya bentuk kepalanya yang relative kecil dengan bagian belakang yang mendatar atau peang, dia memakai kaca mata dan matanya terlihat sipit, bentuk hidung lebar dan datar, mulutnya selalu terbuka dan ujung lidahnya terlihat besar. Rambutya hitam pendek dan bagian depan agak menguncung kedepan, tangan dan kaki klien terlihat lebar dan tumpul, susunan gigi klien yang tidak beraturan, kulitnya putih. Klien suka menundukkan kepalanya sambil memaikan jari-jari tangannya.
Berat badan klien 50 kg dan tinggi 155, dari segi pakaian klien termasuk bersih dan rapi sesekali ada jatuhan jajan di bajunya dia dengan segera mengibas kotoran itu dengan tangannya.

B.     Hasil Wawancara
1.      Wawancara dengan Guru Pengasuh di sekolah
Dari hasil wawancara kami dengan guru pengasuh pada hari kamis tanggal 08 november 2012 diperoleh hasil bahwa klien mengalami mengalami gangguan down syndrome sejak lahir. Adapun kemampuan yang dimiliki klien kami sebagai berikut :
a.       Belum bisa mengenal huruf dan angka
b.      Hanya bisa menghitung angka 1 – 5
c.       Hanya bisa menulis jika diberi contoh.
d.      Mengalami gangguan penglihatan ( minus sejak 2 tahun yang lalu )
e.       Cara memegang pensil ataupun alat tulis lainnya masih kaku
f.       Dapat mengenali namanya sendiri.
g.      Sudah bisa mandiri. Contohnya bisa mandi sendiri, buang air besar dan kecil tanpa bantuan orang lain, bisa memakai pakaian sendiri, makan tanpa disuapin, beli jajan sendiri jika di sekolah.
h.      Mudah diajak bicara
i.        Kemauannya harus selalu dituruti,  jika tidak ia akan menangis
j.        Ketika belajar terkadang mudah memahami dan terkadang juga sangat sulit untuk memahami.
k.      Berbicaranya kurang lancar
l.        Belum mengenal mata uang
m.    Mengerti nama hewan dan faham suara hewan
Selain memiliki kemampuan di atas, guru pengasuh juga menjelaskan bahwasannya klien suka berjoged, menyanyi dan juga menggambar. Ketika klien sudah merasa bosan dengan pelajaran yang diberikan oleh guru pengasuhnya. Guru pengasuh itu member dia mainan. Dan mainan yang disukai klien adalah bermain puzzle. Dia paling jago bermain puzzle diantara teman-teman di kelasnya. klien juga tergolong anak yang penurut setiap guru pengasuhnya memerintahkan untuk melakukan sesuatu dia langsung melakukannya. Menurut pemaparan guru pengasuhnya klien masih belum bisa membaca dan mengenal warna. Ketika dia diajak berkomunikasi, diaberpikir lama terlebih dahulu sebelum dia mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan.
2.      Wawancara dengan orang tua
Berdasarkan hasil wawancara kami dengan orang tua klien pada hari selasa tanggal 13 november 2012 di rumah klien tepatnya di daerah Wonocolo Gg. 8 No. 55 diperoleh informasi bahwa selama kehamilan klien kami. Ibunya tidak mengalami keluhan dan gangguan-gangguan selama kehamilan. Setelah melahirkan orang tuanya belum menyadari bahwa anaknya mengalami gangguan down syndrome karena klien adalah anak pertama di keluarga itu. Meskipun mereka menyadari bahwa anaknya mengalami keterlambatan dalam semua perkembangan motoriknya mereka hanya mengira keterlambatan itu adalah keterlambatan yang wajar. Klien baru bisa berjalan di usia 2 tahun setengah. Pada waktu itu orang tuanya membawa dia kerumah sakit dr.Soetomo untuk terapi balon yaitu terapi agar bisa berjalan. Klien di bawa dua kali terapi namun karena keterbatasan biaya maka klien tidak dibawa lagi keterapi oleh orang tuanya dan hanya dilatih sendiri oleh ibunya dirumah.
Selain itu, ibunya juga menceritakan bahwa klien sangat dekat ayahnya. Jika ayahnya pulang kerja klien suka bermanja-manjaan dengan ayahnya. Meskipun dia memiliki keterbatasan tapi dia juga bisa membantu pekerjaan rumah seperti melipat baju. Ibunya juga mengatakan bahwa dia juga anak yang penurut, pada saat dia dirumah sendiri ibunya menyuruh dirumah saja dan pintu rumahnya di kunci. Dia menjalakan dengan baik perintah ibunya tadi. Dia tidak keluar rumah sampai ibunya dating. Ibunya juga mengatakan bahwa dia juga egois, kemaunna harus dituruti kalau tidak dituruti dia menangis.
Kebiasaan dia dirumah menonton tv, memutar music dangdut dan berjoget, bermain dengan adiknya, suka menggambar kartun komik punya adiknya. Kata ibunya klien juga anak yang mudah bergaul dengan teman-temannya. Setiap klien mendengar suara adzan, dia suka memerintah adiknya, ayahnya dan ibunya untuk bergegas shalat.
Selain itu klien juga suka makan, dan ibunya sangat memperhatikan pola makan dia karena ibunya takut kalau dia kelebihan berat bada (obesitas). ibunya mengatakan kalau dia tidak suka dengan kebiasaan klien yang suka “nggereng” (mengeluarkan suara aneh dan berisik). Meskipun dia memiliki kekurangan namun ornag tuanya tetap mengajarkan dia tentang agama yang mereka anut. Klien biasanya di ajak shalat berjamaah dirumah dan belajar mengaji.

C.    Kasus
1.      Deskripsi Problem
Subjek mengalami gangguan down sindrom sejak lahir. Oleh karena itu dilihat dari secara fisik menunjukkan ciri – ciri yang sama dengan penderita down sindrom lainnya. Gangguan down sindrom ini disebabkan oleh  kelainan susunan kromosom ke-21, dari 23 kromosom manusia. Pada manusia normal, 23 kromosom tersebut berpasang-pasangan hingga jumlahnya menjadi 46. Pada penderita down syndrome, kromosom nomor 21 tersebut berjumlah tiga (trisomi), sehingga totalnya menjadi 47 kromosom. Jumlah yang berlebihan tersebut mengakibatkan kegoncangan pada sistem metabolisme sel, yang akhirnya memunculkan down syndrome.
2.      Riwayat Problem
Klien menderita down sindron sejak lahir yang disebabkan oleh kelainan susunan kromosom ke 21, dari 23 kromosom manusia. Sejak lahir sampai klien berusia 2 tahun, Orang tuanya belum  mengetahui bahwa klien mengalami gangguan down syndrome. Kelainan tersebut diketahui sejak klien mengalami batuk pilek. Pada waktu itu, klien di bawa ke dokter spesialis anak, dan dokter mengatakan jika klien mengalami gangguan down sindrom.

D.    Terapi
Klien pernah di bawa orang tuanya ke RS. dr. Soetomo untuk terapi balon yaitu terapi dengan menggunakan balon besar sehingga klien dapat meloncat-loncat diatas balon tersebut. Namun terapi itu hanya dilakukan 2 kali saja karena biaya terapinya mahal dan orang tuanya tidak sanggup. Kemudian orang tuanya memutuskan untuk melatih sendiri dirumah. Selain usaha terapi fisik tersebut orang tua juga memasukan dia ke sekolah luar biasa karya asih dengan tujuan agar anaknya juga mengenal pendidikan dengan tujuan agar anaknya bisa berkembang secara optimal dan dan dapat beraktivitas, meskipun tidak seperti anak-anak normal lainnya.
Di sekolah klien juga mendapatkan pelatihan dari guru pengasuhnya yaitu pelatihan kemandirian. SLB Karya Asih lebih mengutamakan pendidikan kemandirian pada anak didiknya agar bisa hidup mandiri dan tidak selalu merepotkan orang lain. Dan dari pelatihan itu berdampak baik pada anak didiknya khusunya pada klien kami. Klien kamki sudah bisa mandiri. Diantaranya, dia sudah bisa mandi sendiri, makan sendiri, ke toilet sendiri dan juga bisa memakai baju seragamnya sendiri sebelum dia berangkat kesekolah.
































      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar