Muhammad Antoso


Selamat Datang di Blogs Antok Pemuda Sumenep Semoga Bermanfaat

Minggu, 27 November 2011

DILEMA


Ininlah waktu meniti ketakjuban
Paksaan hati dan diri mencari suatu arti
Hingga saat mati tak ada yang ku takuti
Nalar singgah di persimpangan
Memilih untuk kendalikan sebuah keputusan          
Kau yang berkilau di simpang kanan
Kau yang berwarna di samping kiri
Kau yang bermahkota di hadapan
Dan kau yang penuh kenangan ada di belakang
Aku harus melangkah
Bukan hanya menengadah
Tautkan impian dan kemampuan sebelum pasrah
Agar serpihan kisah tak hinggap sia-sia
Memutuskan pergi tak butuh sesumbar
Karna di sini petir siap menyambar
Ingin ku menyambangimu yang berkilau
Karna prestasi menjadi daya pukau
Lalu,…
“Enyahlah sang pemimpi!
Ini irama sakti yang belum mampu kau kuasai
Gitarnya polos tanpa dawai
Mustahil dipetik meski kau piawai
Sulingnya berlekuk tanpa lubang
Mustahil kau tiup meski seumur hidup
Dan lagu ini tanpa rangkaian nada
Hingga kau tak paham saat “ia” mengalun indah…serunya
Aku sang musisi jalang
Tak perlu gitar, suling, maupun barisan nada
Hanya keyakinan dan kesederhanaan
Yang elok dendangkan kebahagiaan
Di sinaran mentari yang masih suci
Ada irama pembaharuan untuk memulai hari
Di tangah panas dan terik
Ada nada untuk sebuah alunan romantik
Dan di senja penuh ketakjuban
Bibirku bernyanyi tentang keikhlasan …, kilah ku
Dengan segala kesejatian Mu ya Yang Maha Memberi Jalan
Ini saat ku menghentakkan kaki
Melangkah raih restumu yang hakiki
Persimpangan ini bukan untuk yang berkilau, bermahkota, dan penuh warna
Persimpangan ini untuk sebuah pertimbangan
Menyatukan keindahan untuk memulai perlawanan
Cacian dan ketakutan tak beralasan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar