Muhammad Antoso


Selamat Datang di Blogs Antok Pemuda Sumenep Semoga Bermanfaat

Rabu, 15 Agustus 2012

PROPOSAL PENELITIAN

PROPOSAL PENELITIAN
DESAIN OBSERVASI PERILAKU GAD
{ Generalized Anxiety Disorder / Gangguan Kecemasan Umum }
( Diajukan untuk memenuhi salah tugas dari mata kuliah Psikodiagnostik II )

 









Oleh:
Moh Antoso
B07210076

Dosen Pembimbing:
Nailatin Fauziyah

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2012

PROPOSAL PENELITIAN
DESAIN OBSERVASI PERILAKU GAD
{ Generalized Anxiety Disorder / Gangguan Kecemasan Umum }

I.                   TUJUAN
Tujuan dari observasi ini adalah untuk bisa mengetahui apakah subjek atau anak yang diobservasi termasuk dalam kategori perilaku GAD ( gangguan kecemasan umum ) atau tidak. Informasi hasil obsevasi ini diharapkan dapat memberikan masukan mengenai strategi pembelajaran yang akan diberlakukan pada subjek tersebut.
Observasi ini rencananya akan dilaksanakan selama satu minggu, yaitu mulai tanggal 21 – 27 Mei 2012.

II.                LANDASAN TEORI
Gangguan Kecemasan Umum ( GAD/Generalized Anxiety Disorder ) adalah suatu tipe gangguan kecemasan yang ditandai oleh perasaan cemas yang umum dan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi dan keadaan peningkatan keterangsangan tubuh. GAD biasanya ditandai oleh perasaan cemas yang persisten yang tidak dipicu oleh suatu objek, situasi, atau aktivitas yang spesifik, tetapi lebih merupakan apa yang disebut oleh Freud sebagai “mengambang bebas” ( free floating). Cirri utama dari GAD adalah rasa cemas ( Ruscio, Berkovec, & Ruscio, 2001 ). Orang dengan GAD adalah pencemas yang kronis. Mungkin mereka mencemaskan secara berlebihan keadaan hidup mereka, seperti keuangan, kesejahteraan anak-anak, dan hubungan sosial mereka. Menurut suatu studi, 9 dari 10 orang dengan GAD melaporkan kecemasan yang berlebihan bahkan mengenai hal-hal kecil ( Sanderson, & Barlow, 1990 ). Anak-anak dengan gangguan ini mencemaskan prestasi akademik, atletik, dan aspek sosial lain dari kehidupan sekolah. Ciri lain yang terkait adalah : merasa tegang, was-was, atau khawatir ; mudah lelah, mempunyai kesulitan konsentrasi atau menemukan bahwa pikirannya menjadi kosong, iritabilitas, ketegangan otot, dan adanya gangguan tidur, seperti sulit untuk tidur, untuk terus tidur, atau tidur yang gelisah dan tidak memuaskan. ( APA, 2000 ).
GAD cenderung merupakan suatu gangguan yang stabil, muncul pada pertengahan remaja sampai pertengahan umur 20-an tahun dan kemudian berlangsung sepanjang hidup ( Rapee, 1991 ). Prevalensi seumur hidup dari GAD pada populasi umum di Amerika Serikat diperkirakan sebanyak 5% ( APA, 2000 ). Gangguan ini muncul dua kali lebih banyak pada perempuan dibandingkan pada laki-laki ( APA, 2000 ; USDHHS, 1999a ).
Meskipun GAD secara tipikal kurang intens dalam respons fisiologisnya dibandingkan dengan gangguan panic, distress emosional yang diasosiasikan dengan GAD cukup parah untuk mengganggu kehidupan orang sehari-hari ( Wittchen dkk, 1994 ). GAD sering ada bersama ( comorbid ) dengan gangguan lain seperti depresi atau gangguan kecemasan lainnya seperti agoraphobia dan obsesif-kompulsif. ( Jeffrey dkk, 2003 ).
Orang-orang dengan GAD mungkin juga khawatir mengenai kinerja mereka dalam pekerjaan, mengenai jalannya hubungan persahabatan dan mengenai kesehatan mereka sendiri. mereka juga mengkhawatirkan isu-isu yang tidak penting, seperti apakah mereka akan terlambat memenuhi janji, apakah ahli tata rambut akan memotong rambut mereka dari sebelah kanan, atau apakah mereka akan memiliki waktu untuk mengepel lantai dapur sebelum tamu untuk makan malam datang. Focus kekhawatirannya bisa sering bergeser dan mereka cenderung mengkhawatirkan banyak hal dari pada satu hal tertentu saja. Orang-orang dengan GAD juga melaporkan bahwa mereka merasakan lelah untuk banyak waktu, sehingga memungkinkan untuk mengalami ketegangan otot yang kronis dan sukar tidur. ( Sutardjo, 2005 ).
Pada kasus ini, biasanya si penderita menunjukkan simtom-simtom atau gejala-gejala sebagai berikut :
1.      Senantiasa diliputi ketegangan, rasa was-was dan keresahan yang bersifat tak menentu ( diffuse uneasiness ).
2.      Terlalu peka ( mudah tersinggung ) dalam pergaulan, dan sering merasa tidak mampu, minder, depresi serba sedih.
3.      Sulit berkonsentrasi dan mengambil keputusan, serba takut salah.
4.      Rasa tegang menjadikan yang bersangkutan selalu bersikap tegang-lamban, bereaksi secara berlebihan terhadap rangsangan yang datang secara tiba-tiba atau yang tidak diharapkan, dan selalu melakukan gerakan-gerakan neurotik tertentu, seperti mematah-matahkan buku jari, mendeham, dan sebagainya.
5.      Sering mengeluh bahwa ototnya tegang, khususnya pada leher dan sekitar bagian atas bahu, mengalami diare, ringan  yang kronik, sering buang air kecil, dan menderita gangguan tidur berupa insomnia dan mimpi buruk.
6.      Mengeluarkan banyak keringat dan telapak tangannya sering basah.
7.      Sering berdebar-debar dan tekanan darahnya tinggi.
8.      Sering mengalami gangguan pernafasan dan berdebar-debar tanpa sebab yang jelas.
9.      Sering mengalami “anxiety attacks” atau tiba-tiba cemas tanpa ada sebab pemicunya yang jelas. Gejala-gejalanya dapat berupa berdebar-debar, sulit bernafas, berkeringat, pingsan, badan terasa dingin, terkencing-kencing, atau sakit perut.
Penderita semacam ini dapat ditolong dengan cara diberi obat-obatan tertentu untuk mengurangi rasa cemasnya untuk sementara. Selanjutnya perlu diberi konseling atau psikoterapi dengan tujuan menolongnya membedakan antara ancaman nyata dan khayalan, mempelajari cara-cara mengatasi persoalan yang efektif, dan mungkin perlu pula ditolong mengubah kondisi-kondisi di rumah yang dapat berakibat melestarikan gangguannya. Yang terakhir ini misalnya, mengajari anggota keluarga lain di rumah agar tidak memberinya perhatian yang berlebihan, atau memberinya perhatian secara tepat. ( Supratiknya, 2000 ).

III.             TINGKAH LAKU YANG DIHARAPKAN
Tingkah laku yang diharapkan muncul dari subjek dalam observasi ini yang akan dijadikan sebagai representasi perilaku GAD adalah sebagai berikut :
1.      Senantiasa diliputi ketegangan, rasa was-was dan keresahan yang bersifat tak menentu ( diffuse uneasiness ).
2.      Terlalu peka ( mudah tersinggung ) dalam pergaulan, dan sering merasa tidak mampu, minder, depresi serba sedih.
3.      Sulit berkonsentrasi dan mengambil keputusan, serba takut salah.
4.      Rasa tegang menjadikan yang bersangkutan selalu bersikap tegang-lamban, bereaksi secara berlebihan terhadap rangsangan yang datang secara tiba-tiba atau yang tidak diharapkan, dan selalu melakukan gerakan-gerakan neurotik tertentu, seperti mematah-matahkan buku jari, mendeham, dan sebagainya.
5.      Sering mengeluh bahwa ototnya tegang, khususnya pada leher dan sekitar bagian atas bahu, mengalami diare, ringan  yang kronik, sering buang air kecil, dan menderita gangguan tidur berupa insomnia dan mimpi buruk.
6.      Mengeluarkan banyak keringat dan telapak tangannya sering basah.
7.      Sering berdebar-debar dan tekanan darahnya tinggi.
8.      Sering mengalami gangguan pernafasan dan berdebar-debar tanpa sebab yang jelas.
9.      Sering mengalami “anxiety attacks” atau tiba-tiba cemas tanpa ada sebab pemicunya yang jelas. Gejala-gejalanya dapat berupa berdebar-debar, sulit bernafas, berkeringat, pingsan, badan terasa dingin, terkencing-kencing, atau sakit perut.

IV.             LEMBAR REKAMAN OBSERVASI
Terlampir

V.                KRITERIA PENILAIAN
Kriteria penilaian dalam observasi perilaku GAD mengacu pada skala KAPPA-PHI dengan 4 alternatif pilihan jawaban yang mengarah pada intensitas perilaku. Alternatif pilihan jawaban ini meliputi :
o   Sangat Sesuai
o   Sesuai
o   Kurang Sesuai
o   Tidak Sesuai
Adapun kode pada masing-masing alternatif jawaban adalah sebagai berikut :

Alternatif jawaban
Kode
Sangat Sesuai
SS
Sesuai
S
Kurang Sesuai
KS
Tidak Sesuai
TS


VI.             LITERATUR
ü  Nevid, Jeffrey S. 2003, Psikologi Abnormal, Erlangga, Jakarta.
ü  Supratiknya, Dr. A. 2000, Mengenal Perilaku Abnormal, Kanisius, Yogyakarta.
ü  Wiramihardja, Psi. Prof. Dr. Sutardjo A. 2005, Pengantar Psikologi Abnormal, Refika Aditama, Bandung.
ü  Azwar, Drs. Saifuddin. 1999, Penyusunan Skala Psikologi, PT. Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Lampiran
LEMBAR OBSERVASI
Perilaku GAD

Indikator
Penilaian
Catatan
SS
S
KS
TS
Senantiasa diliputi ketegangan, was-was, dan resah





yang tak menentu
Terlau peka / mudah tersinggung dalam pergaulan,





dan sering merasa tidak mampu, minder, depresi
Sulit dalam berkonsentrasi dan mengambil keputusan





Serba takut salah





Bereaksi secara berlebihan terhadap rangsangan





yang datang secara tiba-tiba / tak diharapkan
Melakukan gerakan-gerakan neurotik tertentu seperti mematah-matahkan buku jari, mendeham, dll





Mengeluh bahwa ototnya tegang, khususnya pada





leher, dan sekitar bagian atas bahu
Mengalami diare ringan yang kronik dan sering buang air kecil





Menderita gangguan tidur berupa insomnia dan mimpi buruk





Mengeluarkan banyak keringat dan telapak tangan-





nya sering basah
Sering berdebar-debar dan tekanan darahnya tinggi





Mengalami gangguan pernafasan tanpa sebab yang





Jelas
Tiba-tiba cemas tanpa ada sebab pemicunya yang





Jelas

Berikan tanda contreng  (  ) pada salah satu alternatif jawaban
Keterangan : SS = sangat sesuai ; S = sesuai ; KS = kurang sesuai ; TS = tidak sesuai

Surabaya,…Juni 2012
       Observer,

     Moh Antoso
    ( B07210076 )


ANALISIS FENOMENA SOSIAL “ TRAGEDI MOJOKERTO ” ( JUM’AT, 21 MEI 2010 )

1.      Mengapa di era yang mengedepankan demokrasi ternyata masih banyak orang-orang yang memaksakan kehendaknya, melalui berbagai bentuk agresi?

Sebelum kita bahas lebih dalam harus kita ketahui bahwa demokrasi yang di ada Negara tercinta kita ini hanyalah sebuah sistem atau alat yang dijadikan untuk memberikan ruang aspirasi atau kebebasan berpendapat bagi setiap individu. Dan setiap individu pasti mempunyai kecendrungan untuk mengedepankan kehendaknya sendiri pada orang lain atau kelompok, supaya pendapat atau kehendaknya bisa diterima. Sehingga dengan itu kalau masing-masing individu atau kelompok tidak memahami etika dan tata cara dalam berdemokrasi di Negara ini maka disaat aspirasi atau pendapatnya tidak diterima oleh yang lainnya dia akan melakukan hal apapun, dia akan tetap bersikeras memaksakan kehendaknya untuk bisa diterima dan dibenarkan oleh kelompok atau individu lain. Dan selain itu biasanya mereka juga tidak mau menerima pendapat orang lain. Sedangkan bagi mereka yang memahami dan tau pada etika tata cara dalam berdemokrasi, maka mereka akan menerima dengan lapang dada meskipun aspirasi dan pendapatnya tidak diterima oleh kelompok lain. Maka dari itu, selama masing-masing individu atau kelompok masih belum memahami tata cara dan etika dalam berdemokrasi di negeri Indonesia tercinta ini, yang namanya kekerasan dan pemaksaan kehendak akan terus terjadi sepanjang masa.
Disaat individu atau kelompok ingin memaksakan kehendaknya tidak mustahil dia akan melakukan berbagai bentuk agresi, termasuk rela melakukan apa saja demi untuk memperjuangkan pendapatnya. Sebab, setiap individu tidak akan lepas dengan yang namanya agresi. Sifat agresi sudah dibawa oleh masing-masing individu sejak lahir. Dan menurut Myers & Gerungan sifat agresi akan lebih kuat atau lebih besar jika terpengaruhi oleh lingkungan dan dalam jumlah yang banyak. Artinya, jika seorang individu atau kelompok berada dalam suatu organisasi atau kelompok-kelompok tertentu yang secara bersamaan memiliki tujuan yang sama maka itu akan lebih besar kemungkinannya untuk melakukan berbagai bentuk agresi. Maka dari itu tidak salah serta jangan heran  jika bangsa kita sampai saat ini masih banyak yang melakukan berbagai bentuk agresi demi memaksakan kehendaknya dlam berdemokrasi.
Pengetian dari agresi itu sendiri menurut Buss adalah suatu perilaku yang dilakukan untuk menyakiti, mengancam, dan membahayakan individu atau objek-objek tertentu yang menjadi sasaran, baik secara fisik atau verbal dan secara langsung maupun tidak langsung. Ada banyak faktor yang menyebabkan timbulnya agresi, diantara salah satunya menurut Gerungan dalam teori lingkungan adalah faktor frustasi. Dimana dalam teori itu mengatakan bahwa perilaku agresi dilakukan oleh orang-orang yang mengalami frustasi apabila maksud dan keinginan yang diperjuangkan secara intensif mengalami hambatan atau kegagalan.
Jadi jelaslah kenapa sampai sekarang ini masih banyak orang-orang yang memaksakan kehendaknya melalui berbagai bentuk agresi seperti yang terjadi pada kasus di Mojokerto tahun 2010. Itu semua disebabkan karena adanya rasa kecewa atau frustasi lantaran keinginan dan tujuannya tidak terpenuhi atau mengalami kegagalan.

2.      Mengapa pendukung K. H. Ahmad Dimyati Rosyid melakukan anarkisme, padahal mereka bukan keluarga atau famili dari Ahmad Dimyati Rosyid ( merek adalah orang lain )?

Dalam kehidupan ini antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya mempunyai sebuah ikatan, yaitu ikatan emosional. Dimana dengan ikatan emosional itu antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya bisa menjalin hubungan kekerabatan yang erat, saling membantu sama lain, dan saling melengkapi di dalam memperjuangkan kehidupan bermasyarakat ini. Ikatan emosional ini terjadi tidak hanya diikat atau dilatarbelakangi oleh faktor keluarga ( ikatan darah ) saja, melainkan banyak lagi faktor lainnya seperti kelompok-kelompok tertentu, partai, organisasi, profesi, suku, dan agama. Nah, dengan ikatan emosional ini jika dalam suatu kelompok tertentu ada salah satu anggota yang mengalami permasalahan maka secara otomatis anggota kelompok yang lainnya akan membantu memberikan dukungan dalam menyelesaikan masalah tersebut. Contoh, jika salah seorang karyawan suatu pabrik dianiaya atau diberlakukan tidak adil oleh atasannya maka otomatis teman karyawan lainnya akan membantu memperjuangkan semua itu. Sama halnya seperti yang terjadi pada kasus di Mojokerto dimana para pendukung cabup K. H. Ahmad Dimyati Rosyid meskipun bukan keluarganya mereka tetap ngotot tidak terima dan kecewa terhadap keputusan tidak lolosnya cabup Dimyati. Sehingga mereka melakukan aksi yang anarkis demi menyampaikan rasa kekecewaannya kepada para pejabat di kantor DPRD. Itu semua hanya karena ada keterikatan emosional antara para pendukung cabup Dimyati dengan kru Dimyati dalam satu kelompok, baik itu organisasi maupun partai politik.
Namun yang jadi pertanyaan lagi, mengapa mereka para pendukung Dimyati harus bertingkah anarkis? Menurut Coser konflik ada dua macam, yaitu konflik realistis dan konflik non-realistis. Pengertian dari konflik realistis adalah konflik yang berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan-tuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan, dan yang ditujukan pada objek yang dianggap telah mengecewakan. Seperti apa yang telah dikatakan oleh Lewis A. Coser dalam teori konfliknya bahwa peristiwa atau fenomena yang terjadi di Mojokerto masuk dalam kategori konflik secara social. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa peristiwa  yang terjadi di Mojokerto adalah konflik realistis, dimana peristiwa itu terjadi karena adanya kekecewaan para pendukung Dimyati terhadap KPU Mojokerto yang tidak meloloskan pasangan Dimyati dalam pilkada. Sehingga dengan rasa kecewa itulah tindakan anarkis terjadi.










~SEKIAN~
~GO ON SUCCESS~

Senin, 09 Juli 2012

BIOGRAFI AT-THABARI



                                                                                          

A. Nama dan Tempat Lahir
Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir seorang imam, ulama’ dan mujtahid, ulama’ abad ini, kunyahnya Abu Ja’far Ath Thobari. Beliau dari penduduk Aamuly, bagian dari daerah Thobristan, karena itulah sesekali ia disebut sebagai Amuli selain dengan sebutan yang masyhur dengan at-Thabari. Uniknya Imam Thabari dikenal dengan sebutan kuniyah Abu Jakfar, padahal para ahli sejarah telah mencatat bahwa sampai masa akhir hidupnya Imam Thabari tidak pernah menikah.[1] Beliau dilahirkan pada akhir tahun 224 H awal tahun 225.
Para sejarawan yang menulis biografi al-Thabari tidak banyak  menjelaskan kondisi keluarga ulama besar ini. Hanya saja, dari sumber yang sangat terbatas tersebut dapat disimpulkan bahwa keluarga al-Thabari tergolong sederhana, kalau tidak dikatakan miskin, namun ayahnya sangat mementingkan pendidikan putranya tersebut, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti.
Jika melihat factor lingkungan ketika masa hidup Imam Thabari, maka di masa tersebut adalah masa dimana tradisi keilmuan Islam mengakar kuatm terbukti dengan munculnya sejumlah ulama besar dari daerah Amul, seperti Ahmad bin Harun al-Amuli, Abu Ishaq bin Basyar al-Amuli, Abdullah bin Hamad al-Amuli dan ulama besar lainnya.[2]
Selain factor lingkungan, factor keluarga juga sangat berperan penting dalam menumbuhkan semangat mencari ilmu pada diri Imam Thabari. Beliau pernah bercerita dihadapan murid-muridnya tentang dukungan ayahnya, Jabir bin Yazid kepadanya dalam menuntut ilmu dan pengalamannya di masa kanak-kanak, Ibnu Jarir berkata: “Aku sudah hafal Al Qur’an ketika aku berumur 7 tahun, dan sholat bersama manusia (jadi imam) ketika berumur 8 tahun, dan mulai menulis hadist ketika berumur 9 tahun, dan ayahku bermimpi, bahwa aku berada di depan Rosululloh dengan membawa tempat yang penuh dengan batu, lalu aku lemparkan didepan Rosululloh. Lalu penta’bir mimpi berkata kepada ayahku: “Sekiranya nanti beranjak dewasa dia akan berguna bagi diennya dan menyuburkan syare’atnya, dari sinilah ayahku bersemangat dalam mendidikku.[3]
Beliau banyak bersafar dan berguru dengan ahli sejarah, beliau juga salah seorang yang memiliki banyak disiplin, cerdas, banyak karangannya dan dan belum ada yang menyamainya.
B. Masa Belajar, Guru-guru dan Murid-muridnya
Beliau banyak bersafar dan berguru dengan ahli sejarah, beliau juga salah seorang yang memiliki ilmu banyak, dan cerdas, banyak karangannya dan belum ada yang menyamainya.
Banyak kota-kota yang ia singgahi sampai ia tidak puas dengan hanya memasukinya sekali, ia masuk ke kota tersebut beberapa kali untuk memuaskan hasrat keilmuannya, di antara kota-kota tersebut adalah Baghdad, di kota ini ia mengambil mazhab Syafi’iyyah dari Hasan Za’farani, kemudian Bashrah, di kota ini ia belajar hadits kepada Abu Abdullah as-Shan’ani, lalu di Kufah, di sana ia belajar ilmu puisi kepada Tsa’lab dan masih banyak lagi kota lainnya seperti Mesir, Beirut dan Damaskus. Pada akhirnya Imam Thabari sempat pulang ke tanah kelahirannya di Thaburstan pada tahun 290 H, tapi tak lama kemudian kembali ke Baghdad dan menjadikannya tempat persinggahan terakhir untuk mencurahkan seluruih aktifitas ilmiyahnya hingga beliau wafat.
Guru beliau 40 orang lebih, diantaranya: “Muhammad bin Abdul Malik in Abi Asy Syawarib, Ismail bin Musa As Suddi, Ishaq bin Abi Isroil, Muhammad bin Abi Ma’sar, Muhammad bin Au fat-Tha’i, Musa bin Sahal ar-Ramali, Muhammad bin Abdullah dan yang lainnya. (didalam tafsir beliau didapatkan, bahwa guru beliau berjumlah 62 guru).
Imam al-Nawawi menambahkan sejumlah nama guru al-Thabari lainnya, terutama mereka yang juga menjadi guru al-Bukhari dan Muslim dalam bidang hadits, seperti Abd al-Malik ibn Abu al-Syawarib, Ahmad ibn Mani` al-Baghawi, al-Walid ibn Syuja`, Abu Kuraib Muhammad ibn al-`Ala’, Ya`qub ibn Ibrahim al-Dauraqi, Abu Sa`id al-Asyaj, `Amr ibn Ali, Muhmmad ibn al-Mutsanna dan Muhammad ibn Yasar.[4]
Karena kedalaman ilmu Imam ath-Thabari, maka wajar saja bila orang-orang ketika itu berlomba untuk menampung samudera ilmu yang terpancar dari beliau. Di antara sekian banyak ulama yang mengambil ilmu dari beliau : Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Nashr, Ahmad bin Qasim bin Ubaidillaah bin Mahdi, Sulaiman bin Ahmad bin Ayub al-Lakhmi, Muhammad bin Ahmad bin Hamdan bin Ali.
Teman-teman dari Ibnu Jarir ath-Thabari, di antaranya : Ahmad bin Abdullah bin Ahmad al-Farghani,ia juga meriwayatkan karangan dari Ibnu Jarir, di antara karangan al-Faraghani adalah Sirah al-Aziz Sulthan al-Mishr dan kitab Sirah Kafur al-Ihsyidi. [5], Ibnu Yazid Abi Bakar al-Qardhi, yang menjadi hakim di daerah Kufah, di antara karangannya adalah kiab Gharib al-Quran, kitab al-Qiraat, kitab at-Taqrib fi Kasyfi al-Gharib, dan kitab al-Mukhtashar fi al-Fiqh.
C. Mobilitas, Aktivitas dan Hasil Karyanya
Al-Thabari dapat dikatakan sebagai ulama multi talenta dan menguasai berbagai disiplin ilmu. Tafsir, qira’at, hadits, ushul al-din, fiqih perbandingan, sejarah, linguistik, sya`ir dan `arudh (kesusateraan) dan debat (jadal) adalah sejumlah disiplin ilmu yang sangat dikuasainya. Namun tidak hanya ilmu-ilmu agama dan alat, al-Thabari pandai ilmu logika (mathiq), berhitung, al-Jabar, bahkan ilmu kedokteran.
Penguasaan al-Thabari terhadap berbagai disiplin ilmu ini menjadi catatan sendiri para ulama sepanjang masa, sehingga tidak heran sederet predikat dan sanjungan disematkan kepadanya. Al-Khathib al-Baghdadi (w.463H) salah satunya. Dalam kitab Tarikh Baghdad, ia menyatakan, “Al-Thabari adalah seorang ulama paling terkemuka yang pernyataannya sangat dipehitungkan dan pendapatnya pantas menjadi rujukan, karena keluasan pengetahuan dan kelebihannya. Ia menguasai berbagai disiplin ilmu yang sulit ditandingi oleh siapa pun di masa itu”.
Pengakuan terhadap keilmuan al-Thabari tidak hanya datang dari para ulama lintas generasi sesudahnya yang mengkaji dan meneliti karya-karya  besarnya, seperti Ibn al-Atsir (w.630H), al-Nawawi (w.676H), Ibn Taimiyah (w.728H), al-Dzahabi (w.748H), Ibn Katsir (w.774H), Ibn Hajar al-`Asqalani (w.852H), al-Suyuthi (w.911H) dan lain-lain. Tapi para ulama yang hidup satu generasinya juga tidak kurang menyatakan kekaguman dan pujiannya, di antara pujian mereka terhadap Imam thabari adalah sebagai berikut :
Abu Sa’id berkata: “Muhammaad bin Jarir berasal dari daerah Aamal, menulis di negri mesir. Lalu pulang ke Bagdad, dan telah mengarang beberapa kitab yang monumental, dan itu menunjukkan luasnya ilmu beliau. »
Al Khotib berkata: “Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Gholib: “Beliau adalah salah satu Aimmah Ulama’ (sesepuh ulama’), perkataannya bijaksana dan selalu dimintai pendapatnya karena pengetahuannya dan kemulyaannya. Beliau telah mengumpulkan ilmu-ilmu yang tidak penah ada seorangpun yang melakukannya semasa hidupnya. Beliau adalah seorang Hafidz, pandai ilmu Qiro’at, ilmu Ma’ani faqih tehadap hukum-hukum Al Qur’an, tahu sunnah dan ilmu cabang-cabangnya, serta tahu mana yang shohih dan yang cacat, nasikh dan mansukhnya, Aqwalus Shohabah dan Tabi’in, tahu sejarah hidup Manusia dan keadaanya. Beliau memiliki kitab yang masyhur tentang “sejarah umat dan beografinya” dan kitab tentang “tafsir” yang belum pernah ada mengarang semisalnya dan kitab yang bernama “Tahdzibul Atsar” yang belum pernah aku (Imam Adz Dzahabi) lihat semacamnya, namun belum sempurna. Beliau juga punya kitab-kitab banyak yang membahas tentang “Ilmu Ushul Fiqih” dan pilihan dari aqwal para Fuqoha’.[6]
Imam Adz Dzahabi berkata: “Beliau adalah orang Tsiqoh, jujur, khafidz, sesepuh dalam ilmu tafsir, imam (ikutan) dalam ilmu fiqh, ijma’ serta (hal-hal) yang diperselisihkan, alim tentang sejarah dan harian Manusia, tahu tentang ilmu Qiro’at dan bahasa, serta yang lainnya.
Al Khotib berkata: “Aku mendengar Ali bin Ubaidillah bercerita: “Sesungguhnya Muhammad bin Jarir dirumah selama 40 tahun, setiap harinya beliau menulis 40 lembar.[7]
Al Qodhi Abu Abdillah Al Qudho’i: “Ali bin Nashir bin Ash Shobah telah menceritakan kepada kami, Abu Umar Uabidillah bin Ahmad As Simsar, dan Abul Qosim Al Waroq: “Bahwa ibnu Jarir At thobari berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Bagaimana pendapat kalian, bila aku akan menulis tentang sejarah alam dari sejak Adam sampai sekarang ini? Mereka bertanya: “Berapa banyakkah itu? Maka beliau menjawab, kira-kira 30 ribu lembar, lalu mereka berkata: ” kalau begitu umurmu akan memutus pekerjaanmu sebelum engkau bisa menyempurnakannya? Lalu beliau sadar, dengan berkata: “Innaalillah! Lalu beliau mengurungkan niatnya. Kemudian beliau ringkas karangan itu sebanyak 3000 lembar, dan ketika beliau ingin membuat tafsir, berkata kepada mereka seperti itu.[8]
Beliau adalah seorang laki-laki yang mempunyai ilmu yang sangat luas, maka tidak heran jika karangan beliau tak bisa dihitung hanya dengan waktu 1000 detik. Namun sangat disayangkan, mayoritas kitab beliau hilang dan tidak sampai kepada kepada kaum muslimin kecuali hanya sedikit. Dan hasil karya Imam Thabari antara lain:
1.                       1. Kitab Adabul Qodho’ ( Al Hukkam)
2.                       Kitab Adabul Manasik
3.                       3. Kitab Adab an-Nufuus
4.                       Kitab Syarai’al-Islam
5.                       Kitab Ikhtilaful Ulama’ atau Ikhtilaful Fuqoha’ atau Ikhtilafu Ulama’il Amshor fie Akhkami Syaroi’il Islam.
6.                       Kitab Al Basith, tentang kitab ini beliau Imam Adz Dzahabi berkata: “Pembahasan pertama adalah tentang thoharoh, dan semua kitab itu berjumlah 1500 lembar.
7.                       7. Kitab Tarikhul Umam wal Muluk (Tarikhul Rusul wal Muluk)
8.                       Kitab Tarikhul Rijal minas Shahabah wat Tabi’in.
9.                       Kitab at-Tabshir.
10. Kitab Tahdzib Atsar wa Tafsiilust Tsabit ‘Ani Rasulullah Saw Minal Akhbar. Az-Zahabi ketika mengomentari kitab ini mengatakan bahwa kitab ini termasuk salah satu kitab istimewanya Ibnu jarir, dimulai dengan sanad yang shadiq, lalu bebicara pada Ilal, thuruq dan fiqih hadits, ikhtiklaf ulama serta hujjah mereka, dalam kitab ini juga disebutkan makna-makna asing serta bantahan kepada Mulhiddin, kitab ini menjadi lebih sempurna lagi dengan adanya sanad al-Asyrah, Ahlu al-Bait, al-Mawali dan beberapa sanad dari Ibnu Abbas, dan kitab ini belum selesai pada akhir kematiaannya, lalu ia mengatakan: jika saja kitab ini dkteruskan, niscaya bisa sampai beratus-ratus jilid. [9]
11.  Kitab Al Jaami’ fiel Qira’at
12.  Kitab Haditsul Yaman
13.  Kitab Ar Rad ‘Ala Ibni ‘Abdil Hakim
14.  Kitab az- Zakat
15.  Kitab Al ‘Aqidah
16.  Kitabul fadhail
17.  Kitab Fadhail Ali Ibni Thalib
18.  Kitab Mukhtashar Al Faraidz
19.  Kitab Al Washaya,
Dan masih banyak lagi kitab-kitab beliau yang tidak kami sebutkan disini.[10]
Selain banyaknya bidang keilmuan yang disentuh, bobot karya-karya  al-Thabari sangat dikagumi para ulama dan peneliti. Al-Hasan ibn Ali al-Ahwazi, ulama qira’at, menyatakan, “Abu Ja`far [al-Thabari] adalah seorang ulama fiqih, hadits, tafsir, nahwu, bahasa dan `arudh. Dalam semua bidang tersebut dia melahirkan karya bernilai tinggi yang mengungguli karya para pengarang lain”.[11]
D. Akhlaq dan Perilaku Imam Thabari
Imam Thabari bukan berasal dari keluarga yang mapan atau kaya, hal ini bisa dibuktikan dengan bekal dari orang tuanya yang ketika dicuri ia tidak dapat menggantinya lagi. Begitujuga kisah kelaparan yang dia alami selama di Mesir dan kiriman orang tuanya yang dikirim terlambat, sehingga ia terpaksa menjual pakaiannya.[12] Al-Farghani menyebutkan perkataan Imam at-Thabari berkata; suatu ketika kiriman dari orang tuaku telat, hingga aku terpaksa merobek kedua lengan bajuku untuk kemudian aku jual. Selanjutnya Imam Thabari menuliskan keadaannya tersebut dalam sebuah puisi:
”Ketika aku kesusahan kawanku tak mengerti
Aku berusaha merasa kaya, hingga kawanku menganggap aku kaya
Rasa maluku menjaga air mukaku, kelembutanku membuat kawanku mencariku
Jika saja aku sia-siakan air mukaku, niscaya jalan kepada kepopuleran akan mudah
Dua sifat yang tidak rela aku melewatinya
Sombongnya sifat kaya dan hinanya kemelaratan
Ketika kau kaya janganlah kau sombong lagi ceroboh
Jika kau melarat maka sombongilah waktu”
Hal ini cukup menguatkan kesimpulan bahwa kehidupan Imam Thabari  cukup memprihatinkan.
Keterbatasan ekonomi tersebut tidak lantas melunturkan semangat Imam  Thabari dalam menuntut ilmu, di awal keberadaannya di Baghdad, at-Thabari berusaha mengatasai persoalan ini dengan mengajar anak menteri Abu Hasan bin Khaqan, itupun dengan kesep[akatan tidak menganggu waktu belajar Imam Thabari, dari pekerjaan barunya, Imam Thabari menerima upah 10 dinar setiap bulan dan mendapat pinjaman 10 dinar untuk modal pertama.[13]
Gaya hidup sederhana dan bersahaja ini terus ia tanam hingga akhir hayatnya, Menteri al-Khaqani pernah pernah menawarkan jabatan Hakim Daulah Abbassiyah kepadanya, tapi ia tolak. Tidak hanya itu, at-Thabari juga menolak hadiah 1000 dinar dari menteri Al-Abbas bin Hasan atas buku yang ia buat, al-Khafif.
Kedudukan yang begitu terhormat ini tidak lantas merubah gaya hidupnya, malahan ia tetap berusaha hidup sederhana dengan mengandalkan uang dari hasil panen yang ditinggalkan ayahnya di Thaburstan, padahal jika mau, ia bisa hidup dalam gelimang kemewahan, ia menggubah jalan hidupnya ini dalam sebuah puisi yang menarik untuk kita simak.
Ketika aku kesulitan uang
Tidak satupun sahabatku yang tahu
Tapi ketika aku punya uang
Sahabatku ikut merasakan kesenanganku
Rasa malu menjaga air mukaku
Rasa enggan meminta adalah sifatku
Andai saja aku tepis rasa malu
Jalan menjadi kaya terlalu mudah bagiku.
E. Penghargaan Ulama Terhadap Hasil Karya al-Imam at-Thabari
Banyak didapati pengakuan terhadap Imam Thabari dalam usahanya mengembangkan Tafsir, seperti berikut ini:
Imam An Nawawi dalam Tahdzibnya mengemukakan: “Kitab Ibnu Jarir dalam bidang tafsir adalah sebuah kitab yang belum seorangpun ada yang pernah menyusun  kitab yang menyamainya.[14] Beliau juga pernah mengatakan: “”Umat telah bersepakat tidak ada yang menyamai tafsir beliau ini.” [15]
Imam as-Suyuthi, seorang mufasir menyatakan seperti berikut: “Kitab ibnu Jarir adalah kitab tafsir paling agung (yang sampai kepada kita). Didalamnya beliau mengemukakan berbagai macam pendapat dan mempertimbangkan mana yang lebih kuat, serta membahas I’rob dan istimbat. Karena itulah ia melebihi tafsir-tafsir karya para pendahulu.” [16]
Syaikh Islam Ibnu Taimiyah telah memuji Imam Thabari, antara lain mengatakan: “Adapun tafsir-tafsir yang ditangan manusia, yang paling dahulu adalah tafsir Ibnu Jarir Ath thobari, bahwa beliau (Ibnu jarir) menyebutkan perkataan salaf dengan sanad-sanad yang tetap, dan tidak ada bid’ah sama sekali, dan tidak menukil dari orang yang Muttahim, seperti Muqotil bin Bakir[17] dan Al Kalbi.” [18]
As-Suyuthi telah meneliti thabaqah mufasir sejak awal kemunculan ilmu ini, dan ketika sampai pada Abu Jafar, ia menempatkannya pada thabaqah (tingkatan) yang pertama, kemudian ia berkata: “jika engkau bertanya: Tafsir apa yang engkau sarankan dan dijadikan sebagai bahan rujukan? Maka aku katakan: Tafsir Ibnu Jarir, yang para ulama telah bersepakat bahwa belum ada kitab tafsir yang semisalnya.” [19]
Abu Muhamamad Abdullah bin Ahmad bin Jafar al-Farghani mengatakan bahwa ia pernah bermimpi  mengikuti Majlis ilmu Abu Jafar dan manusia kala itu sedang membaca kitab Tafsir Ibnu jarir, lantas aku mendengar suara dari antara langit dan bumi yang mengatakan: Barangsiapa ingin mendengarkan al-Quran sebagaimana ia turun, maka dengarkanlah kitab ini. [20]
F. Mazhab dan Aqidah Imam ath-Thabari
Al Faroghi berkata: “Harun bin Abdul Aziz bercerita kepadaku:” Abu Ja’far At Thobari berkata: “aku memilih Madzhab imam Syafi’I, dan aku ikuti beliau di Bagdad selama 10 tahun
As Suyuthi berkata dalam kitab “Thobaqotul Mufassirin” hal: 3: “Pertama, beliau bermadzhab Syafi’I, lalu membuat madzhab sendiri, dengan perkataan-perkataan dan petikan-petikan sendiri, dan beliau mempunyai pengikut yang  mengikutinya. Dan aqidahnya adalah Aqidah Salaf as-Shalih
Imam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawanya mengatakan bahwa Imam Thabari adalah imam Ahlu Sunnah, hal ini beliau katakan ketika membahas mengenai al-Quran kalamullah.
Imam Ibnu Qayyim mengatakan, yang maknanya adalah bahwa Imam Thabari adalah Ahlu Sunnah. Hal ini dapat diketahui dari tulisan beliau Sharih as-Sunnah. Dan masih banyak lagi pernyataan para ulama mengenai aqidah beliau.