Muhammad Antoso


Selamat Datang di Blogs Antok Pemuda Sumenep Semoga Bermanfaat
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 September 2013

BUDAYA “ATER-ATER” (Bagi-Bagi Makanan/Kue) DI KALANGAN MASYARAKAT MADURA


A.      Pengertian Budaya
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstraks, dan luas. Banayak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unusur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Karena sangat kompleksnya budaya maka sangat banyak sekali pengertian budaya yang ditulis oleh para ilmuan yang mempelajari tentang budaya, diantaranya adalah sebagai berikut: budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu budhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa inggris kebudayaan disebut culture yang berasal kata latin colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.
Kebudayaan dalam Psikologi adalah seperangkat sikap, nilai, keyakinan, perilaku yang dimiliki oleh sekelompok orang, namun ada derajat perbedaan pada setiap individu, dan dikomunikasikan dari 1 generasi ke generasi berikut (Matsumoto,1996).
  Budaya sebagai konstruk social :tidak pernah lepas dari pengertian suatu kelompok merupakan kekhasan yang membedakan kelompok satu dengan kelompok lain.
  Budaya sebagai konstruk individu :ada variasi derajat internalisasi setiap individu anggota kelompok budaya (perbedaan individual).
   Dari pengertian ini, berarti hampir seluruh tindakan manusia adalah kebudayaan. Karena hanya sedikit tindakan manusia yang berasal dari naluri tanpa melalui proses belajar. Misalnya, tindakan makan. Makan sebenernya naluri manusia untuk bertahan hidup. Akan tetapi, setelah diselipi kebudayaan muncul cara-cara makan yang berbudaya, sopan, pantas, atau sesuai dengan estetika.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah culture determinisme.
Herkovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai social, norma social, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur social, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi cirri khas suatu masyarakat. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, adat-istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemadji, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi system idea tau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi social, religi, seni dan lain-lain  yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Kebudayaan merupakan sesuatu yang sangat komplet, yang tidak ada habisnya untuk didiskusikan, Karena budaya hal yang dinamis bukan sesuatu yang stagnan, selama manusia berada di atas bumi ini maka kebudayaan akan terus berkembang.


B.       Budaya Madura
Pulau Madura terdiri dari empat kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Terletak di timur laut pulau Jawa dengan kodinat sekitar 7 lintang selatan dan antar 112 dan 114 bujur timur. Panjang pulau Madura kurang lebih 190 km, jaraj terlebar 40 km, dan luas secara keseluruhan 5.304 km2. Ketinggian dari permukaan laut berkisar antara 2 meter-350 meter. Ketinggian paling rendah adalah daerah-daerah pantai baik di bagian barat, utara, timur dan selatan. Sedangkan ketinggian tertinggi menyebar di bagian tengah pulau berupa pegunungan-pegunungan kecil. Pulau ini dikelilingi pulau-pulau kecil yang jumlahnya lebih dari 100 buah pulau, baik yang berpenghuni maupun tidak. Kebanyakan pulau kecil ini berada di bagian timur yaitu daerah Sumenep.
Walaupun Madura hanya terdiri dari empat kabupaten, dilihat dari aspek budaya yang dianut dan dijadikan standar dalam berperilaku tidak ada perbedaan antar warga masyarakat Madura yang mendiami empat kebupaten tersebut. Madura dikenal dengan keunikan dan kekhasan budayanya. Penggunaan istilah khas disini menunjuk pada pengertian bahwa entitas etnik Madura memiliki kekhususan cultural yang tidak serupa dengan etnografi komunitas etnik lain.
Latief Wiyata mengatakan bahwa kekhususan kultur itu tanpak antara lain pada ketaatan, ketundukan, kepasrahan mereka secara hirarkis kepada empat figur utama dalam kehidupan, lebih-lebih dalam praksis keberagamaan. Keempat figure itu adalah buppak, ebuh, guru dan rato (ayah, ibu, guru, dan pemimpin). Kepada empat figur utama itulah kepatuhan hirarkis orang-orang Madura menampakkan wujudnya dalam kehidupan social budaya mereka.
Madura memiliki kekayan tradisional yang amad banyak, beragam dan amad bernilai. Dalam menghadapi dunia global yang membawa pengaruh materialisme dan pragmatisme, kehadiran kesenian tradisional dalam hidup bermasyarakat di Madura sangat diperlukan, agar kita tidak terjebak pada moralitas asing yang bertentangan dengan moralitas lokal atau jati diri bangsa. Kita sebagai orang Indonesia harus mengenal budaya Madura yang masih hidup, bahkan yang akan dan tekah punah. Pengenalan terhadap berbagai macam kebudayaan Madura tersebut akan diharapkan mampu menggugah rasa kebangsaan kita akan kesenian daerah.
Madura dikenal sebagai wilayah yang tandus namun kaya akan kebudayaan. Kekayaan budaya yang terdapat di Madura dibangun dari berbagai unsur budaya bai dari pengaruh animisme, hinduisme, dan islam. Perkawinan dari ketiga unsur tersebut sangat dominan mewarnai kebudayaan yang ada. Dalam perkembangannya berbagai kesenian yang bernafaskan religius, terutama bernuansa islami ternyata lebih menonjol. Keanekaragaman dan berbagai bentuk seni budaya tradisional yang ada di Madura menunjukan betapa tinggi budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Kebudayaan yang berisi nilai-nilai adiluhur yang berlandaskan nilai religius islami seharusnya dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi muda sebagai penerus warisan bangsa. Budaya lokal adalah asset kekayaan yang akan mampu melindungi generasi muda dari pengaruh negativ era globalisasi. Pengaruh budaya global yang demikian gencar melalui media elektronik dan media cetak menyebabkan generasi muda kehilangan jati diri.
Kebudayaan-kebudayaan yang ada di Madura yag masih lekat dan dilestarikan antara lain:
a.      Ater-ater
b.      Kerapan Sapi
c.       Sapi sonok
d.      Jeren kencak
e.       Musik Seronen
f.        Otok-otok/Aremuh
g.      Sandur
h.      Tari Duplang
i.        Arokat
j.        Arasol makam
k.       Jeklorjuk
l.        Arokat Disah
m.    Amaleman
n.      Nyanguih
o.      Namapanih
p.      Akosar

C.      Budaya Ater-Ater
Terdapat tradisi yang unik, mengesankan, dan agak sulit kita temukan di tempat selain di Madura atau paling tidak di masyarakat Madura. Tradisi tersebut adalah budaya Ater-ater. Ater-ater ini adalah sebentuk tradisi masyarakat Madura terutama di pedalaman dan grass root yang paling banyak ditemui ketika ada hajatan, selametan dalam segala macamnya, hari raya keagamaan, tasyakuran, dan lain sebaginya. Hari keagamaan disini berupa hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, hari raya Ketupat, Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra’Mi;raj, Sa’banan (tanggal 15 bulan Sa’ban), malam 21 dan 27 pada bulan Ramadhan, dan peringatan hari-hari tertentu orang yang telah meninggal (malam ke 3, 7, 40 hari, 100 hari, tahunan, dan 1000 hari). Sedangkan mengenai macam-macam hajatan atau selamatan itu sendiri berupa acara pernikahan, acara lamaran, tasyakuran hasil panen, selamatan wanita yang baru hamil pertama kali (ketika umur 7 bulan), Asyuroan (biasanya masyarakat Madura ketika masuk bulan Asyuro mengadakan selamatan dengan membuat bubur khas Madura), selamatan bulan Safar (masyarakat Madura mengadakan selamatan dengan membuat bubur merah), dan banyak lagi yang lainnya. Bahkan, ada pula yang rutin setiap minggu pada malam Jum’at. Hanya saja biasanya banyak dilakukan kepada guru ngaji dan sebagainya.
Kegiatan ater-ater ini diaplikasikan dengan menghantarkan barang (terutama makanan) pada sanak keluarga atau tetangga yang ada di sekitar. Namun tidak jarang tradisi ini juga dilakukan dan tujukan pada sanak saudara yang jauh.
Bagi kalangan masyarakat Madura, ater-ater merupakan tradisi yang telah turun-temurun. Hal ini dilakukan untuk menyambung dan mempererat tali silaturrahmi antar keluarga atau tetangga. Budaya tersebut sudah turun temurun warisan dari nenek moyang yang sampai saat ini tetap dilestarikan oleh generasi muda. Ter-Ater itu yakni saling tukar atau mengantarkan nasi lebaran ke sanak famili atau kepada tetangga baik yang dekat maupun yang jauh yang diyakini akan memperlancar rejeki serta memperpanjang usia dan di jauhkan dari mara bahaya.
Bapak Ibnu Hajar, salah satu seorang budayawan Madura menjelaskan bahwa budaya Ter-Ater nasi lebaran yang diantarkan lengkap dengan ikan dan lauk serta kuahnya. Budaya itu di lakukan saat menyambut lebaran Idul Fitri yang menandakan ke akraban sesama tetangga dan famili untuk saling bersilaturahmi, serta tanda syukur telah dapat menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh. Adat istiadat tersebut selain tanda syukur sudah mejalankan puasa satu bulan penuh, juga diyakini memperpanjang usia dan akan memperlancar rejeki hingga bulan puasa tiba kembali. Kepercayaan orang Madura perlunya melestarikan budaya itu, karena akan memperlancar rejeki dan akan panjang usia.
Barang yang dibawa sebagai oleh-oleh bagi yang dikunjungi berupa makanan yang siap saji, seperti nasi putih berserta lauk daging sapi, kambing, ayam, lengkap dengan kue dengan berbagai macam jenisnya. Jajanan, nasi, dan lauk pauk tersebut disimpan dalam wadah khusus, semacam termos untuk piknik. Lalu dijinjing dibawa ke tempat saudara atau tetangga yang akan dikun jungi.
Makanan siap saji dan tidak tahan lama tersebut biasa dibawa pada saudara atau tetangga dekat. Jika yang hendak dikunjungi atau diater-ater adalah keluarga yang letaknya jauh, barang bawaannya biasanya barang yang tidak mudah basi tapi unik. Hanya bisa didapat di tempat-tempat tertentu.
Budaya atau tradisi ater-ater ini dikalangan masyarakat Madura juga dikenal dengan istilah Rebba. Dan ini tidak hanya dilakukan kepada para kerabat, dan sanak famili saja, tapi juga kepada sesepuh desa, guru ngaji dan pengasuh pondok pesantren atau kyai.
Ter-ater untuk kyai pengasuh pondok pesantren, bukan hanya berupa makanan, tapi bisa juga berupa hasil bumi. Seperti jagung, padi, ketela pohon, dan berbagai jenis buah-buahan yang menjadi hasil pertanian mereka. Setiap panen, baik panen jagung ataupun padi, pasti disisihkan khusus untuk kyai dan guru ngaji anak-anak dari masyarakat itu sendiri
Di bulan suci Ramadhan, tradisi saling mengantar makanan, atau ter-ater biasanya pada malam pertama puasa dan pertengahan bulan puasa, yakni mulai tanggal 17 Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri.
Pada malam pertama Ramadhan dimaksudkan sebagai bentuk ungkapan dalam menyambut datangnya bulan yang penuh berkah dan ampunan Allah. Sedang pada tanggal 17 Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri diharapkan akan mendapat berkah malam lailatur-qodar, dimana sebagian ulama mempercayai bahwa malam lailatul-qodar mulai tanggal 17 Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri pada malam ganjil. Seperti malam tanggal 17, 19, 21, tanggal 23, 25, 27 hingga 29 Ramadan.
Sebagai salah satu dari elemen budaya masyarakat Madura, ater-ater dapat dijadikan sebuah teropong atau sekeping cermin yang dapat menggambarkan identitas dan karakter masya rakat Madura.
Namun tradisi ini sering luput dari perhatian para peneliti. Mungkin saja tradisi ini dianggap cukup sepele dan biasa-biasa saja. Padahal, ater -ater ini adalah salah satu kegiatan atau ritual budaya yang membuat banyak orang menyimpulkan bahwa masyarakat Madura adalah masyarakat yang ramah, dermawan, komunikatif, baik hati, dan memiliki solidaritas yang tinggi pada sesama.
Pada momen hari raya keagamaan seperti lebaran, ater-ater  ini menemukan momennya yang cukup signifikan. Hampir setiap orang masyarakat Madura melakukannya. Mereka tidak sekedar pergi bertamu untuk bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Mereka tidak lupa membawa sesuatu yang mereka makan di rumahnya.
Pada momen lebaran, ater-ater  biasanya didominasi oleh mereka yang sedang bertunangan. Rasanya tidak pas jika ater-ater pada sanak saudara di hari raya, jika tidak bersama-sama tunangan. Tidak jarang, budaya ater-ater ini dijadikan wahana bagi seseorang untuk memperkenalkan tunangannya pada tetangga atau keluarganya yang lain. Selain itu kebanyakan para pasangan suami istri muda yang baru nikah juga memanfaatkan momen-momen tertentu atau hari-hari tertentu tersebut di atas untuk memperkenalkan sekaligus mempamerkan pasangannya dengan cara ater-ater makanan atau jajanan kue kepada para sanak keluarganya baik yang dekat maupun yang jauh.
v  Akulturasi Budaya
Tradisi yang telah turun menurun ini lahir dari relung kebudayaan masyarakat Madura yang cukup dalam. Jika bertemu dengan sesepuh Madura, lalu ditanya tentang ater-ater, kurang lebih mereka akan menjawab bahwa hal itu dilakukan agar saudara atau tetangganya dapat hidup dan merasakan nikmatnya makanan seperti yang telah dia makan. Terlebih, mereka terkadang akan menjawab agar tidak punya hutang rasa. Bagi mereka, ketika tetangga atau sanak saudara mencium aroma masakan dari dapur kita  berarti kita telah memiliki “hutang” pada mereka hingga kita dapat menghantarkan sebagian makanan tersebut pada mereka.
Hal ini menarik dicermati dan dimaknai. Dengan demikian budaya ater-ater merupakan budaya yang menunjukkan rasa empati, simpati, sekaligus menarik seseorang agar terhindar dari mental individualistis. la menunjukkan rasa solidaritas dan kepedulian sosial yang cukup tinggi terhadap sesama.
Filosofi-filosofi serupa akan mudah kita temukan dalam ajaran Islam, terutama dalam tradisi sufi. Ater-ater secara tersirat sebenamya juga diajarkan Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhamad menuturkan, “Rayakanlah pesta perkawinan, umumkanlah walaupun hanya dengan seekor kambing, dan perbanyaklah kuahnya agar semua sanak famili dan tetanggamu juga dapat merasakan kebahagiaan.”
Bukan tidak mungkin tradisi ater-ater di kalangan masyarakat Madura ini merupakan budaya yang ditransmisikan dari budaya dan ajaran Islam. Pada sekitar abad ke-15, Islam masuk ke Madura (Rifa’i, 2007). Masuknya agama Islam di Madura banyak membuat perubahan budaya keberagamaan yang bersifat sinkretis. Hal ini bisa dilihat masih banyaknya masyarakat Madura yang masih suka membakar kemenyan pada malam Jumat. Ini terjadi tidak hanya di pedesaan, tapi juga di perkotaan Madura. Sudah mafhum, kebiasaan yang demikian merupakan warisan agama Budha dan Hindu.
Dinamisasi pola keberagamaan juga mempengaruhi banyak hal dari sisi kehidupan orang Madura. Seperti, nama yang diberikan kepada anaknya. Yang asalnya orang Madura sering memberi nama anaknya Bhunkot, Kaddhu’, Bengngug, dan seterusnya, pada tahap setelah masuknya Islam berubah menjadi Islami atau kearab-araban (Rifa’i, 2007). Tradisi ater-ater bisa jadi masuk melalui transmisi ajaran dan nilai-nilai Islam sebagaimana nama-nama tersebut.
Pada saat ini, tradisi ater-ater masih saja berlangsung, meskipun gaungnya tak sedahsyat yang sebelumnya. Siapa pun bertanggungjawab menjaga kelestariannya untuk membendung arus globalisasi yang menggiring pada paradigma mental liberalisme dan individualisme. Merebaknya alat komunikasi seperti handphone di seluruh pelosok desa Madura membuat sebagian masyarakat merasa tidak perlu melakukan ater-ater kalau hanya hendak berkomunikasi dengan tetangga atau sanak saudara. Mereka cukup SMS.
Konservasi tradisi ater-ater ini dapat pula berarti meminimalisasi dampak buruk dari dinamika proses modernisasi yang semakin tidak peka terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Sebab, tradisi ater-ater merupakan simbol solidaritas, kepekaan, kepedulian, dan kesetiakawanan.
v  Berbagi Rasa
Pada prinsipnya tradisi ter-ater mempunyai tujuan silaaturrahim antar tetatangga, sanak famili dan kerabat keluarga dengan media berbagai rasa makanan, meski kerap yang terjadi menu masakan yang dihantar hampir tidak ada perbedaan. Uniknya meski seseorang  (satu rumah tangga) mendapat sekian hantaran, namun tidak akan  dihantar kepada pihak lain. Karena apabila hasil hantaran kemudian dihantarkan kepada orang lain, akan menjadi celaan dan mendapat sangsi sosial dari lingkungannya, yaitu akan menjadi san-rasan atau erasani tidak baik karena tidak menghargai hasil ter-ater.
Bagi masyarakat tradisional Madura (pedesaan maupun perkotaan) terater merupakan “kewajiban” yang harus dijalankan, karena menyangkut rasa malo atau todus. Dan ter-ater tidak dihitung seberapa banyak atau seberapa enak masakan yang dihantar. Meski demikian ter-ater diusahakan dengan menampilkan sesuatu yang bernilai dibanding suatu masakan makanan yang disantap setiap harinya.
Dua hal penting bagi masyarakat Madura dalam berbagi rasa masakan. Pertama kepada tamu. Tamu diberi nilai tinggi dalam hal penyediaan perhargaan makanan. Satu kebiasaan tuan rumah, memberi hidangan kepada tamu merupakan hal prinsip sebagai salah satu bentuk nilai kehidupan sosialnya. Sebagaimana terjadinya carok di Madura, tiga alasan mendasar yang menyebabkan terganggunya seseorang, yaitu:  harga diri, wanita dan air (baca : Kilasan kenangan Hitam “Carok”).
Jadi apabila seseorang menghidangkan makanan kemudian oleh tamu tidak dimakannya maka sama artinya mengganggu harga diri, karena ketika seseorang menghidangkan makanan untuk tamu, berarti dia (mereka) telah mengorbankan apa yang mereka miliki (menu makanan meski hanya memiliki seekor ayam) demi sang tamu. Yang kedua, yaitu ter-ater yang dapat dikategorikan sebagai bentuk pristise keluarga dalam memberikan nilai terhadap orang lain.
v  Terjadinya Perubahan Paradigma
Sesuatu yang bermanfaat kerap tidak diimbangi dengan kontinyuitas. Banyak penyebab terjadinya perubahan sosial masyarakat, khususnya masyarakat Madura yang ternyata telah benyak kehilangan nilai-nilai dalam kearifan sebagaimana yang terjadi pada tradisi ter-ater.
Pragmatisme nampaknya menjadi sumbu utama terjadinya perubahan paradigma ter-ater. Alasan klasik yang kerap menjadi landasan pada masyarakat modern yaitu kepraktisan dalam segala tindakan adalah hal utama. Termasuk ter-ater, dalam perubahannya menu ter-ater yang dulu hasil masakan proses sendiri, telah berubah menjadi pesanan pada catering kemudian dihantarkan dengan wadah dos atau plastik yang banyak dijual di toko-toko, khususnya bagi masyarakat perkotaan.
Nah disinilah persoalannya. Kalau jaman dulu masyarakat Madura dalam memproses hantaran dari masakan sendiri, kemudian dihantar dengan piring yang dilandasi daun pisang dipotong membundar, dihantar dengan talam atau nampan, lalu ditutupi dengan sejenis tampak rajutan benang. Indah dan alami.
Ironisnya, justru sebagaian besar masyarakat Madura perkotaan sudah tidak kenal yang namanya ter-ater. Akulturasi budaya tampaknya membebani mereka dalam melakukan ter-ater. Keengganan (lantaran  pragmatisme) ibu rumah tangga membagi rasa makanan kepada tetangga, sanak keluarga dan kerabatnya telah demikian menguat, sehingga hari-hari menjelang ramadhan,  maupun menjelang dan saat lebaran, terasa biasa-biasa, sepi dan tidak ada aktifitas sosial antar tetangga.
Namun demikian, meski tidak sekuat pada jaman dulu, masyarakat Madura tradisional di pedesaan masih mencoba dan berusaha tradisi ter-ater ini untuk menjadi bagian dari proses kehidupan sosial mereka. Karena apapun alasannya, peristiwa lebaran merupakan peristiwa yang diagungkan, peristiwa yang menyangkut urusan keagamaan dan kebudayaan.
Dari beberapa penjelasan mengenai budaya ater-ater di kalangan masyarakat Madura di atas, jika kita sesuaikan dengan beberapa teori dari budaya itu sendiri maka dapat dianalisis dan disimpulkan bahwa budaya atau tradisi tersebut memang sudah selayaknya dikategorikan sebagai salah satu kebudayaan khas Madura, sebab budaya atau tradisi tersebut sudah sesuai dan memenuhi beberapa kriteria atau syarat-syarat sebagai kebudayaan. Dimana budaya atau tradisi Ater-ater di kalangan masyarakat Madura itu sudah ada sejak zaman dahulu, keturunan dari nenek moyang, diyakini dan tetap dijalankan oleh masyarakat hingga sampai sekarang, terjadi turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan bahkan menjadi nilai serta norma bagi masyarakat Madura.



~ Sekian Terimakasih ~

Minggu, 28 April 2013

Konseling Dengan Pendekatan Psikoanalisis


BAB I
DASAR TEORI

A.    Pendekatan Psikoanalitik
Salah satu aliran utama dalam sejarah psikologi adalah teori psikoanalitik Sigmund Freud. Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia, dan metode psikoterapi. Secara historis psikoanalisis adalah aliran pertama dari tiga aliran utama psikologi. Yang kedua adalah behaviorisme, sedangkan yang ketiga atau disebut juga kekuatan ketiga adalah psikologi eksistensialisme-humanistik. Penting untuk diingat bahwa Freud adalah pencipta pendekatan psikodinamika terhadap psikologi, yang memberikan pandangan baru kepada psikologi dan menemukan cakrawala-cakrawala baru. Misalnya, membangkitkan minat terhadap motivasi tingkah laku. Freud juga mengundang banyak kontroversi, eksplorasi, penelitian, dan menyajikan landasan tempat bertumpu sistem-sistem yang muncul kemudian.
Psikoanalisa adalah merupakan system filsafat dan system psikologi sekaligus. Sebagai sebuah system filsafat, psikoanalisa menekankan alam bawah sadar, kekuatan-kekuatan dinamaik, peran dasar insting, kebutuhan untuk sosialisasi, peran fundamental keluarga, proses perkembangan, dan pertumbuhan dan kristalisasi kepribadian dalam pernyataan-pernyataan psikologi dalam. Sebagai sebuah psikologi ia secara fleksibel dan memadai menyerap banyak kontribusi dari sumber-sumber yang berbeda.[1]
Psikoanalisa merupakan suatu metode penyembuhan yang lebih bersifat psikologis dengan cara-cara fisik. Konsep-konsep psikoanalisa banyak memberikan pengaruh terhadap perkembangan konseling. Banyak tokoh-tokoh lain yang menjadi pengikut Freud, dan mengembangkan terapi seperti Carl Jung, Otto Rank, William Reich, Karen Horney, Adler, Harry Stack Sullivan, dan sebagainya.[2]
Sumbangan-sumbangan utama yang bersejarah dari teori dan praktek psikoanalitik mencakup: (1) Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia bisa diterapkan pada peredaan penderitaan manusia. (2) Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tak sadar. (3) Perkembangan pada masa dini kanak-kanak memeliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian di masa dewasa. (4) Teori psikoanalitik menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk memahami cara-cara yang digunakan individu dalam mengatasi kecemasan dengan mengandaikan adanya mekanisme-mekanisme yang bekerja untuk menghindari luapan kecemasan. (5) Pendekatan psikoanalitik telah memberikan cara-cara mencari keterangan dari ketaksadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi, resistensi-resistensi dan traferensi-traferensi.[3]

B.     Konsep-Konsep Utama Psikoanalisis Mengenai Kepribadian
Teori Freud mengenai kepribadian dapat diikhtisar dalam rangka sruktur, dinamika, dan perkembangan kepribadian.
1.    Struktur Kepribadian
Menurut pandangan psikoanalisis, stuktur kepribadian terdiri dari tiga sistem yaitu: id, ego, dan superego. Ketiganya adalah nama bagi proses-proses psikologis yang merupakan fungsi-fungsi kepribadian. Id adalah komponen biologis, Ego adalah komponen psikologis, sedangkan Superego merupakan komponen sosial.[4]
a.    Id
Id adalah system kepribadian yang orisinil; kepribadian setiap orang hanya terdiri dari ide ketika dilahirkan. Ide merupakan tempat bersemayam naluri-naluri. Ide kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Seperti kawah yang yang terus mendidih dan bergolak. Ide tidak bisa menoleransi tegangan dan bekerja untuk melepaskan tegangan itu sesegera mungkin serta untuk mencapai keadaan homeostatic. Dengan diatur oleh asas kesenangan yang diarahkan pada pengurangan tegangan, penghindaran kesakitan dan perolehan kesenangan. Ide bersifat tidak logis, amoral, dan didorong oleh satu kepentingan: memuaskan kebutuhan-kebutuhan naluriah sesuai asos kesenangan. Ide tidak pernah matang dan selalu menjadi anak manja dari kepribadian, tidak berfikir dan hanya menginginkan atau bertindak. Ide bersifat tak sadar.
b.    Ego
Ego memiliki kontak dengan dunia eksternal dari kenyataan. Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan dan mengatur. Sebagai “polisi lalu lintas” bagi ide, superego, dan dunia eksternal, tugas utama ego adalah mengantarai naluri-naluri dengan lingkungan sekitar. Ego mengendalikan kesadaran dan melaksnakan sensor. Denhgan diatur oleh asas kenyataan, ego berlaku realistis dan berfikir logis serta merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan kebutuhan-kebutuhan. Apa hubungan ego dan ide? Ego adalah tempat bersemayan inteligensi dan rasionalitas yang mengawasi dan mengendalikan impuls-impuls buta dari ide. Sementara ide hanya mengenal kenyataan subjektif, ego memperbedakan bayangan-bayangan mental dengan hal-hal yang terdapat di dunia eksternal.
c.    Super Ego
Superego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian. Superego adalah kode moral individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Superego merepresentasikan hal yang ideal alih-alih hal yang real dan mendorong bukan kepada kesenangan, melainkan pada kesempurnaan. Superego merepresentasikan nilai-nilai tradisional dan ideal-ideal masyarakat yang diajarkan oleh orang tua pada anak. Superego berfungsi menghambat impuls-impuls ide. Kemudain sebagai internalisasi standart orang tua dan masyarakat, superego berkaitan dengan imbalan-imbalan dan hukuman-hukuman. Imbalan-imbalannya perasaan-perasaan bangga dan mencintai diri, sedangkan hukuman-hukumannya adalaj perasaan-perasaan berdosa dan rendah diri.
Adapun fungsi pokok super ego dapat dilihat dalam hubungan dengan ketiga aspek kepribadian itu, yaitu:[5]
                            i.      Marintangi impuls-impuls id, terutama impuls-impuls seksual dan agresif yang pernyataannya sangat ditentang oleh masyarakat;
                          ii.      Mendorong ego untuk lebih mengejar hal-hal yang moralitis dari pada yang realistis;
                        iii.      Mengejar kesempurnaan.
Jadi super ego (das ueber ich) itu cenderung untuk menentang baik ego (das ich) maupun id (das es) dan membuat dunia menurut konsepsi yang ideal.
2.    Dinamika Kepribadian
Freud menganggap organisme manusia sebagai suatu sistem energi yang kompleks. Energi yang di peroleh dari makanan (energi fisik). Berdasarkan hukum penyimpangan (conservation of energi) energi tidak dapat hilang, tetapi dapat berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain. Energi fisik dapat berubah menjadi energi psikis. Jembatan antara energi tubuh dengan kepribadian ialah id beserta insting-instingnya.
Instink menurut Freud sebagai sumber perangsang somatis yang dibawa sejak lahir. Suatu insting merupakan sejumlah energi psikis, kumpulan dari semua instink- instink merupakan keseluruhan dari pada energi psikis yang digunakan oleh kepribadian. Insting mempunyai empat sifat utama, yaitu, sumber, tujuan, obyek, dan mendorong, insting bersumber dari kebutuhan dan bertujuan menghilangkan sumber ketegangan yang diakibatkan karena adanya kebutuhan. Sedangkan obyek insting adalah segala aktivitas atau benda yang menyebabkan tercapainya kebutuhan. Besar atau kecilnya kebutuhan merupakan pendorong bagi insting.[6]
Dinamika kepribadian terdiri dari cara bagaimana energi psikis itu didistribusikan serta digunakan oleh id, ego, dan super ego. Oleh karena jumlah energi terbatas, maka terjadi semacam persaingan dalam menggunakan energi tersebut.
Dari dinamika kepribadian dapat kita lihat sebahagian besar dikuasai oleh keharusan untuk memuaskan kebutuhan dengan cara berhubungan dengan obyek-onyek yang ada di dunia luar. Dalam menghadapi obyek tersebnut individu tidak selamanya dengan mudah dan berhasil, tetapi selalu menemui ancaman berupa hal-hal yang tidak menyenangkan atau menyakitkan, maka individu merasa cemas. Biasanya reaksi individu terhadapancaman ketidaksenangan dan pengrusakan yaqng belum dapat diatasinya ialah menjadi cemas.
Freud mengemukakan tiga macam kecemasan yaitu, kecemasan realistis yang bersumber pada ego, kecemasan neurotis yang sumbernya pada id, dan kecemasan moral yang bersumber dari superego. Kecemasan realistis yang paling pokok, yaitu takut terhadap bahaya-bahaya yang datang dari luar individu, dan kedua kecemasan yang lain berasal dari kecemasan realistis ini. Kecemasan neurotis adalah kecemasan yang timbul apabila insting tidak terkendalikan terkendalikan, sehingga ego akan dihukum. Kecemasan moral adalah kecemasan terhadap hati nurani sendiri.
Kecemasan berfungsi melindungi individu dari bahaya, dan merupakan isyarat bagi ego segera melakukan tindakan. Apabila ego tidak dapat menguasai kecemasan dengan cara yang rasional, maka ego akan menghadapinyadengan jalan yang tidak realistis.
3.    Perkembangan kepribadian
Kepribadian individu menurut Freud telah melalui terbentuk pada tahun-tahun pertama di masa kanak-kanak. Pada umur 5 tahun hampir seluruh struktur keoribadian telah terbentuk, pada tahun-tahun berikutnya hanya menghaluskan struktur dasar tersebut. Freud beranggapan bahwa gangguan jiwa pada orang dewasa, pada umumnya berasal dari pengalaman pada masa kanak-kanak.
Metode-metode atau cara yang dipergunakan oleh individu untuk mengatasi frustasi-frustasi, konflik-konflik, serta kecemasan-kecemasan, yaitu sebagai berikut:[7]
a.    Identifikasi.
Yaitu metode yang dipergunakan orang dalam menghadapi orang lain dan membuatnya menjadi bagian dari pada keprubadiannya.
b.    Pemindahan objek.
Apabila objek pilihan sesuatu instink yang asli tidak dapat dicapai karena rintangan (anti cathexis) baik dari dalam maupun dari luar. Adapun arah pemindahan objek ditentukan oleh dua factor yaitu:
1)   Kemiripan objek pengganti terhadap objek aslinya.
2)   Sanksi-sanksi dan larangan-larangan masyarakat.
c.    Mekanisme pertahanan ego
Karena tekanan kecemasan ataupun ketakutan yang betlebihan, maka ego terkadang mengambil cara yang ekstrem untuk menghilangkan atau mereduksikan tegangan atau disebut mekanisme pertahanan. Bentuk-bentuk pokok mekanisme pertahanan itu adalah :
1)   Penekanan atau represi, yaitu salah satu bentuk mekanisme pertahanan ego. Penekanan terjadi apabila suatu pemilihan objek dipaksa keluar dari kesadaran oleh anti cathexis(kekuatan-kekuatan penahanan).
2)   Proyeksi, yaitu mekanisme yang dipergunakan untuk mengubah ketakutan neurotis dan ketakutan moral menjadi ketakutan realitas.
3)   Pembentukan reaksi,yaitu penggantian impus atau perasaan yang menimbulkan ketakutan atau kecemasan dengan lawannya didalam kesadaran,misalnya benci diganti dengan cinta.
4)   Fiksasi dan Regresi, pada perkembangan yang normal kepribadian akan melewati fase-fase yang sedikit banyak sudah tetap dari lahir sampai mencapai kedewasaan yang akan membawa sejumlah frustasi dan ketakutan, dengan kata lain orang akan mengalami fiksasi pada suatu fase yang lebih awal begitupun regresi sangat erat hubungannya dengan fiksasi itu pada umumnya fiksasi dan regresi adalah keadaan nisbi artinya seorang jarang benar-benar mengalami fiksasi dan regresi. Fiksasi dan regresi inilah yang menyebabkan ketidaksamaan dalam perkembangan kepribadian.
d.   Fase-Fase perkembangan.
Freud berpendapat bahwa fase-fase perkembangan terbagi atas:
1)   Fase Oral (usia 0 sampai 1 tahun). Pada fase ini mulut merupakan daerah pokok aktifitas dinamis.
2)   Fase Anal ( kira-kira usia 1 sampai 3 tahun). Pada fase ini cathexis (kekuatan pendorong) dan anti cathexis (kekuatan penahan) berpusat pada fungsi eliminative (pembuangan kotoran)
3)   Fase phallis (kira-kira usia 3 sampai 5 tahun). Pada fase ini alat-alat kelamin merupakan daerah erogen terpenting.
4)   Fase Latent (kira-kiara usia 5 sampai 12 tahun atau 13 tahun). Pada Fase ini impuls-impuls cenderung umtuk ada dalam keadaan tertekan.
5)   Fase Pubertas (kira-kira 12 atau 13 sampai 20 tahun). Pada fase ini impuls-impuls yang selama fase latent seakan-akan tertekan, menonjol dan membawa aktivitas-aktivitas dinamis kembali. Apabila aktivitas dinamis ini dapat dipindahkan dan disublimasikan oleh ego dengan berhasil maka sampailah orang kepada fase kematangan terakhir.
6)   Fase genital, pada fase ini individu telah berubah dari mengejar kenikmatan, menjadi orang dewasa yang telah disosialisasikan dengan realistis. Fungsi yang pokok fase genital ialah reproduksi.
Walaupun Freud menggambarkan perkembangan itu dalam fase-fase namun ia tidak bependapat bahwa antara fase-fase tersebut satu sama lain terdapat batas yang tajam.

C.    Proses Konseling Psikoanalisis
Sesuai dengan alirannya , maka setiap konseling diwarnai oleh filsafat dan teori yang dianut oleh teori tersebut. Berikut ini akan diuraikan garis-garis besar proses konseling psikoanalisis.
1.    Tujuan konseling.
Tujuan konseling psikoanalitik adalah untuk membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat yang tidak sadar menjadi sadar pada diri klien. Proses konseling dipusatkan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lampau ditata, didiskusikan, dianalisa dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekontruksikan kepribadian. Konseling analitik menekankan dimensi afektif dalam membuat pemahaman ketidaksadaran. Tilikan dan pemahaman intelektual sangat penting, tetapi yang lebih penting adalah mengasosiasikan antara perasaan dan ingatan dengan pemahaman diri.[8]
2.    Fungsi konselor.
Pada konseling psikoanalisis konselor mempunyai ciri unik dalam proses konselornya. Yaitu konselor bersikap anonym, artinyaa konselor bersikap berusaha tak dikenal klien dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. Tujuannya adalah agar klien dengan mudah memantulkan perasaan kepada konselor. Pemantulan itu merupakan proyeksi klien yang menjadi analisis bagi konselor. Hal yang terpenting dalam proses konseling adalah memberikan perhatian terhadap keadaan resistensi klien yaitu suatu keadaan dimana klien melindungi suatu perasaan , trauma, atau kegagalan klien terhadap konselor.fungsi konselor adalah mempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimpan dalam ketaksadaran klien yang dilindunginya dengan cara transferensi itu selain itu konselor membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, krtulusan hati, dan hubungan pribadi yang lebih efektif dalam menghadapi kecemasan melalui cara-cara realistis.
3.    Proses konseling
Secara sisitematis proses konseling yang dikemukakan dalam urutan fase-fase konseling dapat diikuti sebagai berikut;
a.    Membina hubungan konseling yang terjadi pada tahap awal konseling.
b.    Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya, dan melakukan tranferensi.
c.    Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa anak-anak.
d.   Pengembangan resistensi untuk pemahaman diri.
e.    Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor.
f.     Melanjiutkan lagi hal-hal yang resistensi.
g.    Menutup wawancara konseling.

D.    Teknik Konseling
Teknik-teknik dalam psikoanalisa digunakan untuk meningkatkan kesadaran mendapatkan tilikan intelektual ke dalam prilaku klien, dan memahami gejala-gejala yang nampak. Ada lima teknik dasar dalam teori psikoanalisa yaitu:[9]
1.    Asosiasi bebas.
Teknik pokok dalam terapi psikoanalisa adalah asosiasi bebas. Konselor memerintahkan klien untuk menjernihkan pikirannya dari pemikiran sehari-hari dan sebanyak mungkin untuk mengatakan apa yang muncul dalam kesadarannya. Yang pokok adalah klien mengemukakan segala sesuatu melalui perasaan atau pikiran dengan melaporkan secepatnya tanpa sensor.
Asosiasi bebas adalah satu metoda pengungkapan pengalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik di masa lampau. Hal ini disebut sebagai katarsis. Katarsis secara sementara dapat mengurangi pengalaman klien yang menyakitkan, akan tetapi tidak memegang peranan utama dalam proses penyembuhan.sebagai suatu cara membantu klien memperoleh pengetahuan dan evaluasi diri sendiri, konselor menafsirkan makna-makna yang menjadi kinci dari asosiasi bebas. Selama asosiasi bebas tugas konselor adalah untuk mengidentifikasi hal-hal yang tertekan dan terkunci dalam ketaksadaran.
2.    Interpretasi.
Interpretasi adalah prosedur dasar yang digunakan dalam analisis asosiasi bebas, analisis mimpi, analisis resistensi, analisis tranparansi. Prosedurnya terdiri atas penetapan analisis, penjelasan, dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi dan hubunganterapetik itu sendiri. Fungsi interpretasi adalah membiarkan ego untuk mencerna materi baru dan mempercepat proses menyadarkan hal-hal yang tersembunyi. Interpretasi mengarahkan tilikan dan hal-hal yang tidak disadari klien.
Hal yang terpenting adalah bahwa interpretasi harus dilakukan pada waktu-waktu yang tepat karena kalau tidak, klien dapat menolaknya. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam interpretasi sebagai teknik terapi.
Pertama, interpretasi hendaknya hendaknya disajikan pada saat gejala yang diinterpretasikan berhubungan erat dengan hal-hal yang disadari klien.
Kedua, interpretasi hendaknya selalu dimulai dari permukaan dan baru manuju ke hal-hal yang dalam yang dapat dialami oleh situasi emosional klien.
Ketiga, menetapkan resistensi atau pertahanan sebelim menginterpretasikan emosi atau konflik.
3.    Analisis mimpi
Analisis mimpi merupakan prosedur yang penting untuk mambuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien untuk memperoleh tilikan kepada masalah-masalah yang belum terpecahakan.proses terjadinya mimpi adalah karena di waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesakpun muncul ke permukaan karena dalam mimpi semua keinginan, kebutuhan, dan ketakutan yang tidak disadari diekspresikan.
4.    Analisis Resistensi.
Resistensi, sebagai suatu konsep fundamental praktek-praktek psikoanalisa, yang bekerja melawan kemajuan terapi dan mencegah klien untuk menampilkan hal-hal yang tidak disadari. Anlaisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya resistensinya. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi.
5.    Analisis transferensi.
Konselor mengusahakan agar klien mengembangkan transferensinya agar teringkap neurosisnya terutama pada usia selam lima tahun pertama hidupnya. Konselor manggunakan sifat-sifat netral, objektif, anonym, dan pasif agar terungkap transferensi tersebut.

E.     Kritik dan Kontribusi Psikoanalisa
Beberapa kritik terhadap psikoanalisa adalah antara lain :
1.      Pandangan yang terlalu determenistik dinilai terlalu merendahkan martabat kemanusiaan.
2.      Terlalu banyak menekankan pada pengalaman masa kanak-kanak, dan menganggap kehidupan seolah-olah sepenuhnya ditentukan masa lalu. Hal ini memeberikan gambaran seolah-olah tanggung jawab individu berkurang.
3.      Terlalu meminimalkan rasionalitas.
4.      Bahwa perilaku ditentukan oleh energy psikis, adalah sesuatu yang meragukan.
5.      Penyembuhan dalam psikoanalisa terlau bersifat rasional dalam pendekatannya.
6.      Data penelitian empiris kurang banyak mendukung sistem psikoanalisa.
Sedangkan kontribusi yang diberikan adalah sebagai berikut :
1.      Adanya motiv asi yang tidak selamanya disadari.
2.      Teori kepribadian dan teknik psikoterapi.
3.      Pentingnya ,asa kanak-kanak dalam perkembangan kepribadian.
4.      Model pengguanaan wwawancara sebagai alat terapi.
5.      Pentingnya sikap non moral pada terapis.
6.      Adanya persesuaianantara teori dan teknik.

BAB II
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Psikoanalisa adalah merupakan system filsafat dan system psikologi sekaligus. Sebagai sebuah system filsafat, psikoanalisa menekankan alam bawah sadar, kekuatan-kekuatan dinamaik, peran dasar insting, kebutuhan untuk sosialisasi, peran fundamental keluarga, proses perkembangan, dan pertumbuhan dan kristalisasi kepribadian dalam pernyataan-pernyataan psikologi dalam. Sebagai sebuah psikologi ia secara fleksibel dan memadai menyerap banyak kontribusi dari sumber-sumber yang berbeda.
Menurut pandangan psikoanalisis, stuktur kepribadian terdiri dari tiga sistem yaitu: id, ego, dan superego. Ketiganya adalah nama bagi proses-proses psikologis yang merupakan fungsi-fungsi kepribadian. Id adalah komponen biologis, Ego adalah komponen psikologis, sedangkan Superego merupakan komponen sosial.
Teknik-teknik dalam psikoanalisa digunakan untuk meningkatkan kesadaran mendapatkan tilikan intelektual ke dalam prilaku klien, dan memahami gejala-gejala yang nampak. Ada lima teknik dasar dalam teori psikoanalisa yaitu, Asosiasi Bebas, Interpretasi, Anilisis Mimpi, Analisis Resistensi, dan Analisis Transferensi.
DAFTAR PUSTAKA

Ø  Corey, Gerald. 1997. Teori & Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung : PT. Eresco.
Ø  Corsini, Raymond. 2003. Psikoterapi Dewasa Ini. Surabaya : Ikon Teralitera.
Ø  Surya, Mohammad. 2003. Teori-Teori Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.


[1] Raymond Corsini, Psikoterapi Dewasa Ini, (Surabaya : Ikon Teralitera, 2003), hal. 74-75
[2] Mohammad Surya, Teori-Teori Konseling, (Bandung : Bani Quraisy, 2003), hal. 28
[3]  Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, (Bandung : PT. Eresco, 1997), hal. 13
[4]  Ibid
[5] Mohammad Surya, Teori-Teori Konseling, (Bandung : Bani Quraisy, 2003), hal. 30
[6] Ibid
[8] Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, (Bandung : PT. Eresco, 1997), hal. 36
[9] Mohammad Surya, Teori-Teori Konseling, (Bandung : Bani Quraisy, 2003), hal. 36