Muhammad Antoso


Selamat Datang di Blogs Antok Pemuda Sumenep Semoga Bermanfaat

Sabtu, 07 September 2013

Makalah Gangguan Mood Di ajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Tugas Psikologi Abnormal


iain hiTAM PUTIH_1.jpg




Dibimbing Oleh :
Meutia Ananda, M. Psi
Disusun Oleh :
Musyarofah                                   B07210047
Rochmawati Dwi S.                      B07210058
Moh. Antoso                                  B07210076

Program Studi Psikologi
Fakultas Dakwah
IAIN Sunan Ampel
Surabaya
2013


Daftar Isi
Halaman Judul                    .......................................................................      1
Daftar Isi                            ........................................................................     2
Pembahasan                        ………............................................................     3
A. Pengertian                .........................................................................    3
B.  Macam-Macam Gangguan Mood dan Ciri-Cirinya ………………     4
C.  Faktor-Faktor yang Menyebabkan Gangguan Mood  ……………      9
D. Terapi untuk Gangguan Mood ……………………………………     13
Daftar Pustaka                    ........................................................................    15















PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Dalam hidup semua manusia memiliki perasaan yang berbeda-beda dalam setiap harinya. Perasaan itu terkadang sedih, senang, marah, dan lain sebagainya yang biasanya berlangsung sementara. Perasaan tersebut sering disebut dengan mood. Mood merupakan perpanjangan dari emosi yang berlangsung selama beberapa waktu, kadang-kadang beberapa jam, beberapa hari, atau bahkan, dalam beberapa kasus depresi beberapa bulan. Mood yang dialami dalam kehidupan manusia ini sedikit banyak akan berpengaruh kuat terhadap cara mereka dalam berinteraksi (Meier, 2000: 8-9).
Mood adalah kondisi perasaan yang terus ada dan mewarnai kehidupan psikologis kita. Perasaan sedih atau depresi bukanlah yang abnormal dalam konteks peristiwa atau situasi yang penuh tekanan. Namun, orang dengan gangguan mood atau yang sering dikenali sebagai gangguan perasaan biasanya terlarut dalam suasana perasaannya dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga mengganggu kemampuan mereka untuk berfungsi dalam memenuhi tanggung jawab secara normal. Mereka yang mengalami gangguan mood ini akan mengalami perubahan mood yang ekstrem, bagaikan roller coaster emosional dengan ketinggian yang membuat pusing dan turunan yang bukan kepalang ketika dunia disekitarnya tetap stabil (Nevid, 2003: 229).
Pada diri manusia mood ini dating dan pergi, dan ketika itu terjadi biasanya kita dapat mengatasinya dan kembali normal. Namun, kenyataannya tidak semudah itu umumnya gangguan mood ini terjadi pada semua usia, ekspresi gangguan mood pada anak-anak bervariasi tergantung pada usia mereka.
Mood pada seorang anak lebih rentan terhadap pengaruh stressor social yang parah seperti percekcokan keluarga yang kronis, penyiksaan dan penelantaran serta kegagalan akademik (Kaplan, dkk, 1997:809-810).
Ganggguan mood yang terjadi pada seseorang ini umumnya terjadi karena banyaknya tekanan yang menimpa dirinya dan cenderung terlarut dalam tekanan dapat meningkatkan resiko berkembangnya gangguan mood yang kemudian dapat berubah menjadi depresi terutama depresi mayor. Hal ini terbukti pada suatu penelitian yang menemukan bahwa dalam sekitar empat dari lima kasus, depresi mayor diawali oleh peristiwa kehidupan yang penuh tekanan. Orang juga lebih cenderung untuk menjadi depresi bila mereka menanggung sendiri tanggung jawab dari peristiwa yang tidak diinginkan (Nevid, 2003: 240).
Depresi berat yang terjadi dalam jangka waktu yang lama ataupun orang yang berada di bawah tekanan stress yang berat dan tidak memiliki pertimbangan yang baik, maka orang tersebut lebih memilih untuk bunuh diri (Nevid, 2003: 262).
Dari beberapa pengertian diatas disimpulkan bahwa gangguan mood ini merupakan suatu gejala yang menyebabkan perubahan suasana perasaan pada seseorang secara ekstreem dan membuat penderitanya terlarut dalam suasana perasaannya dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga mengganggu kemampuan mereka untuk berfungsi dalam memenuhi tanggung jawab secara normal.
B.     Macam-Macam Gangguan Mood dan Ciri-Cirinya
Ada beberapa jenis dalam gangguan mood yang terjadi pada manusia ini umumnya digolongkan sesuai dengan tingkat seberapa lamanya gangguan ini terjadi,  yaitu :
1.      Episode manic
Periode ini biasanya muncul secara tiba-tiba, mengumpulkan kekuatan dalam beberapa hari. Selama satu episode manic ornag tersebut mengalami elevasi atau ekspansi mood yang tiba-tiba dan merasakan kegembiraan, euphoria, atau optimism yang tidak biasa. Orang yang mengalami episode manic ini akan memperolok orang lain dengan memberikan lelucon yang keterlaluan atau bahkan cenderung memperlihatkan penilaian yang buruk dan menjadi argumentative, dan terkadang bertindak afektif. Tak hanya itu orang yang mengalami episode manic ini umumnya mengalami self-esteem yang meningkat, mulai berkisar dari self-confidance yang ekstreem hingga delusi total akan kebesaran diri sendiri (Nevid, 2003: 237-238).
Dalam episode manic terdapat kesamaan karakteristik dalam afek yang meningkat disertai dengan peningkatan dalam jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental dalam berbagai derajat keparahan. Dalam episode manic terdapat tipe hipomania dimana pada gangguan ini derajat gangguan yang lebih ringan dari mania. Tipe hipomania ini dapat ditandai dengan adanya afek yang meninggi atau berubah disertai dengan aktivitas, menetap selama sekurang-kurangnya beberapa hari berturut-turut, dan tidak disertai halusinasi atau waham.
2.      Gangguan Depresi (gangguan Unipolar)
Depresi merupakan suatu perasaan yang bias muncul dalam berbagai cara dan mempunyai sejumlah penyebab,tidak memedulikan jenis kelamin dan pekerjaan, dan bias menyerang kapanpun dari remaja sampai paruh baya. Dimana usia paruh baya ini merupakan usia puncak dari depresi. Pada setiap orang depresi ini berbeda-beda bentuknya. Kondisi ini bisa disertai dengan kecemasan, gelisah, dan berbicara gugup atau bias beralih menjadi periode mania (mood yang meningkat), berbicara terputus-putus, serta aktivitas kompulsif yang dinamakan pasien “manic depresif”. Namun, ada juga yang bersikap apatis dan cenderung menutupi kekhawatirannya. Penderita sering mengeluh tidak mampu berfikir dengan jelas, sulit berkonsentrasi, atau membuat keputusan (Jacoby, 2009:34).  Dalam proses berjalannya gangguan depresi, depresi ini merupakan gangguan yang dapat dibagi menjadi tiga tahap yang dimulai dari gejala yang ringan, sedang hingga berat.
Gejala atau ciri-ciri utama seseorang dengan depresi adalah afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya energy yang menuju meningkatnya keadaan yang mudah lelah dan menurunnya aktivitas.
Gejala atau cirri lainnya :
a)      Konsentrasi dan perhatian berkurang,
b)      Harga diri dan kepercayaan diri berkurang,
c)      Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna,
d)     Pandangan tentang masa depan yang suram dan pesimistis,
e)      Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri,
f)       Tidur terganggu,
g)      Nafsu makan berkurang (Maslim, 2003: 64)
·         Depresi ringan
Depresi ringan ini di identikkan dengan depresi minor yang merupakan perasaan melankolis yang berlangsung sebentar dan disebabkan oleh sebuah kejadian yang tragis atau mengandung ancaman, atau kehilangan sesuatu yang penting dalam kehidupan si penderita (Meier, 2000: 20-21). Orang dengan depresi ringan ini setidaknya memiliki 2 dari gejala lainnya dan 2-3 dari gejala utama. (Maslim, 2003, 64).
·         Depresi sedang
Depresi sedang ini di alami oleh penderita selama kurang 2 minggu, dan orang dengan depresi sedang ini mengalami kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan social, pekerjaan dan urusan rumah tangga. Orang dengan depresi sedang ini setidaknya memiliki 2-3 dari gejala utama dan 3-4 dari gejala lainnya (Maslim,  2003: 64)
·         Depresi mayor
Depresi mayor merupakan salah satu gangguan yang prevalensinya paling tinggi di antara berbagai gangguan (Davidson, 2006: 374). Depresi mayor adalah kemurungan yang dalam dan menyebar luas. Perasaan murung ini mampu menyedot semangat dan energy serta menyelubungi kehidupan si penderita seperti asap yang tebak dan menyesakkan dada. Depresi mayor ini dapat berlangsung cukup lama mulai dari empat belas hari sampai beberapa tahun. Hal ini menyebabkan penderita akan sangat sulit utnuk berfungsi dengan baik di lingkungannya. Orang dengan depresi mayor ini juga terkadang disertai dengan keinginan untuk bunuh diri atau bahkan keinginan untuk mati. Orang yang sangat tertekan, mereka akan mengalami dampak hal-hal yang mengganggu kejiwaan mereka seperti gila, paranoia atau halusinasi pendengaran (Meier, 2000: 25-26).
3.      Gangguan distimik atau distimia
Gangguan distimik ini merupakan gangguan mood yang berpola depresi ringan (tetapi nungkin saja menjadi mood yang menyulitkan pada anak-anak atau remaja) yang terjadi dalam suatu rentang waktu—pada orang dewasa, biasanya dalam beberapa tahun (Nevid, 2003: 229). Gangguan distimik pada anak-anak dan remaja terdiri dari mood yang terdepresi atau mudah tersinggung untuk sebagaian besar hari, lebih banyak hari dibandingkan tidak, selama periode sekurangnya satu tahun. Pada anak-anak dan remaja, mood yang mudah tersinggung dapat menggantikan criteria mood terdepresi untuk orang dewasa dan bahwa criteria durasi adalah bukan dua tahun tetapi satu tahun utnuk anak-anak dan remaja (Kaplan, dkk, 1997: 813).
Ada beberapa gejala atau cirri yang dapat ditandai saat gejala ini muncul, yaitu :
a)      Kehilangan nafsu makan atau justru makan berlebihan,
b)      Sulit tidur atau kebanyakan tidur (sulit bangun),
c)      Tingkat energy rendah atau mudah lelah,
d)     Citra diri yang rendah,
e)      Daya konsentrasi yang rendah atau sulit mengambil keputusan,
f)       Perasaan putus asa.
Penderita gangguan ini setidaknya mengalami gejala-gejala diatas paling lama 2 bulan sekali. Pada gangguan ini tidak terjadi depresi mayor selama dua tahun terakhir, tidak pernah menderita akibat perubahan naik turun antara periode kegairahan yang membumbung tinggi dan depresi yang melankolis. Gangguan distimia ini tidak disebabkan oleh penyalahgunaaan obat  atau bahan kimiawi. Namun, gejala ini mengakibatkan kerusakan klinis yang signifikan dalam fungsi social, pekerjaan atau area-area penting lain dalam kehidupan si penderita (Meier, 2000: 22).
4.      Gangguan perubahan mood (bipolar)
Gangguan bipolar adalah gangguan mental berat, tanpa memandang apakah ada perubahan mental antara mania dan depresi secara full brown. Gangguan bipolar merupakan suatu psikosis afektif, ada gangguan emosi, baik akibat kebiasaan maupun menyembunyikan kecemasan dan perasaan malu. Pada fase depresi, pendiam, mendendam perasaan, emosional sensitive. Pada fase mania perilakunya sangat berlawanan, sangat ekstrover. Pada beberapa kasus keadaaan ini mengandung unsure fanatic dan religious (Jacoby, 2009: 27).
Gangguan bipolar ini sendiri dibagi menjadi dua, yaitu gangguan bipolar 1 dan gangguan bipolar 2. Gangguan bipolar 1 ini terjadi pada seseorang yang mengalami setidaknya satu episode manic secara penuh. Di mana seseorang mengalami perubahan mood antara rasa girang dan depresi dnegan diselingi periode antara berupa mood yang normal. Sedangkan, gangguan bipolar 2 ini diasosiasikan dengan suatu bentuk maniak yang lebih ringan. Pada gangguan bipolar 2 ini sesorang mengalami satu atau lebih episode-episode depresi mayor dan paling tidak satu episode hipomanik (Nevid, 2003: 237).


5.      Gangguan Siklotimik
Gangguan siklotimik ini berasal dari kata Yunani kyklos “lingkaran” dan thymos “spirit”. Jadi dapat diartikan bahwa siklotimik ini merupakan spirit yang bergerak secara berputar di mana dapat diartikan sebagai suatu deskripsi yang tepat dari siklotimik karena gangguan ini melibtatkan suatu pola melingkar yang kronis dari gangguan mood yang ditandai oleh perubahan mood ringan paling tidak selama 2 tahun (1 tahun untuk anak-anak dan remaja)(Nevid, 2003: 239). Pada gangguan siklotimik anak dan remaja diperlukan periode satu tahun adanya sejumlah pergeseran mood. Dan pada beberapa remaja siklotimik dapat memungkinkan untuk menjadi gangguan bipolar 1(Kaplan, dkk, 1997: 814).
Pada penderita gangguan siklotimik, penderita mengalami pergantian suasana perasaan senang dan depresi yang bersifat kronis yang tidak sampai pada tingkat keparahan seperti episode manic atau depresi berat. Pada para gangguan siklomatik cenderung berada di salah satu keadaan suasana perasaan selama bertahun-tahun dengan relative sedikit periode suasana netral (eutimia). Penderita gangguan siklomatik ini secara berganti-ganti akan mengalami gejala-gejala keadaan depresi ringan dan umumnya disebut sebagai moody(Durand, 2006: 282).
6.      Kehilangan
Kehilangan adalah keadaan duka cita yang berhubungan dengan kematian seseorang yang dicintai yang dapat ditemukan dengan gejala yang karakteristik dari episode depresif berat. Orang dengan kehilangan ini umumnya dapat dikenali dari gejala-gejala berikut :
a)      Perasaan sedih,
b)      Insomnia,
c)      Menghilangnya nafsu makan,
d)     Dan di beberapa kasus terjadi penurunan berat badan.
Dan jika pada anak-anak umumnya mereka lebih menarik diri dan terlihat sedih; dan mereka tidak mudah ditarik meskipun aktivitas itu merupakan aktivitas yang mereka sukai (Kaplan, dkk, 1997: 815).
7.      Bunuh Diri
Perilaku bunuh diri bukanlah suatu gangguan psikologis, tetapi sering merupakan cirri atau symptom dari gangguan psikologis yang mendasarinya, dan biasanya adalah gangguan mood yang menjadi alasan dibalik perilaku percobaan bunuh diri. Orang yang mempertimbangkan untuk bunuh diri pada saat stress kemungkinan kurang memiliki keterampilan memecahkan masalah dan kurang dapat menemukan cara-cara alternative untuk copping dengan stressor yang mereka hadapi. Dalam kaitannya, bunuh diri ini terkait dengan suatu jaringan yang kompleks dari beberapa factor. Namun, jelas bahwa kebanyakan kasus bunuh diri ini dapat dicegah bila orang dengan perasaan ingin bunuh diri menerima penanganan untuk gangguan yang mendasari perilaku bunuh diri, termasuk didalamnya adalah depresi, skizofrenia, serta penyalahgunaan alcohol dan zat (Nevid, 2003: 262-266).
C.    Faktor-Faktor yang Menyebabkan Gangguan Mood
Dilihat dari beberapa sudut pandang, ada beberapa hal ynag menyebabkan seseorang itu mengalami gangguan mood, dan diantara factor-faktor tersebut adalah :
1.      Faktor Biologis
a.    Pengaruh Keluarga dan Genetik
Dalam kaitannya dengan gangguan mood adalah dalam studi keluarga, para peneliti melihat adanya prevaliansi gangguan tertentu pada anggota-anggota keluarga keluarga tingkat-pertama dari orang-orang yang diketahui memiliki gangguan. Dan mereka menemukan bahwa angka anggota keluarga yang memiliki gangguan suasana perasaan secara konsisten dua sampai tiga kali lebih tinggi fibanding anggota keluarga kelompok control yang tidak memiliki gangguan perasaan. Namun, perlu diketahui bahwa jika salah satu di antara pasangan memiliki gangguan unipolar, maka kemungkinan pasangan kembarnya untuk memiliki gangguan bipolar yang sangat tipis atau sama sekali tidak ada. Dan tingkat keparahan mungkin juga terkait dengan banyaknya concordance (sejauhmana sesuatu dimiliki bersama).
b.   Sistem Neurotransmiter
Gangguan suasana perasaan telah menjadi subjek studi neurobiologist yang lebih intens. Penelitian mengimplikasikan pada tingkat serotonin yang rendah dalam etiologi gangguan suasana perasaan. Hal ini dikarenakan, fungsi primer serotonin adalah mengatur reaksi-reaksi emosional pada manusia. Dalam hipotesis “permisif” penelitian ini mengatakan bahwa ketika tingkat serotonin rendah, neurotransmitter lainnya diizinkan (mood irregularities), termasuk depresi. Anjloknya norepineferin akan menjadi salah satu akibat terjadinya gangguan mood.
c.    Ritme Tidur dan Sirkadian
Gangguan mood yang dialami oleh seseorang ini umumnya dapat dilihat dari pertambahan jam tidur yang semakin meningkat. Dan dalam beberapa tahun telah diketahui bahwa gangguan tidur merupakan salah satu pertanda bagi kebanyakan gangguan perasaan. Hal ini terjadi karena, pada orang-orang yang mengalami depresi hanya ada waktu yang lebih pendek secara signifikan sepelum repid eye movement (REM) sleep dimulai. REM sleep atau non-REM sleep. Pada saat seseorang tetidur, mereka akan melalui beberapa subtahapan tidur yang secara progresif menjadi lebih nyenyak, di mana pada saat itu mereka mencapai tingkat istirahat yang sesungguhnya. Pada prosesnya, setelah 90 menit seseorang mulai mengalami REM sleep, di mana otak terjaga dan kita mulai bermimpi. Mata akan bergerak maju-mundur dengan cepatdi balik kelopak mata, sehingga dinamai dengan repid eye movement sleep. Dan ketika semakin larut, maka banyaknya REM sleep akan semakain bertambah. Sedangkan, pada orang yang menderita depresi akan kehilangan tidur gelombang-lambat mereka.
Selain memasuki periode REM sleep yang jumlah yang jauh lebih cepat, orang dengan depresi ini akan mengalami aktvitas REM yang lebih intens. Tak hanya itu, tahapan tidur yang paling nyenyak hanya berlangsung pendek atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Karena ada beberapa karakteristik tidur hanya terjadi pada saat seseorang sedang mengalami depresi dan tidak terjadi pada saat lainnya.
d.   Aktivitas Gelombang Otak
Ada beberapa indicator yang dapat dilihat dari aktivitas gelombang otak yang menunjukkan adanya kerentanan biologis seseorang terhadap depresi. Hal ini ditunjukkan oleh aktivitas gelombang otak yang didemonstrasikan oleh peneliti bahwa para penderita depresi menunjukkan aktivasi lebih besar pada anterior sebelah kanan (dan lebih kecil pada aktivasi sebelah kiri) disbanding orang-orang yang tidak mengalami depresi (Durand, 2006: 295-299).
2.      Faktor Psikologis
Dalam mengulas kontribusi genetic terhadap penyebab depresi dapat dinyatakan bahwa 60%-80% penyebab depresi dapat diatribusikan pada pengalaman-penagalaman psikologis. Selain itu pengalaman itu bersifat unik untuk masing-masing individu.
a.    Peristiwa Kehidupan yang Stressful
Peristiwa hidup yang penuh dengan tekanan seperti kehilangan orang-orang yang divintai, putusnuya hubungan romantic, lamanya hidup menganggur, sakit fisik, masalah dalam pernikahan dan hubungan, kesulitan ekonomi, dan lain sebagainya ini dapat meningkatkan resiko berkembangnya gangguan mood atau kambuhnya sebuah gangguan mood, terutama depresi mayor. Dan pada orang-orang dengan depresi mayor ini sering kali kurang memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah interpersonal dengan teman, teman kerja atau supervisor.
b.   Teori Humanistic
Menurut teori ini, seseornag menjadi depresi saat mereka tidak dapat mengisi keberadaan mereka dengan makna dan tidak dapat membuat pilihan-pilihan autentik yang menghasilkan self-fulfillment. Kemudian dunia dianggap sebagai tempat yang menjemukan (Nevid, 2003: 240-243).
c.    Learned Helplessness
Learned helplessness merupakan kedaan diri yang selalu membuat atribusi bahwa mereka tidak memiliki kontrol atas stress dalam kehidupannya (baik sesuai kenyataan maupun tidak).
d.   Negative Cognitive Styles
Negative cognitive styles adalah kesalahan berfikir yang difokuskan secara negative pada tiga hal, yaitu dirinya sendiri, dunian terdekatnya, dan masa depannya. Di mana menurut Beck, penderita depresi memandang yang terburuk dari segala hal. Bagi mereka, kemunduran terkevil sekalipun merupakan bencana besar.
3.      Faktor Sosial dan Kultural
Sejumlah faktor social cultural memberikan kontribusi pada onset atau bertahannya dperesi. Faktor yang paling menonjol antara lain adalah hubungan perkawinan, gender, dan dukungan social.
a.    Hubungan Perkawinan
Maksudnya adalah hubungan perkawinan yang tidak memuaskan yang bisa menyebabkan individu bisa mengalami gangguan perasaan seperti depresi.
b.   Perbedaan Gender
Menurut Cyranowski, dkk (2000) Sumber perbedaan ini bersifat cultural, karena peran jenis yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan di masyarakat.  Di mana laki-laki sangat di dorong mandiri, masterful, dan asertif, sedangkan perempuan sebaliknya diharapkan lebih pasif, lebih sensitive terhadap orang lain, dan mungkin lebih banyak bergantung pada orang lain.
c.    Dukungan Social
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Johnson, Winett, dkk (1999) tentang efek-efek dukungan social di dalam kesembuhan yang pesat dari episode manic maupun depresif pada pasien gangguan bipolar, mereka menemukan hasil yang mengejutkan bahwa, jaringan pertemanan, dan keluarga yang suportif secara social membantu terjadinya kesembuhan cepat dari episode depresif, tetapi tidak pada episode manic. Dari hasil penelitian ini dan juga studi-studi prospektif yang dilakukan menguatkan tentang pentingnya dukungan social (atau kekurangan dukungan social) dalam memprediksi onset atau gejala-gejala depresi yang muncul kemudian (Durand, 2006: 303-308).

D.    Terapi untuk Gangguan Mood
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menangani seseorang yang mengalami gangguan mood, beberapa diantaranya adalah :
1.      Pengobatan
Pemberian antidepresian yang dapat membantu memgontrol gejala dan mempertahankan fungsi neurotransmitter. Ada 3 tipe antidepresian yang sering digunakan, yaitu :
a.       Trisiklik (Tofranil, Elavil)
Trisiklik ini berfungsi untuk memberikan efek dengan mendesentralisasi norepinefferin.
b.      Monamine Oxidase Inhibitors (MAOIs)
MAOIs ini berfungsi untuk memblokir enzim MAO yang memogokkan neurotransmitter seperti norepinefrin dan serotonin.
c.       Selective Serotogenic Reuptake Inhibitors (SSRIs)
SSRIs ini secara spesifik memblokir reuptake serotonin pra-sinaptik. Dan secara temporer menaikkan level serotonin dibagian reseptornya.
d.      Lithium  
Lithium ini merupakan garam yang dapat ditemukan dalam kandungan air minum yang kadar jumlahnya sangat kecil hingga tidak memberikan efek apapun. Lithium sendiri memiliki sebuah keunggulan yang membedakannya dari antidepresan lainnya. Karena, substansinya lebih sering efektif untuk mencegah dan menangani episode-episode manic.
2.      Terapi Kognitif-Behavioral
Dalam prosees terapi ini klien diajarkan untuk menelaah secara cermat cara berfikir mereka saat mereka depresi dan untuk menengarai kesalahan-kesalahan “depresif” dalam berpikir. Tak hanya itu, klien juga diajarkan bahwa kesalahan dalam berfikir dapa menyebabkan depresi secara langsung. Dan penanganannya melibatkan tindakan mengkoreksi kesalahan-kesalahan berpikir dan menggantinya dengan pemikiran dan penilaian yang kurang menyebabkan depresi dan (mungkin) lebih relistis.
3.      Psikoterapi Interpersonal (IPT / Interpersonal Psychotheraphy)
IPT atau Psikoterapi Interpersonal ini memfokuskan pada penyelesaian berbagai masalah dalam hubungan yang sudah ada dan belajar membangun hubungan-hubungan interpersonal yang penting dan baru. Dalam proses IPT ini sangat terstruktur. Pada proses awal terapis harus mengidentifikasi berbagai stressor yang mungkin mencetuskan depresi. Setelah itu, terapis mengklasifikasikan dan mendefinisikan sebuah perselisihan interpersonal. Setelah itu, mencari penyelesaiannya dengan :
·         Tahap negosiasi
·         Tahap jalan bunyu
·         Tahap resolusi
4.      ECT (Elektrokonvulsif dan Simulasi Magnetik Transkranial/ TMS)
ECT adalah penangan yang cukup aman dan efektif untuk depresi berat yang tidak menunjukkan perbaikan dengan penanganan bentuk lain. ECT merupakan bentuk penanganan yang dalam pengadministrasiannya pasien diberi anestsesi/ obat bius untuk mengurangi perasaan tidak nyaman dan diberikan obat perelaks otot untuk mencegah kerusakan tulang akibat konvulsi selama sizure (Kejang-kejang). Kemudian listrik diadministrasikan secara langsung melalui otak selama kurang dari satu detik. Bentuk penanganan ECT ini terbukti untuk menaikkan lever serotonin, memblokir hormone-hormon stress dan membantu terjadinya neurogenesis dalam hipokampus.
Sedangkan TMS (Transcrantial Magnetic Simulation) bekerja dengan cara menempatkan sebuah gulungan magnetic diatas kepala untuk membangkitkan denyut elektromagnetik yang dialokasikan dengan tepat. Dalam penanganan ini anastesi tidak dibutuhkan karena, efek sampingnya biasanya terbatas dalam bentuk sakit kepala.
TMS dan ECT ini sama-sama efektif untuk pasien-pasien dengan depresi berat atau depresi psikotik yang resisten dengan penanganan (belum menunjukkan respons terhadap obat atau penanganan psikologis) (Durand, 2006: 311-318).





Daftar Pustaka

ü  Davidson, Gerald C., 2006, Psikoloogi Abnormal, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
ü  Durand, V. Mark, 2006, Psikologi Abnormal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
ü  Jacoby, David B., 2009, Pustaka Kesehatan Populer, PT Bhuana Ilmu Populer
ü  Kaplan, Harold L., dkk, 1997, Sinopsis Psikiatri Jilid 2, Jakarta: Binarupa Aksara
ü  Maslim, Rusdi, 2003, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya
ü  Meier, Paul, dkk, 2000, Mengendalikan Mood Anda, Yogyakarta: Yayasan Andi

ü  Nevid, Jeffrey S., dkk, 2003, Psikologi Abnormal, Jakarta: Erlangga

LAPORAN REVIEW JURNAL KOGNITI (Linguistic Gender and Spoken-Word Recognition in French)


1.    Judul
Linguistic Gender and Spoken-Word Recognition in French (Gender Linguistik Dan Pengenalan Kata Yang Diucapkan Di Perancis)
2.    Nama peneliti
Delphine Dahan, Daniel Swingley, Michael K. Tanenhaus, dan James S. Magnuson
3.    Nama Jurnal
Memory and Language
Volume : 42
Tahun : 2000
Halaman : 465-480
4.    Latar Belakang :
Dipantau dari gerakan mata partisipan Perancis mengikuti instruksi lisan untuk menggunakan mouse komputer untuk mengklik salah satu dari empat gambar yang ditampilkan. Percobaan 1 menunjukkan bahwa, dalam adanya gramatikal gender dalam konteks sebelum nama rujukan [misalnya, cliquez sur les boutons (klik pada (jamak neut.) tombol (masc.))], peserta terpaku gambar dengan nama berbagi awal suara dengan target [misalnya, Bouteilles (botol (fem.))] lebih dari pada gambar dengan fonologis nama yang tidak terkait, replikasi "kohort" efek yang sebelumnya ditemukan dengan paradigma ini. Ketika gendermarked Artikel segera mendahului kata benda [misalnya, cliquez sur le bouton (klik pada (masc.) tombol)], aktivasi awal dari kelompok gender tidak konsisten benar-benar dihilangkan (Percobaan 2). Ini menunjukkan bahwa himpunan kandidat awalnya dipertimbangkan untuk pengakuan benda tersebut dibatasi oleh artikel gender ditandai. Dua rekening alternatif hasil ini, yang didasarkan pada tata bahasa tingkat pengolahan dan yang lainnya didasarkan pada bentuk berbasis statistik, dibahas.
5.    Teori :
Penelitian ini difokuskan pada gender dalam pengakuan diucapkan-kata dalam bahasa Prancis. semua Perancis nomina yang baik feminin atau maskulin. A jender nomina ini adalah fonologis ditandai dalam berbagai cara, termasuk bentuk artikel. Kata benda maskulin didahului dengan pasti pasal le, dan kata benda feminin didahului oleh la. Pertanyaan kita diperiksa adalah bagaimana gender menandai pada artikel tertentu mempengaruhi pengakuan kata benda berikutnya dalam pemahaman lisan bahasa.
Sementara banyak rincian tentang bagaimana berbicara kata diwakili dan diakses tetap kontroversial, itu juga ditetapkan bahwa sebagai sebuah kata terungkap, pengakuan berlangsung dengan latar belakang alternatif sebagian diaktifkan yang bersaing untuk pengakuan. Alternatif yang paling aktif adalah mereka yang paling cocok dengan input (mis., Marslen-Wilson, 1987; Zwisterlood, 1989). Dengan demikian, sebagai pendengar Perancis mendengar bouton (tombol), representasi leksikal kata-kata dengan suara yang mirip, seperti bouteille (botol), akan diaktifkan bersama dengan representasi leksikal dari kata itu sendiri.
Marslen-Wilson dan rekan (Marslen-Wilson, 1987, 1993; Marslen-Wilson & Welsh, 1978) pertama kali dipakai ide ini dalam Cohort yang Model. Menurut model ini, sebuah "kelompok" dari calon leksikal diaktifkan oleh timbulnya suatu kata. Calon Activated yang menjadi tidak konsisten dengan informasi selanjutnya putus kohort. Pengakuan dicapai bila hanya salah satu calon tetap dalam kelompok atau bila aktivasi satu kandidat cukup lebih besar dari kandidat lainnya. Berikut model, seperti TRACE (McClelland & Elman, 1986), Daftar singkat (Norris, 1994), dan NAM (Luce & Pisoni, 1998), juga menganggap bahwa beberapa kandidat diaktifkan, tetapi berbeda dalam asumsi mereka tentang bagaimana set pesaing didefinisikan. Di model ini, kandidat set tidak didefinisikan ketat oleh timbulnya kata; setiap bagian dari masukan akustik dapat berkontribusi untuk aktivasi calon (untuk diskusi lebih lanjut, lihat Allopenna, Magnuson, & Tanenhaus, 1998; Connine, Blasko, & Titone, 1993; Marslen-Wilson & Zwitserlood, 1989).
Seperti contoh lain sementara ambi- guity, proses ambiguitas resolusi untuk sementara kata-kata ambigu bisa, pada prinsipnya, dipengaruhi oleh kendala berkorelasi dari konteks. Perbedaan sering dibuat antara kendala yang mempengaruhi calon yang leksikal pada awalnya diaktifkan dan kendala yang tidak mempengaruhi aktivasi awal melainkan memfasilitasi se- pembacaan antara alternatif diaktifkan. Untuk Misalnya, Zwitserlood (1989) melakukan de- investigasi ekor bagaimana semantik konteks aktivasi pengaruh untuk leksikal kohort kejuaraan- itors. Pada berbagai titik dalam penyajian kata terakhir dari kalimat yang diucapkan, pidato itu terpotong dan kata target yang terkait dengan baik terpotong kata aktual atau pesaing kohort secara visual disajikan untuk keputusan leksikal. Itu konteks sentential sebelum kata terpotong adalah netral atau semantik condong ke kata sebenarnya. Ketika informasi akustik dalam kata dipotong adalah ambigu antara kata itu sendiri dan pesaing kohort nya, keputusan leksikal difasilitasi untuk target as- sociated dengan baik kata sebenarnya atau kelompok yang pesaing, terlepas dari bias yang kontekstual. Bagaimana- pernah, fasilitasi ke target semantik kembali terkait dalam kohort bertahan lebih lama ketika konteks semantik netral daripada ketika itu condong ke kata yang sebenarnya. Atas dasar Analisis ini waktu saja, Zwisterlood menyimpulkan bahwa konteks semantik jenis dia dipelajari tidak mempengaruhi aktivasi awal calon ditetapkan, melainkan dipengaruhi seleksi proses diantara kandidat.
Berbeda dengan literatur tebal pada efek sintaksis-semantik dan konteks pada kata pengakuan, literatur tentang efek morphosyntacticcontext jarang (misalnya, Lukatela, Kostic, Feldman, & Turvey, 1983). Beberapa studi yang telah difokuskan secara khusus pada jenis kelamin telah menemukan efek yang kuat. Cole dan Segui (1994) menemukan bahwa  keputusan leksikal untuk kata benda diperlambat ketika noun didahului oleh penentu gender keanehan atau kata sifat (lihat juga Jakubowicz & Faussart, 1998). Grosjean, Dommergues, Cornu, Guillelmon, dan Besson (1994) menunjukkan bahwa Artikel gender ditandai mendahului gated (dipotong) noun membatasi set alternatif yang dihasilkan oleh peserta, informasi kurang akustik diperlukan untuk mata pelajaran untuk mengenali kata benda ketika sebuah artikel gender ditandai ada daripada saat itu hadir. Selain itu, keputusan leksikal lebih cepat pada kata benda ketika mereka didahului oleh artikel daripada ketika artikel itu dihilangkan.
Grosjean et al. S 'hasil menunjukkan bahwa kehadiran sebuah artikel gender ditandai dapat meningkatkan pengakuan kata benda. Kesimpulan ini didukung oleh Bates, Devescovi, Hernandez, dan Pizzamiglio (1996) di Italia, menggunakan kata-pengulangan, gender monitoring, dan tugas penilaian ketatabahasaan. Kinerja ketiga tugas lebih lambat ketika target benda didahului oleh sifat gender kongruen dan lebih cepat saat didahului oleh kata sifat gender kongruen (relatif terhadap kondisi baseline menggunakan kata sifat yang netral terhadap jender). Meskipun penting, studi ini tidak langsung menyelidiki peran informasi jender pada set kandidat awalnya diaktifkan. Secara khusus, mereka tidak menilai apakah calon yang berbagi onset sama dengan target tapi ketidaksesuaian konteks morfosintaktis awalnya diaktifkan.
Dalam rangka untuk menentukan apakah gender ditandai Artikel sebelumnya kata benda yang dapat mempengaruhi calon leksikal memasuki set pesaing, kita memeriksa aktivasi pesaing gender tidak konsisten yang cocok dengan suara awal dari kata target, tetapi serasi gender menandai pada artikel. Kami menilai kohort pesaing aktivasi dengan menggunakan kepala dipasang paradigma eye tracking, diperkenalkan oleh Tanenhaus, Spivey-Knowlton, Eberhard, dan Sedivy (1995) untuk mempelajari proses yang diucapkan-bahasa dalam konteks visual dan dikembangkan lebih lanjut oleh Allopenna et al. (1998) untuk mengeksplorasi diucapkan- pengenalan kata (lihat juga Cooper, 1974; Tanenhaus & Spivey-Knowlton, 1996). dalam studi, para peserta mengikuti instruksi lisan untuk memanipulasi baik benda nyata atau gambar yang ditampilkan di layar komputer, sementara mereka gerakan mata yang dimonitor menggunakan kamera ringan dipasang pada ikat kepala. Mata gerakan ke obyek di tempat kerja yang erat waktu dikunci untuk merujuk ekspresi dalam aliran pidato berlangsung, menyediakan ukuran sensitif dan nondisruptive pemahaman lisan bahasa.
Dalam penelitian ini, peserta Perancis disajikan dengan layar komputer terdiri dari fiksasi salib berpusat dan empat gambar dan diberi instruksi lisan untuk mengklik salah satu gambar menggunakan mouse [misalnya, cliquez sur le bouton (klik pada (masc.) tombol (masc.))]. Keempat gambar disertakan target (misalnya, bouton), pesaing kohort (selanjutnya, kohort) [misalnya, bouteille (botol (fem.))], dan dua distractors (lihat Gambar. 1). Dengan merekam mata fiksasi yang dihasilkan selama presentasi kata bouton sasaran, kami mampu menilai aktivasi dari kelompok gender tidak konsisten bouteille. Penelitian ini meneliti apakah Artikel gender ditandai mempengaruhi calon awalnya dipertimbangkan untuk pengakuan kata benda berikut.
6.    Metode :
·      Variabel Bebas
Linguistik Gender
·      Variabel Terikat
Pengenalan Kata
·      Subjek
Penduduk asli perancis
7.    Hasil
Uji aktivasi kohort. Selama 300 – untuk 700-ms jendela waktu, proporsi fixa- tions untuk target adalah 47,7%, untuk kohort pesaing, 21,2%, untuk masing-masing distraktor, 12,1%; dan salib, 7,0%. perbandingan direncanakan (uji t satu ekor) antara fiksasi ke kohort pesaing dan distraktor rata-rata dilakukan. Kelompok pesaing adalah fix- diciptakan lebih lama dari distraktor (t 1 (11) ϭ 2.72, p Ͻ .05, t 2 (31) ϭ 3.26, p Ͻ  005). hasil ini menunjukkan bahwa pesaing kohort diaktifkan selama presentasi dari target kata sebagai akibat dari kesamaan fonologi untuk target.
Gambar 2 menampilkan kemungkinan terpaku target dan kohort dan rata-rata kemungkinan di terpaku distraktor dari waktu ke waktu, dari 0-1000 ms setelah nomina onset. Grafik menunjukkan bahwa probabilitas terpaku kohort mulai menyimpang dari kemungkinan yang terpaku distraktor sekitar 300 ms setelah nomina onset dan tetap tinggi sampai lama setelah 700 ms. Perbandingan pada fiksasi selama 300 – 500-ms jendela dan 500 - ke jendela 700-ms con- menguat pengamatan ini (pada 300 – untuk 500-ms window, t 1 (11) ϭ 2.58, p Ͻ .05; t 2 (31) ϭ 3.61, p Ͻ .001, pada 500 - untuk 700-ms window, t 1 (11) ϭ 2,08, p Ͻ .05, t 2 (31) ϭ 1.88, p Ͻ .05). Untuk menguji perbedaan fiksasi akan- kedepan 300 - 700 ke jendela-ms, ANOVA dilakukan pada fiksasi ke target, kohort pesaing, dan jebakan atas pertama 300 ms setelah onset sasaran menunjukkan bahwa proporsi fiksasi berbeda (F 1 (2, 22) ϭ 7.0, p Ͻ .01, MSE ϭ 0,0053, F 2 (2, 62) ϭ 4.61, p Ͻ .05, MSE ϭ 0,0243). Tes Newman Keuls indi- diindikasikan bahwa proporsi fiksasi ke Target yang lebih tinggi daripada yang lain pic- membangun struktur, tetapi fiksasi untuk kohort tidak berbeda dari mereka yang distraktor. Ini awal keuntungan bagi terpaku target harus attrib- usikan ke noise-mengingat jumlah agak kecil dari pengamatan dan tidak bias untuk dirujuk gambar, karena setiap item dari target-kohort pasangan ini alternatif digunakan sebagai acuan ini.
Kami juga melakukan analisis kontingen oleh memilih uji coba yang peserta terpaku baik salib atau salah satu pengganggu pada awal target kata benda (112 dari 192 percobaan, 58,3%). Gambar 3 menyajikan fiksasi prob- kemampuan untuk target, kohort, dan rata- distractors aged waktu. Jika subjek penelitian yang awalnya terpaku satu distraktor kemungkinan yang sama untuk bergeser ke jebakan lain atau kelompok, fiksasi untuk kohort tidak akan diharapkan untuk naik di atas fiksasi ke distraktor. Namun, seperti ditunjukkan pada Gambar. 3, subjek penelitian yang awalnya terpaku satu distraktor lebih cenderung bergeser ke kohort daripada terus terpaku jebakan. Ini con- Analisis tingent menunjukkan bahwa "kelompok" Efek terlihat di atas seluruh set percobaan tidak bisa dikaitkan dengan perbedaan dasar dalam mata pelajaran ' fiksasi awal. Fiksasi untuk kohort yang jauh lebih tinggi dari fiksasi ke konsentrasi terganggu- tor dari 300 sampai beberapa ratus milidetik setelah onset sasaran (300-500 ms, t 1 (11) ϭ 2.02, p Ͻ 0,5, t 2 (31) ϭ 2.74, p Ͻ 01, dari 500 700 ms, t 1 (11) ϭ 2,43, p Ͻ .05, t 2 (31) ϭ 1.8, p Ͻ .05). Probabilitas terpaku target tidak berbeda secara signifikan dari probabilitas dari terpaku kohort sampai 500 ms setelah sasaran onset (300-500 ms, t 1 Ͻ 1, t 2 Ͻ 1, dari 500 sampai 700 ms, t 1 (11) ϭ 6.97, p Ͻ .01, t 2 (31) ϭ 5.08, p Ͻ 01).
8.    Pembahasan
Penelitian ini menyelidiki penggunaan morfologi konteks pengakuan yang diucapkan-kata. Secara khusus, itu difokuskan pada apakah pendengar Perancis menggunakan gender Informasi yang ditandai sebelum kata benda untuk membatasi himpunan kandidat leksikal aktif bagi mereka yang mencocokkan informasi ini gender. Dalam rangka untuk menilai aktivasi kata gender tidak konsisten, kita subyek Perancis disajikan dengan empat gambar dis- bermain dan instruksi lisan meminta subyek untuk klik pada salah satu gambar (misalnya, gambar yang tombol, bouton, yang merupakan noun masculine). Pra- sented dengan gambar sasaran adalah "kelompok" pic- ture yang namanya berbagi suara awal kata target tapi yang gender yang berbeda (misalnya, gambar botol, bouteille, feminin noun) dan dua gambar distraktor yang namanya tidak fonologis mirip dengan target atau kata kohort. Gerakan mata untuk foto-foto itu ditafsirkan sebagai bukti untuk aktivasikata sesuai dengan gambar-gambar. Dengan demikian, fiksasi yang lebih besar dengan gambar kohort daripada ke distractors sebagai kata target dilipat dari waktu ke waktu aktivasi sementara menunjukkan jenis kelamin-mis- pencocokan kohort pesaing. aktivasi Cohort ditemukan ketika kata target didahului oleh gender-netral artikel, les (Percobaan 1), bagaimana- pernah, tidak ada aktivasi kohort ditemukan ketika gen- Artikel der-ditandai segera mendahului tar- mendapatkan kata (Percobaan 2).
Hasil ini membuktikan bahwa set awal calon leksikal dapat dibatasi oleh
sebelumnya konteks: Sementara aktivasi kohort ditemukan ketika konteksnya tidak mengandung jenis kelamin informasi, tidak ada aktivasi seperti yang diamati ketika sebuah artikel gender ditandai segera pre- menyerahkan kata target. Untuk memahami bagaimana Artikel gender ditandai mempengaruhi diucapkan-kata pengakuan, adalah penting untuk membedakan antara mungkin nosional, tata bahasa, dan berbasis Form
efek. Pertama, aktivasi dari artikel bisa mengaktifkan konsep nosional maskulin atau fem- inine, sehingga biasing konsep leksikal gender Kata konsisten. Namun, ini tampaknya sangat tidak mungkin, mengingat tidak adanya konsep yang jelas dan berkorelasi persepsi gender dalam bahasa Prancis. Beberapa entitas memiliki nama yang jelas mas- culine atau feminin berdasarkan melekat mereka gender, seperti kata benda digunakan untuk merujuk kepada laki-laki dan perempuan, sedangkan kata benda lain cenderung maskulin atau feminin berdasarkan bentuk (misalnya, benda bulat cenderung memiliki nama feminin dengan jender, misalnya, Bem, 1981). Namun, bagi sebagian entitas, jenis kelamin tidak dapat diprediksi dari salah sifat fisik atau fungsi rujukan, seperti bentuk atau ukuran.
Kemungkinan kedua adalah bahwa pendengar menggunakan gramatikal gender ditandai pada artikel untuk membatasi pesaing diatur untuk kata-kata yang konsisten dengan jenis kelamin ini gramatikal. Ini kendala adalah produk dari struktur gramatikal- ture bahasa. Dalam frase nomina, kepala noun, artikel, dan setiap kata sifat yang mungkin harus setuju gender. Ketergantungan ini bisa dinyatakan dalam bentuk probabilitas untuk sebuah kata untuk muncul, mengingat gramatikal gender dari konteks yang mendahuluinya, dan mungkin parsial infor- masi dari kata target itu sendiri-untuk ujian- Misalnya, probabilitas dari bouton kata dalam konteks informasi akustik / bu / pre- menyerahkan berdasarkan gender maskulin. Kendala ini bisa dipakai oleh priming semua benda konsisten dengan jenis kelamin kode pada artikel dan / atau menghambat orang lain. Ketika pertama suara kata target tiba, kata-kata yang konsisten dengan jenis kelamin menandai telah prima, dan pesaing yang tidak konsisten dengan jenis kelamin menandai, seperti kohort pesaing, telah menghambat dan karena itu tidak akan menjadi aktif meskipun mereka sama- ity ke bentuk sasaran-kata. Pada akun ini, salah satu akan mengharapkan untuk melihat lebih banyak fiksasi terhadap gender gambar yang cocok daripada gender ketidakcocokan gambar, karena kata-kata yang terkait dengan gender gambar yang cocok akan telah prima. Namun, baik Percobaan 1 atau Percobaan 2 menunjukkan bukti lebih terlihat gender distractors cocok daripada gender ketidakcocokan distractors.
Namun demikian, kita tidak bisa mengecualikan kemungkinan bahwa priming terjadi tapi terlalu lemah untuk dapat diamati tanpa adanya bot- Informasi tom-up konsisten dengan gender pencocokan kandidat leksikal. Atau, efek gramatikal gender mungkin ex- ditekan sebagai probabilitas kondisional, di mana probabilitas dari kata bergantung terjadi secara pada saat gramatikal gender dalam konteks (misalnya, berapa probabilitas dari kata bouton, mengingat partial input / bu / dan Informasi jender maskulin yang mendahului itu). Krusial, ini keteraturan distribusi akan dihitung dengan menggunakan tata bahasa catego-Ries (yaitu, feminin atau maskulin). Pada ac- menghitung, akses leksikal akan memanfaatkan infor- masi dari tingkat gramatikal bahasa pengolahan.
Kemungkinan ketiga adalah bahwa linguistik bentuk menandai jenis kelamin, daripada grammati-kategori kal, pengaruh akses dari berturut-turut pada noun quent. Keteraturan distribusi bisa dihitung antara bentuk-diawali ing kata (atau urutan fonem) dan bentuk kata berikut: Sebagai yang pertama suara dari kata sasaran didengar mengikuti Artikel gender yang ditandai (mis., / l bu /, lebou. . .), Probabilitas dari kata target menjadi bouton dalam konteks le tinggi, sedangkan probabilitas dari kata target menjadi bouteille dalam konteks ini sangat rendah, berdasarkan statistik berbasis suara bahasa. Pasal-benda co-kejadian di Perancis adalah sangat tinggi: Ada sepuluh kuat dency untuk kata benda terjadi dengan menyertainya-Nying penentu, dan sandang adalah digunakan bahkan dalam kasus-kasus di mana tidak ada penentu adalah semantik yang diperlukan (misalnya, saya suka keju, j'aime le fromage, Harris, 1990). Selain itu, meskipun kata sifat dapat disisipkan di antara penentu dan kata benda, mereka sering terjadi setelah kata benda. Pada akun ini, sistem pengolahan akan melacak suara berbasis kontingensi-an kebijakan dan menggunakan kontinjensi ini selama word pengakuan.
Perbedaan antara bentuk-based dan efek berbasis tata bahasa yang halus, tetapi penting. Tata bahasa Perancis menetapkan bahwa mas-culine pasal le mendahului bouton, yang merupakan mas- culine. Hasil tata bahasa dalam statistik ini Fakta tentang / l / dan bouton. Tapi sensitivitas POSSI ble pendengar 'untuk fakta ini dalam pengenalan kata bisa mencerminkan salah kepekaan terhadap grammati- kal aturan, didefinisikan dalam istilah kategori "mas- culine "dan" feminin ", atau kepekaan terhadap co-terjadinya bentuk / l / dan / tapi / mereka-diri.
Kedua account mungkin sangat berbeda konsekuensi pada arsitektur yang diucapkan- sistem pengenalan kata dan pengolahan berlangsung. Penelitian ini tidak memungkinkan kita untuk memutuskan apakah gramatikal gender dibawa oleh artikel, atau tinggi bentuk berbasis co-kejadian dengan target, terkendala pesaing yang ditetapkan oleh mengecualikan gender ketidakkonsistenan konsisten kohort pesaing. Untuk menggoda selain alternatif ini, perlu untuk menciptakan con- teks di mana informasi gramatikal gender mendahului kata benda, tetapi bentuk-bentuk yang membawa informasi gender dan target memiliki hubungan- tively rendah co-kejadian. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan frekuensi yang lebih rendah artikel gender ditandai, dengan pengusahaan satu atau lebih kata-kata antara gender ditandai definite article dan kata benda, atau dengan menggunakan kata frekuensi yang lebih rendah, seperti kata sifat, untuk memberikan informasi gender. Penelitian ini menggunakan strategi ini saat ini sedang dalam kemajuan di laboratorium kami.

Dalam kebanyakan model pengakuan yang diucapkan-kata, aktivasi leksikal terutama fungsi dari tingkat kecocokan antara kata yang diucapkan dan disimpan representasi leksikal, dimodulasi oleh char acteristics dari kata itu sendiri, seperti frekuensi. Studi ini menunjukkan bahwa aktifasi leksikal awal tion dapat dibatasi oleh pidato eksternal ke kata itu sendiri. Sebuah laporan lengkap pengenalan kata dipidato berkelanjutan sehingga harus mengacu pada konteks sebelum kata.