Muhammad Antoso


Selamat Datang di Blogs Antok Pemuda Sumenep Semoga Bermanfaat

Sabtu, 07 September 2013

MODUL PSIKODIAGNOSTIK IV (ABILITY TEST)


Kelas Psikologi 6/G2
 








Dosen pengampu:
 Lailatul M. Hanim, S.Psi

MOH ANTOSO         (B07210076)
                                   
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
 SURABAYA
2013
A.    Deskripsi
Secara sistematis isi kepribadian dapat digambarkan dalam proses psikodiagnostik mengacu pada individual differences meliputi aspek kognisi (proses berfikir), aspek perasaan (afeksi dan dorongan), aspek sensorik dan motorik, aspek relasi antarpersonal dan penyesuaian diri serta integrasi dari keseluruhan aspek. Seluruh aspek ini dijaring melalui bantuan teknik, metode dan cara yang dikembangkan oleh masing-masing media pemeriksaan psikologi dalam proses asesmen.
Pemeriksaan psikologi melalui psikodiagnostik adalah suatu proses yang berlangsung dalam waktu tertentu, dengan maksud untuk:
·      Memperoleh data serta informasi tentang subyek yang diperiksa, khususnya informasi tentang potensi serta kelemahan yang ia miliki.
·      Menginterpretasikan data atau informasi yang didapatkan sehingga diperoleh kejelasan tentang gambaran testee.
·      Memprediksikan hasil interpretasi tentang gambaran testee sehingga dapat diberikan perlakuan atau intervensi yang tepat bagi petkembangan dan perubahan perilaku testee.
Secara umum dapat dijelaskan bahwa modul ini akan membahas tentang tes kemampuan atau ability test. Ability test adalah tes yang didesain untuk mengukur kemampuan penalaran logis atau kemampuan berpikir seseorang. Pada tes ini testee akan dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan kemampuan intelegensi, seperti pemahaman masalah-masalah sehari-hari, logika berfikir, daya abstraksi, kemampuan menyelesaikan permasalahan, strategi berfikir, daya ingat, kemampuan teknis dan hal-hal lain yang terkait dengan fungsi kognitif. Intinya tes ini mengukur segala sesuatu terkait potensi intelegensi dan optimalisasi dari potensi tersebut saat ini.
B.     Prasyarat
Mahaiswa yang dapat mengikuti mata kuliah Psikodiagnostik IV ini adalah mahasiswa yang lulus pada mata kuliah Psikodiagnostik I sampai dengan III.
C.    Petunjuk Penggunaan Modul
1.    Penjelasan Bagi Mahasiswa
·      Modul ini berisi materi praktikum beserta petunjuk teknis dan informasi yang mendukung pelaksanaan praktikum.
·      Mahasiswa harus memahami dengan baik isi dan penggunaan modul ini agar kegiatan belajar mengajar menjadi lancar. Apabila mengalami kesulitan atau hambatan, mahasiswa harus segera melakukan konsultasi dengan dosen pengampu.
·      Mahasiswa perlu mempersiapkan alat yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan praktikum.
·      Modul ini dilengkapi dengan studi kasus yang dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa. Setiap studi kasus harus dikerjakan dengan benar sesuai dengan petunjuk serta waktu yang ditentukan.
2.    Peran Dosen/ Fasilitator
·      Memberikan penjelasan kepada mahasiswa terkait materi yang terdapat di modul praktikum.
·      Menyediakan waktu untuk melakukan konsultasi kepada mahasiswa.
·      Memberikan feedback atau umpan balik atas kemampuan atau tugas yang dikerjakan mahasiswa.
·      Memberikan penilaian sesuai dengan kemampuan mahasiswa

D.    Tujuan Akhir Standar Kompetensi
1.    Mahasiswa dapat mengenal alat tes dalam ability test baik untuk setting individual dan klasikal yaitu BINET, WISC, WAIS, IST, CFIT, dan tes bakat & minat.
2.    Mahasiswa dapat memahami pengadministrasian alat tes BINET, WISC, WAIS, IST, CFIT, dan tes bakat & minat.
3.    Mahasiswa mampu melakukan role play alat tes BINET, WISC, WAIS, IST, CFIT, dan tes bakat & minat
4.    Memahami persoalan psikologis yang muncul dalam ability test.

1.      STANDFORD BINET
Tes Binet merupakan salah satu alat tes yang dikembangkan oleh Standford Binet untuk mengukur intelegensi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dengan berbagai level usia, yaitu mulai usia II sampai dengan Dewasa Superior. Diantara usia II sampai V tesnya meningkat dengan interval setengah tahunan sehingga terdapat test untuk usia II, usia II-6, usia III, usia III-6 dan seterusnya. Diantara usia V sampai dengan XIV level usia meningkat dengan interval 1 tahunan. Level-level selanjutnya dimaksudkan sebagai level dewasa rata-rata dan level dewasa superior I, II dan III. Setiap level usia dalam skala ini berisi 6 test, kecuali untuk level dewasa rata-rata yang berisi 8 test.
a.         Tujuan Praktikum
·           Mahasiswa lebih memahami materi, alat binet dan mampu
·           mengadministrasikan alat dengan baik.
·           Mahasiswa mampu melakukan tahapan-tahapan tes binnet dengan benar/ melakukan role play.
·           Mahasiswa mampu melakukan skoring tes binnet dengan benar
·           Mahasiswa mengenali kesulitan-kesulitan atau masalah-masalah yang mungkin muncul dalam pengadminsitrasian tes binet.
b.        Materi
Dalam pelaksanaan praktikum, mahasiswa perlu memastikan kelengkapan alat yang akan menunjang kegiatan praktikum, alat-alat yang harus dipersiapkan adalah :
·           Binet box
·           Lembar jawaban
·           Stopwatch
·           Alat tulis
Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanaan pengetesan binnet ini adalah terjalinnya rapport yang baik antara tester dengan testee. Binet adalah alat yang digunakan untuk mengukur tingkat intelegensi pada anak-anak, sehingga tester perlu melakukan rapport secara intens dengan testee. Selain itu tester juga perlu terus menjaga motivasi testee agar pelaksanaan praktikum berjalan lancar sampai dengan tahapan dimana tes harus berakhir. Pada dasarnya waktu pelaksanaan tes binet tidak ditentukan karena memang tes binet ini bukan termasuk speed test.
c.         Tahapan yang harus dilakukan.
·           Menghitung CA (Chronological Age/ Usia Kronologis)
CA adalah usia testee saat dilakukan pengetesan. CA didapatkan dari penghitungan usia mulai dari tanggal lahir sampai tanggal pelaksanaan tes. CA ini dipergunakan sebagai patokan untuk entry tahapan usia, dimana persoalan yang diberikan mundur ke satu tahapan dari usia testee yang sebenarnya.
Contoh :
Tanggal tes      27 Maret 2010
Tanggal lahir   10 Januari 2004
Maka CA testee adalah 6 tahun 2 bulan 17 hari atau 6 tahun 3 bulan, maka pada saat tes, tester sebaiknya memulai memberikan persoalan pada tahapan usia V (mundur satu tahap dari usia yang sebenarnya).
·           Menghitung MA (Mental Age/ Usia Mental).
MA atau usia mental adalah usia dimana testee berada pada level kemampuan usia mental tertentu. MA di dapatkan dari penjumlahan skor setelah Basal dampai dengan sebelum Celling. Basal adalah kondisi dimana testee mampu menjawab semua persoalan dalam satu tahapan usia. Celling adalah kondisi dimana testee gagal menjawab semua persoalan dalam satu tahapan usia.

·           Menghitung IQ
IQ didapatkan dengan rumus sebagai berikut :
IQ = MA x 100
         CA
Contoh Skoring Binet
NAMA             : A                                         
TGL LAHIR    : 11 DESEMBER 1999
TGLTES           : 8 MEI 2004
CA = 4 tahun 5 bulan
Tahun
No Soal
Ket
1
2
3
4
5
6
IV
+
+
+
+
+
+
BASAL
IV.6
+
-
-
+
+
-
3
V
+
+
+
+
-
-
8
VI
-
-
-
-
+
+
4
VII
-
-
+
+
-
-
4
VII
-
-
-
-
+
-
2
IX
-
-
-
-
-
-
0
Tahun
Skor
IV
BASAL
IV.6
3
V
8
VI
4
VII
4
VIII
2
IX
0
TOTAL
21 BULAN
MA
69
CA
53
IQ
130

Lembar Latihan Mahasiswa
NAMA                   : B
TGL LAHIR         : 17 APRIL 1996
Tahun
No Soal
Keterangan
1
2
3
4
5
6
IV
+
+
+
+
+
+

IV.6
+
+
+
-
-
-

V
+
+
-
-
-
+

VI
+
-
-
+
-
-

VII
+
-
-
-
-
-

VIII
-
-
-
-
-
-

TGL TES               : 8 AGUSTUS 2001
Tahun
Skor
IV

IV.6

V

VI

VII

VIII

TOTAL

MA

CA

IQ




NAMA                   : C
TGL LAHIR           : 2 NOVEMBER 1993
TGLTES                  : 19 OKTOBER 1999
Tahun
No Soal
Keterangan
1
2
3
4
5
6
VI
+
+
+
+
+
+

VII
+
+
+
+
-
-

VIII
+
+
+
-
-
-

IX
+
+
-
-
-
+

X
-
+
+
-
-
-

XI
-
-
-
-
-
-

Tahun
Skor
VI

VII

VIII

IX

X

XI

TOTAL

MA

CA

IQ


2.      WISC
WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) mengalami revisi terakhir pada tahun 1974 bertujuan untuk mengukur inteligensi anak-anak usia 6 tahun sampai dengan 15 tahun. WISC atau WISC-R terdiri dari 12 subtes yang terbagi menjadi dua bagian yaitu Verbal dan Performance. Sub tes dalam skala verbal adalah information, comprehension, arithmetic, similarities, vocabulary dan digit span. Sedangkan sub tes dalam skala performance adalah picture completion, picture arrangement, block design, object assembly, coding dan mazes. Sub tes digit span dan mazes hanya digunakan sebagai persediaan apabila diperlukan penggantian tes.

a.    Tujuan Praktikum.
·      Mahasiswa lebih memahami materi, alat dan mampu mengadministrasikan WISC dengan baik.
·      Mahasiswa mampu melakukan tahapan-tahapan WISC dengan benar/ melakukan role play.
·      Mahasiswa mampu melakukan skoring WISC dengan benar
·      Mahasiswa mengenali kesulitan-kesulitan atau masalah-masalah yang mungkin muncul dalam pengadminsitrasian tes WISC.
b.   Materi
Dalam pelaksanaan praktikum, mahasiswa perlu memastikan kelengkapan alat yang akan menunjang kegiatan praktikum, alat-alat yang harus dipersiapkan adalah :
·      WISC box
·      Lembar jawaban
·      Stopwatch
·      Alat tulis
Sama halnya dengan pelaksanaan tes binet, dalam tes WISC juga tester perlu melakukan rapport secara intens sebelum melakukan pengetesan karena bagaimanapun menjaga mood dan motivasi anak lebih sulit dibandingkan dengan remaja atau dewasa. Pelaksanaan tes juga tidak dibatasi oleh waktu, hanya ada beberapa persoalan saja yang menggunakan batasan waktu.
c.    Tahapan yang harus dilakukan
·      Menghitung Usia
Norma WISC adalah berdasarkan usia testee sehingga tester harus mengetahui usia testee saat di tes.
·      Melakukan pengetesan.
Dalam buku manual WISC terdapat panduan secara detail apa yang perlu diucapkan oleh tester ketika melaksanakan tes. Tester harus mengikuti prosedur tersebut dengan baik. Selain itu di dalam manual tersebut juga terdapat petunjuk terkait soal nomor berapa yang harus diberikan kepada testee, soal mana yang tidak perlu diberikan serta kapan tester harus berhenti memberikan pertanyaan dalam setiap sub test, karena memang dalam WISC, tidak semua soal perlu diberikan kepada testee.

·      Melakukan skoring
Buku manual WISC juga memberikan informasi kepada tester nilai yang bisa diberikan dalam setiap jawaban testee (terdapat kunci jawaban). Setelah semua jawaban diskoring dan ditotal pe rsub tes maka nilai masing-masing sub test ini menjadi nilai di raw score. Raw score ini perlu dijadikan Scale Score berdasarkan norma sesuai dengan usia testee.
·      Menghitung IQ
IQ yang diperoleh di tes WISC ini ada tiga yaitu IQ Verbal, IQ Performance dan IQ Lengkap. IQ Verbal didapatkan dari penyesuaian antara jumlah angka skala verbal dengan norma verbal sesuai dengan usia testee. IQ Performance di dapatkan dari penyeusian antara jumlah angka skala performance dengan norma performance sesuai usia testee. Sedangkan IQ Lengkap didapatkan dari penyesuaian antara jumlah angka skala verbal dan angka skala performance dengan norma skal lengkap.

Contoh Lembar skoring WISC
Nama                    : XX                                        Tgl. Lahir        :
Jenis Kelamin       : Laki-laki                                Umur               : 15 th 0 bulan
Pekerjaan              : -                                             Tester              :
Pendidikan           : SLTP                                     Tanggal tes      :
No
RINGKASAN
Tes
Angka Kasar
Angka Skala
Keterangan
1.
Informasi
12
5

2.
Pengertian
16
9

3.
Hitungan
11
8

4.
Persamaan
10
7

5.
Perbedaharaan kata
35
6

6.
(Rentangan Angka)
8
6


Angka Verbal : 38

7.
Melengkapi gambar
13
9

8.
Mengatur gambar
8
1

9.
Rancangan balok
35
10

10.
Merakit obyek
24
9

11.
Simbol
54
10

12.
(Mazes)
-
-

Angka Performance : 39
Angka Total
Angka Verbal : 5/6 X 38= 32                                 IQ= 77
Angka Performance : 39                                        IQ= 85
Angka Skala Lengkap :  71                                    IQ= 79

Original IQ nya adalah : 5+7+10  X 100 = 73 à
                                           3
Lembar Latihan Mahasiswa.
NAMA                   : A
TGL LAHIR         : 1 JANUARI 2000
TGL TES               : 3 DESEMBER 2009
NO
RINGKASAN
TES
ANGKA KASAR
ANGKA SKALA
1.
INFORMASI
12

2.
PENGERTIAN
10

3.
HITUNGAN
12

4.
PERSAMAAN
5

5.
PERBENDAHARAAN KATA
22

6.
(RENTANGAN ANGKA)
-

JUMLAH ANGKA VERBAL =
7.
MELENGKAPI GAMBAR
7

8.
MENGATUR GAMBAR
12

9.
RANCANGAN BALOK
6

10.
MERAKIT OBYEK
16

11.
SIMBOL
22

12.
(MAZES)
9

JUMLAH ANGKA PERFORMANCE =
ANGKA TOTAL
ANGKA VERBAL                 =                                                                IQ  =
ANGKA PERFORMANCE   =                                                                IQ  =
ANGKA SKALA LENGKAP  =                                                              IQ  =

NAMA                   : B
TGL LAHIR         : 1 NOVEMBER 1997
TGL TES               : 1 JANUARI 2007
NO
RINGKASAN
TES
ANGKA KASAR
ANGKA SKALA
1.
INFORMASI
12

2.
PENGERTIAN
11

3.
HITUNGAN
6

4.
PERSAMAAN
12

5.
PERBENDAHARAAN KATA
27

6.
(RENTANGAN ANGKA)
7

JUMLAH ANGKA VERBAL
7.
MELENGKAPI GAMBAR
9

8.
MENGATUR GAMBAR
20

9.
RANCANGAN BALOK
21

10.
MERAKIT OBYEK
11

11.
SIMBOL
31

12.
(MAZES)
-

JUMLAH ANGKA PERFORMANCE
ANGKA TOTAL
ANGKA VERBAL                 =                                                                IQ  =
ANGKA PERFORMANCE   =                                                                IQ  =
ANGKA SKALA LENGKAP  =                                                              IQ  =



3.      WAIS
WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) adalah tes inteligensi yang digunakan untuk mengukur potensi inteligensi remaja dan dewasa antara usia 16 tahun sampai dengan 75 tahun atau lebih yang disajikan secara individual. WAIS terdiri dari 11 sub tes yang terbagi kedalam dua bagian yaitu Verbal dan Performance. Verbal memiliki 6 sub tes dan performance memiliki 5 sub tes. Sub tes verbal yaitu informasi, pengertian, hitungan, persamaan, rentang angka dan perbendaharaan kata. Sementara sub tes performance adalah symbol angka, melengkapi gambar, rancangan balok, mengatur gambar dan merakit obyek.
a.         Tujuan Praktikum.
·           Mahasiswa lebih memahami materi, alat dan mampu mengadministrasikan WAIS dengan baik.
·           Mahasiswa mampu melakukan tahapan-tahapan pengetesan WAIS dengan benar/ melakukan role play.
·           Mahasiswa mampu melakukan skoring WAIS dengan benar
·           Mahasiswa mengenali kesulitan-kesulitan atau masalah-masalah yang mungkin muncul dalam pengadminsitrasian tes WAIS.
b.        Materi
Dalam pelaksanaan praktikum, mahasiswa perlu memastikan kelengkapan alat yang akan menunjang kegiatan praktikum, alat-alat yang harus dipersiapkan adalah :
·           WAIS box
·           Lembar jawaban
·           Stopwatch
·           Alat tulis
c.         Tahapan yang harus dilakukan
·           Menghitung Usia
Norma WAIS adalah berdasarkan usia testee sehingga tester harus mengetahui usia testee saat di tes.
·           Melakukan pengetesan.
Dalam buku manual WAIS terdapat panduan secara detail apa yang perlu diucapkan oleh tester ketika melaksanakan tes. Tester harus mengikuti prosedur tersebut dengan baik. Selain itu di dalam manual tersebut juga terdapat petunjuk terkait soal nomor berapa yang harus diberikan kepada testee, soal mana yang tidak perlu diberikan serta kapan tester harus berhenti memberikan pertanyaan dalam setiap sub test, karena memang dalam WAIS, tidak semua soal perlu diberikan kepada testee.
·           Melakukan skoring
Buku manual WAIS juga memberikan informasi kepada tester nilai yang bisa diberikan dalam setiap jawaban testee (terdapat kunci jawaban). Setelah semua jawaban diskoring dan ditotal per sub tes maka nilai masing-masing sub test ini menjadi nilai di raw score. Raw score ini perlu dijadikan Scale Score berdasarkan norma sesuai dengan usia testee. Seperti yang sudah dijelaskan diatas bawah jumlah sub tes antara verbal dan sub tes performance tidak seimbang yaitu 6 dan 5 maka untuk mendapatkan perbandingan skor yang seimbang antara verbal dan performance, jumlah angka skala verbal perlu dikonversi dengan dikalikan 5/6.
·           Menghitung IQ
IQ yang diperoleh di tes WASC ini ada tiga yaitu IQ Verbal, IQ Performance dan IQ Lengkap. IQ Verbal didapatkan dari penyesuaian antara jumlah angka skala verbal disesuaikan dengan norma verbal sesuai usia testee. IQ Performance di dapatkan dari penyeusian antara jumlah angka skala performance dengan norma performance sesuai usia testee. Sedangkan IQ Lengkap didapatkan dari penyesuaian antara jumlah angka skala verbal dan angka skala performance dengan norma.
Selanjutnya adalah menghitung IQ Original untuk mengetahui apakah potensi yang teraktualkan saat ini  sudah optimal atau belum. Caranya yaitu :
A.S Informasi + A.S Persamaan + A.S Rancangan balok  X 100
3
 Kemudian hasil ini disesuaikan dengan norma full scale sesuai dengan usia testee.
Contoh Lembar skoring WAIS
Nama                    : XX                                        Tgl. Lahir        :
Jenis Kelamin       : Laki-laki                                Umur               : 16 th 2 bulan
Pekerjaan              : -                                             Tester              :
Pendidikan           : SMU                                     Tanggal tes      :
No
RINGKASAN
Tes
Angka Kasar
Angka Skala
Keterangan
1.
Informasi
8
6

2.
Pengertian
10
6

3.
Hitungan
8
7

4.
Persamaan
8
7

5.
Rentangan angka
12
11

6.
Perbedaharaan kata
9
2


Angka Verbal : 39

7.
Symbol angka
20
4

8.
Melengkapi gambar
11
8

9.
Rancangan balok
24
7

10.
Mengatur gambar
21
9

11.
Merakit obyek
20
6

Angka Performance : 34
Angka Total
Angka Verbal : 5/6 X 39 = 33                                IQ= 79
Angka Performance : 34                                        IQ= 81
Angka Skala Lengkap :  67                                    IQ= 78

Original IQ nya adalah : 6+7+7 X 100 = 66 à
                                           3


Lembar Latihan Mahasiswa
NAMA                        :  A
TGL LAHIR               :  5 OKTOBER 1981
TGL TES                    : 6 JANUARI 2000
NO
RINGKASAN
TES
ANGKA KASAR
ANGKA SKALA
1.
INFORMASI
15

2.
PENGERTIAN
18

3.
HITUNGAN
15

4.
PERSAMAAN
10

5.
RENTANGAN ANGKA
8

6.
PERBENDAHARAAN KATA
40

JUMLAH ANGKA VERBAL
7.
SIMBOL
60

8.
MELENGKAPI GAMBAR
12

9.
RANCANGAN BALOK
18

10.
MENGATUR GAMBAR
20

11.
MERAKIT OBYEK
25

JUMLAH ANGKA PERFORMANCE
ANGKA TOTAL
ANGKA VERBAL                   =                                                                IQ  =
ANGKA PERFORMANCE     =                                                                IQ  =
ANGKA SKALA LENGKAP  =                                                              IQ  =

NAMA                        : B
TGL LAHIR               : 16 MARET 1985
TGL TES                    : 5 JANUARI 2003
NO
RINGKASAN
TES
ANGKA KASAR
ANGKA SKALA
1.
INFORMASI
11

2.
PENGERTIAN
22

3.
HITUNGAN
11

4.
PERSAMAAN
14

5.
RENTANGAN ANGKA
9

6.
PERBENDAHARAAN KATA
47

JUMLAH ANGKA VERBAL
7.
SIMBOL
55

8.
MELENGKAPI GAMBAR
15

9.
RANCANGAN BALOK
10

10.
MENGATUR GAMBAR
23

11.
MERAKIT OBYEK
31

JUMLAH ANGKA PERFORMANCE
ANGKA TOTAL
ANGKA VERBAL                 =                                                                IQ  =
ANGKA PERFORMANCE   =                                                                IQ  =
ANGKA SKALA LENGKAP  =                                                              IQ  =


4.      CFIT
CFIT (Culture Fair Intelligence Test) adalah salah satu alat tes klasikal yang populer digunakan untuk berbagai setting. Selain karena materinya yang relatif lebih sederhana dari beberapa alat tes inteligensi yang lain, CFIT ini juga alat yang free biases. Dalam arti bahwa persoalan dalam CFIT ini tidak mengandung unsur verbal dan hanya berupa gambar-gambar teknis saja sehingga tergolong alat tes yang bebas budaya. Pengadministrasiannya juga relatif tidak membutuhkan banyak waktu karena CFIT hanya terdiri dari empat sub tes. Tes ini adalah speed tes dan waktu yang digunakan untuk tes CFIT ini sekitar 15 menit. CFIT ini dapat diaplikasikan pada subyek dengan usia remaja sampai dengan dewasa dan yang paling umum digunakan adalah CFIT seri 3B.
a.    Tujuan Praktikum
·      Mahasiswa lebih memahami materi, alat dan mampu mengadministrasikan CFIT dengan baik.
·      Mahasiswa mampu melakukan tahapan-tahapan pengetesan CFIT dengan benar/ melakukan role play.
·      Mahasiswa mampu melakukan skoring CFIT dengan benar
·      Mahasiswa mengenali kesulitan-kesulitan atau masalah-masalah yang mungkin muncul dalam pengadminsitrasian tes CFIT.
b.   Materi
Dalam pelaksanaan praktikum, mahasiswa perlu memastikan kelengkapan alat yang akan menunjang kegiatan praktikum, alat-alat yang harus dipersiapkan adalah :
·      Buku Soal CFIT
·      Lembar jawaban
·      Stopwatch
·      Alat tulis


c.    Tahapan yang perlu dilakukan
·      Mengetahui usia atau latar belakang pendidikan testee.
Norma CFIT ada dua yaitu berdasarkan usia serta berdasarkan tingkat pendidikan, maka tester harus mengetahui usia testee saat di tes atau pendidikan terakhir testee.
·      Melakukan pengetesan.
CFIT terdiri dari 4 sub tes, yang masing-masing sub tes memiliki intruksi yang berbeda-beda dan batasan waktu yang juga berbeda. Tester harus memberikan intruksi secara jelas kepada testee terkait apa yang menjadi tugas testee dalam setiap sub tes. Penjelasan meliputi contoh soal serta cara menjawabnya. Tester juga harus memastikan testee memahami tugasnya sebelum memulai tes atau menyalakan stopwatch. Ada baiknya sebelum memulai tes, tester memberikan kesempatan kepada testee untuk bertanya apabila terdapat hal-hal yang masih belum difahami. Tester harus memberikan secara urut mulai dari sub tes 1 sampai dengan 4, berdasarkan batasan waktu.
·      Melakukan skoring.
Dalam CFIT, semua jawaban benar diberikan nilai 1 dan jawaban salah diberikan nilai 0. Tester harus memeriksa pekerjaan testee dan kemudian mendapatkan skor pada setiap sub tes. Selanjutnya jumlah skor benar dalam setiap sub tes dijumlahkan dan kemudian total ini disesuaikan dengan norma untuk mendapatkan IQ.
·      Menghitung IQ
IQ dalam CFIT diperoleh dari penyesuaian antara skor total dengan norma berdasarkan usia atau norma berdasarkan pendidikan terakhir testee.
Contoh Lembar Skoring CFIT (lampiran)

5.      IST
IST (Intelligenz Structure Test) adalah tes inteligensi yang dikembangkan oleh Rudolf Amthauer pada tahun 1953. Menurut Amthauer intelegensia ditanggapi sebagai struktur tersendiri, di dalam kesleuruhan struktur kepribadian manusia. Intelegensia merupakan suatu keseluruhan struktur yang terdiri dari kemampuan-kemampuan jiwa dan rohani yang berfungsi sedemikian sehingga memberikan kemampuan bagi manusia untuk bertindak. IST terdiri dari 9 sub tes yang maisng-masing tes memiliki cara pengerjaan tersendiri dan dibatasi oleh waktu-watu tertentu. IST ini dapat digunakan untuk tes klasikal maupun individual. Hasil akhir dari IST ini adalah grafik dan angka yang menunjukkan taraf kecerdasan.
a.         Tujuan Praktikum
·           Mahasiswa lebih memahami materi, alat dan mampu mengadministrasikan IST dengan baik.
·           Mahasiswa mampu melakukan tahapan-tahapan pengetesan CFIT dengan benar/ melakukan role play.
·           Mahasiswa mampu melakukan skoring IST dengan benar
·           Mahasiswa mengenali kesulitan-kesulitan atau masalah-masalah yang mungkin muncul dalam pengadminsitrasian tes IST.
b.        Materi
Dalam pelaksanaan praktikum, mahasiswa perlu memastikan kelengkapan alat yang akan menunjang kegiatan praktikum, alat-alat yang harus dipersiapkan adalah :
·      Buku Soal IST
·      Lembar jawaban
·      Stopwatch
·      Alat tulis
c.         Tahapan yang perlu dilakukan
·      Mengetahui usia atau latar belakang pendidikan testee.
Norma IST ada dua yaitu berdasarkan usia serta berdasarkan tingkat pendidikan, maka tester harus mengetahui usia testee saat di tes atau pendidikan terakhir testee.


·      Melakukan pengetesan.
IST terdiri dari 9 sub tes, yang masing-masing sub tes memiliki intruksi yang berbeda-beda dan batasan waktu yang juga berbeda. Intruksi sudah tertera di halaman depan setiap sub tes. Tester harus memberikan intruksi secara jelas kepada testee terkait apa yang menjadi tugas testee dalam setiap sub tes. Penjelasan meliputi contoh soal serta cara menjawabnya. Tester juga harus memastikan testee memahami tugasnya sebelum memulai tes atau menyalakan stopwatch. Ada baiknya sebelum memulai tes, tester memberikan kesempatan kepada testee untuk bertanya apabila terdapat hal-hal yang maish belum difahami. Tester harus memberikan secara urut mulai dari sub tes 1 sampai dengan 9, berdasarkan batasan waktu.
·      Melakukan skoring.
Dalam IST, semua jawaban benar diberikan nilai 1 dan jawaban salah diberikan nilai 0. Tester harus memeriksa pekerjaan testee dan kemudian mendapatkan skor pada setiap sub tes. Secara detail, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
*        Tulislah semua skor yang didapatkan pada setiap sub tes pada tempat yang tersedia di bawah setiap sub tes (kotak kecil dibawah sub tes).
*        Pindahkan skor ini ke dalam tabel di bagian RW, lalu jumlahkan skor RW per sub tes dan tulislah hasilnya di kolom jumlah/ JML.
*        Sesuaikan nilai RW dalam setiap sub tes dengan norma RW-SW (berdasarkan tingkat pendidikan atau usia).
*        Buatlah grafik berdasarkan nilai SW setiap sub tes.
*        Sesuaikan nilai jumlah RW dengan norma Standart Score (berdasarkan tingkat pendidikan atau usia).
*        Sesuaikan hasil dari norma standart score dengan norma IST (berdasarkan tingkat pendidikan atau usia).
·      Menghitung IQ
IQ dalam IST diperoleh dari penyesuaian antara nilai yang diperoleh dari standart score dengan norma IST berdasarkan usia atau norma berdasarkan pendidikan terakhir testee.
Contoh Skoring IST (lampiran)

6.      BAKAT
Pemeriksaan dan asesmen psikologi dalam prakteknya sangat banyak mengaplikasikan tes bakat. Tes bakat adalah perangkat penguji suatu kondisi atau karakteristik tertentu dari individu yang hasilnya merupakan cerminan dari gejala kemampuan yang perlu dipadankan dengan suatu pelatihan atau pembelajaran yang sesuai agar diwujudkan dalam tindakan atau perilaku nyata. Bakat atau aptitude lebih pada konsep potensi khusus yang dimiliki seseorang yang tersimpan dalam dirinya sebagai energi yang akan muncul bila diinginkan untuk diwujudkan dalam perilaku nyata. Tes bakat berbeda dengan inteligensi, karena konsep inteligensi lebih mengacu pada pengertian berikut “intelligence is the ability of an organism to solve new problem”. Sedangkan aptitude merupakan konsep potensi khusus yang dimiliki individu yang tersimpan dalam dirinya. Contoh tes bakat adalah :
·           Clerical aptitude test, fungsi psikologi yang diukur adalah perceptual speed.
·           Manual dexterity test, fungsi yang diukur adalah koordinasi vidual-motorik.
·           Mechanical aptitude test, fungsi yang diukur adalah kemampuan mekanik.
·           Spatial visualization, fungsi yang diukur adalah kemampuan ruang
·           Aesthetic judgement and artistic ability, fungsi yang diukur adalah penilaian estetika dan artistic.
·           Musical Talent, fungsi yang diukur adalah bakat music.

7.      MINAT
Minat merupakan salah satu aspek psikis manusia yang dapat mendorong untuk mencapai tujuan. Minat sebagai motif yang menunjukkan arah perhatian individu terhadap obyek yang menarik atau menyenangkannya. Minat berbeda dengan bakat, ketika individu menunjukkan minat pada elektronik, misalnya maka hal ini sering dihubungkan dengan dengan pengertian bahwa individu tersebut memiliki bakat pada bidang elektronika. Pada kenyataannya bakat dan minat dapat berjalan tidak sejalan, karena lebih banyak ditemukan individu yang menunjukkan minat bada bidang tertentu namun ternyata tidak menunjukkan bakat pada bidang tersebut. Modul ini akan secara khusus membahas tentang RMIB sebagai salah satu alat tes minat.
a.         Tujuan Praktikum
·           Mahasiswa lebih memahami materi, alat dan mampu mengadministrasikan alat tes minat dengan baik.
·           Mahasiswa mampu melakukan tahapan-tahapan pengetesan dengan benar/ melakukan role play.
·           Mahasiswa mampu melakukan skoring alat tes dengan benar
·           Mahasiswa mengenali kesulitan-kesulitan atau masalah-masalah yang mungkin muncul dalam pengadminsitrasian tes.
b.        Materi
Dalam pelaksanaan praktikum, mahasiswa perlu memastikan kelengkapan alat yang akan menunjang kegiatan praktikum, alat-alat yang harus dipersiapkan adalah :
·      Lembar RMIB
·      Stopwatch
·      Alat tulis
c.         Tahapan yang perlu dilakukan
·      Testee diminta untuk mengurutkan jenis pekerjaan dari yang disukai sampai pekerjaan yang kurang disukai (merangking antara 1 sampai 12)
·      Tester memindahkan angka-angka pilihan testee ke dalam kolom rangkuman yang ada di halaman belakang lembar RMIB mulai dari kelompok A sampai dengan I.
·      Penulisan pindahan ranking kelompok pada setiap kolom tabel dimulai dari setiap kotak bertanda “X” untuk setiap kolom sesuai nomor rangking yang dibuat testee.

Contoh Skoring RMIB
KATEGORI
A
B
C
D
E
F
G
H
I
RANK
P
1.     OUT
X4
11
11
4
11
7
8
12
9
77


2.     ME
6
9X
5
5
6
11
12
3
12
69


3.     COMP
3
7
1X
6
10
8
11
6
8
60


4.     SCIE
2
12
4
1X
7
12
5
8
2
53


5.     PERS
5
1
2
3
1X
6
7
7
6
38
II

6.     AESH
10
3
3
7
3
1X
6
4
3
40
III

7.     LIT
12
5
7
10
5
10
4X
10
11
74


8.     MUS
9
6
9
2
2
2
1
2X
5
38


9.     SOS SER
1
2
8
9
4
4
3
1
1X
33
I

10.       CLEAR
7
4
6
8
8
3
2
5
4
47


11.       PRAC
8
8
12
12
9
5
10
9
11
84


12.       MED
11
10
10
11
12
9
9
10
7
89


                                                                                    TOTAL : 702
Lembar Latihan Mahasiswa
KATEGORI
A
B
C
D
E
F
G
H
I
RANK
P
1.     OUT
X











2.     ME

X










3.     COMP


X









4.     SCIE



X








5.     PERS




X







6.     AESH





X






7.     LIT






X





8.     MUS







X




9.     SOS SER








X



10.       CLEAR












11.       PRAC












12.       MED














Jumat, 06 September 2013

ANALISIS ARTIKEL TES PSIKOLOGI ONLINE

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
“psikodiagnostik IV”

 








Disusun oleh:
Nurul Hikmah                          (B07210045)
Tutik Ely Sulistyorini               (B07210056)
Luluk Masruroh                       (B07210059)
Anita Arista                             (B07210075)
Moh. Antoso                            (B07210076)

Dosen Pembimbing :
Hj. Lailatul M. Hanim, S.Psi

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2013



A.    Artikel

Sumber : http://indahps46.blogspot.com Diambil pada tanggal ……. Pukul….
Perkembangan zaman akan teknologi internet semakin memudahkan pengguna fasilitas untuk melakukan sesuatu. Bagi para pencari tenaga kerja tidak perlu repot-repot melakukan pertemuan fisik dengan konsultan yang akan melakukan kerjasama untuk mencari kandidat atau sumber daya manusia yang diinginkan kriteria. Keduanya sama-sama diuntungkan dengan menghemat energy, waktu dan biaya. Bahkan mereka tidak perlu repot untuk mengatur jadwal. Sekarang bergamnya fasilitas internet juga memungkinkan melakukan tes psikologi secara online yang terjamin kerahasiaanya.
Tes Psikologi online mempunyai fungsi sebagai berikut:
1.       Fungsi seleksi.
Tes Psikologi online berfungsi sebagai seleksi jika digunakan untuk memilih individu-individu yang cocok/sesuai dengan kualifikasi yang diharapkan melalui media online atau lewat interner. misalnya tes masuk suatu lembaga pendidikan atau tes seleksi jabatan tertentu. Berdasarkan hasil-hasil tes psikologis yang dilakukan, pimpinan lembaga dapat memutuskan calon-calon pelamar yang dapat diterima dan menolak calon-calon lainnya tanpa harus bertemu secara langsung.
2.      Fungsi Klasifikasi
Yaitu mengelompokkan individu-individu dalam kelompok sejenis dari hasil tes psikologi yang dilakukan secara online tersebut. Misalnya mengelompokkan siswa yang mempunyai masalah sejenis, sehingga dapat diberi bantuan yang sesuai dengan masalahnya.
3.      Fungsi deskripsi
Tes ini berfungsi untuk menjelaskan profil seseorang, baik kepribadian, tingkahlaku, kemampuan, minat dan bakat dan sebagainya hanya dengan melalu tes online tersebut.



Salah satu contoh Tes Psikologi Online
Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) adalah instrumen yang mengukur beberapa aspek kecerdasan individu, kepribadian, bakat, dll. MBTI ini dirancang untuk mengukur tipe kepribadian Anda dan merupakan instrumen yang paling banyak digunakan. Telah diperbarui dan divalidasi secara ketat selama lebih dari tujuh puluh tahun. MBTI dapat digunakan untuk personal, relationships, karir dan tim kerja. Bagaimana analisis kekuatan diri Anda, karir yang sesuai, relationships, dan apa formula yang baik untuk pribadi Anda. Hal ini sering digunakan untuk menyeimbangkan kepribadian yang berbeda sehingga mereka dapat membangun pribadi tangguh, menjalin hubungan personal lebih baik atau bekerja lebih efektif.
Dalam tes psikologi online terdapat beberapa dampak positif dan dampak negatif dari psikologi online, yaitu :
·         Dampak Negatif
Dampak negatif dari tes psikologi online adalah hasil dari tes psikologi online tidak begitu akurat di bandingkan tes psikologi manual atau tes psikologi tidak online, dan dapat juga menimbulkan penipuan pada tes psikologi online
·         Dampak positif
Dampak positif dari tes psikologi online adalah dapat mempercepat roses kegiatan tes-tes psikologi termasuk di dalamnya yaitu kegiatan administrative dan kita juga dapat mengikuti berbagai macam tes psikologi secara gratis. 









A.    Analisis Artikel Berdasar Psikologi
Berdasarakan artikel yang dipaparkan di atas, bahwasanya perkembangan zaman itu pada satu sisi menguntungkan. Namun, pada sisi lain juga banyak orang yang menyalahgunakan perkembangan teknologi dengan meraup keuntungan secara pribadi. Salah satu penyalahgunaan perkembangan teknologi adalah tes Psikologi. Seiring perkembangan zaman tes psikologi yang semula dilaksanakan secara face to face, namun sekarang tes dapat dipermudah dengan cara online.
Perlu diketahu bahwa tes psikologi online adalah sebuah tes yang bertujuan untuk mengukur fungsi kognitif juga emosi seseorang dan untuk mengetahui kemampuan seseorang dalam berpikir sesuai nalar melalui internet.  Tes Psikologi Online bisa digunakan atau dicoba melalui sebuah sambungan internet, dimana hal itu mempermudah cara kita untuk mengetahui potensi kemampuan kita dan dari tes online tersebut kita dapat mempelajari berbagai tes psikologi. Dengan melalui internet atau online ,orang tersebut bisa dengan mudah mengakses progam-program tes psikologi yang sudah ada dalam internet .Salah satu dari tes psikologi online adalah Myers-Briggs Type Indicator (MBTI). MBTI merupakan instrumen yang mengukur beberapa aspek kecerdasan individu, kepribadian, bakat, dll. Tes ini bersifat gratis atau tanpa dipungut biaya. jalankan tes sesuai dengan diri anda, bukan berdasarkan kondisi emosi sesaat.
Pada tes psikologi online ini tidak harus face to face, melainkan bisa dilakukan melalui internet. Saat ini cukup banyak situs penyedia tes psikologi, dan kita pun bisa mencarinya dari search engine dengan mengetik kata kunci tes psikologi online. Biasanya penyedia tes psikologi online berasal dari luar negeri, dan biasanya juga pertanyaan-pertanyaannya juga menggunakan bahasa Inggris. 
Dalam melakukan Tes Psikologi Online dapat menimbulkan berbagai dampak, baik itu dampak positif maupun dampak negatif.
·         Dampak positif dari tes psikologi online:
1.      lebih percaya diri karena sudah berlatih dan mempersiapkan diri sebelum melakukan tes.
2.      Dapat mengetahui dan berlatih melalui contoh soal-soal yang disediakan oleh situs yang menyediakan tes psikologi online.
3.      Dalam tes psikologi online, kita bisa berlatih berulnag kali dalam mengerjakan soal – soalnya.
4.       Dapat dilakukan dirumah bahkan dimana saja kapan saja dengan menggunakan internet.
5.      Bisa mencoba-coba beberapa kali tes tersebut atau tes yang lainnya
6.      Hasil tesnya pun langsung dapat diketahui tanpa harus menunggu waktu yang cukup lama.
7.      Dapat mengetahui jawaban yang benar atau tepat dari contoh soal-soal tes Psikologi tersebut.
·         Dampak negatif dari tes psikologi online:
1.      Kerahasiaan alat tes semakin terancam
2.      Program tes psikologi yang ada akan mudah sekali bocor
3.      hasil tes psikologi online tidak menunjukkan hasi sebenarnya karena telah berlatih berulang kali.
4.      tidak bisa melakukan observasi maupun wawancara saat tes psikologi berlangsung.
5.      Banyak terjadi penipuan yang dilakukan oleh pihak – pihak yang tidak bertanggung
6.      hasil tes pesikologi tidak akurat.
Seperti yang telah dipaparkan pada artikel dan analisis di atas bahwasannya, tes psikologi online ini adalah bahanya laten oleh pihak psikolog sendiri. Tes psikologi ini memang dapat berkembang dan mengikuti zaman yang sangat pesat pada saat ini. Namun bila hal ini dibiarkan merajalela dan tidak diatur oleh suatu pearaturan yang tegas maka yang terjadi adalah alat tes yang bersifat sngat rahasia pun dapat dipelajarioleh banyak kalangan dan akhirnya alat tes yang pada awalnya mengukur kepribadian, kemampuan ataupun mengukur sesuatu pada diri seseorang pun ke validannya rendah dan mungkin dapat tidak digunakan lagi.
Tes Psikologi Online tidak dapat mengukur apa yang seharusnya di ukur, karena subjek atau orang yang mengikuti tes psikologis itu sudah mengetahui apa yang akan ia jawab dalam tes tersebut. Jadi, kerahasiaan alat-alat tes psikologi harus sangat di jaga. Terutama oleh orang-orang yang bergerak di bidang psikologi agar tes-tes tersebut memiliki daya fungsi yang sesuai dengan apa yang akan di ukur.


MAKALAH PELANGGARAN KODE ETIK DALAM PENELITIAN “PERILAKU PERMISSIVE PELECEHAN SEKSUAL DI LOKALISASI DOLLY SURABAYA”


Di Ajukan untuk memenuhi nilai tugas  matakuliah Kode Etik Psikologi


Dosen Pembimbing
Maulida Muflihah, M.Psi, Psi
Disusun oleh :
Oleh Kelompok 4
Kelas 6G2
Nurul Hikmah                    B07210045
Adinda istiqomah             B07210054
Dessy anggraini                 B07210066
Moh. Antoso                     B07210076
PROGRAM STUDY PSIKOLOGI
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2013

A.      Hal-hal yang belum sesuai dengan kode etik

Menurut analisa kami pada skripsi berjudul
“PERILAKU PERMISSIVE PELECEHAN SEKSUAL DI LOKALISASI DOLLY SURABAYA”
oleh Trisuci Handayani
NIM: B07304072
K.11005
Tahun 2011
melanggar beberapa kode etik sebagai berikut
1.       Peneliti tidak memberikan informasi akurat mengenai rancangan penelitian setelah memperoleh surat ijin kelurahan
Pasal 47 Aturan dan izin penelitian
2) Jika persetujuan lembaga, komite riset atau instansi lain terkait dibutuhkan, Psikolog dan/
atau Ilmuwan Psikologi harus memberikan informasi akurat mengenai rancangan penelitian sesuai dengan protokol penelitian dan memulai penelitian setelah memperoleh persetujuan.
2.       Pasal 48 Partisipan Penelitian
(1) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi mengambil langkah-langkah untuk melindungi
perorangan atau kelompok yang akan menjadi partisipan penelitian
dari konsekuensi yang
tidak menyenangkan, baik dari keikutsertaan atau penarikan diri/pengunduran dari
keikutsertaan.

3.       Pasal 49 Informed Consent dalam Penelitian
Sebelum pengambilan data penelitian Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi menjelaskan pada
calon partisipan penelitian dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan istilah-istilah yang dipahami masyarakat umum tentang penelitian yang akan dilakukan. Psikolog dan/atauIlmuwan Psikologi menjelaskan kepada calon partisipan asas kesediaan sebagai partisipan penelitian yang menyatakan bahwa keikutsertaan dalam penelitian yang dilakukan bersifatsukarela, sehingga memungkinkan pengunduran diri atau penolakan untuk terlibat. Partisipan harus menyatakan kesediaannya seperti yang dijelaskan pada pasal yang mengatur tentang itu.
1) Informed consent Penelitian
Dalam rangka mendapat persetujuan dari calon partisipan, Psikolog dan/atau Ilmuwan
Psikologi menjelaskan proses penelitian
. Secara lebih terinci informasi yang penting untuk disampaikan adalah:
a) Tujuan penelitian, jangka waktu dan prosedur, antisipasi dari keikutsertaan, yang bila
diketahui mungkin dapat mempengaruhi kesediaan untuk berpartisipasi,
seperti risiko
yang mungkin timbul, ketidaknyamanan, atau efek sebaliknya; keuntungan yang mungkin diperoleh dari penelitian; hak untuk menarik diri dari keikutsertaan dan mengundurkan diri dari penelitian setelah penelitian dimulai, konsekuensi yang mungkin timbul dari penarikan dan pengunduran diri; keterbatasan kerahasiaan; insentif untuk partisipan; dan siapa yang dapat dihubungi untuk memperoleh informasi lebih lanjut.
B.      Hal-hal yang sudah sesuai dengan kode etik
1.       Pasal 47 Aturan dan Izin Penelitian
(1) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi harus memenuhi aturan profesional dan ketentuanyang berlaku, baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan penulisan publikasi penelitian.Dalam hal ini termasuk izin penelitian dari instansi terkait dan dari pemangku wewenangdari wilayah dan badan setempat yang menjadi lokasi.





Laporan Hasil Analisis Skripsi (Kode Etik Psikologi)


A.    Judul
Self Efficacy Pada Mahasiswa Double Degree
B.     Tahun
2006
C.    Penulis
Mira Palupi Haryati (110110511)
D.    Universitas
Universitas Air Langga Surabaya (UNAIR)
E.     Ringkasan Skripsi          :
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana self efficacy pada mahasiswa double degree. Fokus penelitian ini meliputi 3 aspek utama, yaitu proses self efficacy, sumber self efficacy, dan bentuk self efficacy mahasiswa double degree. Yang dimaksud dengan self efficacy disini adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya mengorganisasikan dan melaksanakan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencapai performance tersebut. Sementara itu mahasiswa double degree adalah mahasiswa yang mengambil dua program studi sekaligus dalam waktu yang bersamaan di luar kebijakan yang disediakan universitas tempat mereka melakukan studi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pattern matching. Penentuan subjek dalam penelitian ini menggunakan pendekatan porposive sampling, yaitu memilih subjek yang memenuhi kriteria tertentu yang sudah ditentukan oleh peneliti. Tekhnik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis tematik dengan melakukan koding terhadap transkip wawancara yang telah diverbatim, dan deskripsi observasi, serta catatan lapangan.
Hasil penelitian ini menunjukkan proses self efficacy mempengaruhi fungsi individu dalam berbagai aspek, baik itu kognitif, afektif, seleksi maupun motivasi. Apabila dibandingkan dengan mahasiswa double degree yang memiliki self efficacy yang lemah, mahasiswa double degree yang memiliki self efficacy kuat akan mampu berpikir lebih rasional mengenai sebuah situasi, mampu mengurangi tingkat stress dan bertahan saat menghadapi tantangan-tantangan kuliah double degree, mampu menentukan pilihan aktivitas yang berguna bagi dirinya, menetapkan tujuan dalam menjalani kuliah double degree, serta mampu menggunakan tujuan tersebut sebagai motivasi untuk maju dan berusaha lebih baik. Oleh karena itu, adanya  self efficacy yang kuat diperlukan untuk mencapai kesuksesan dalam mengalami kuliah double degree. Sumber self efficacy yang paling berpengaruh terhadap keyakinan self efficacy mahasiswa double degree yang tanpak dalam penelitian ini adalah pengalaman sebelumnya (mastery experience). Pengalaman-pengalaman keberhasilan atau pencapaian prestasi di masa lalu berpengaruh besar, terutama dalam hal ketahanan mahasiswa double degree ketika dihadapkan pada situasi-situasi menantang kuliah double degree. Namun demikian hal tersebut belum tentu sama adanya bagi setiap individu sebagaimana halnya juga terlihat dalam penelitian ini bahwa sumber self efficacy selain matery experience juga dapat memberikan sumbangan yang besar terhadap tumbuhnya self efficacy. Self efficacy terkait erat dengan kontrol diri, yang merupakan mekanisme untuk mengurangi ketegangan yang berasal dari datangnya situasi-situasi sulit atau mengganggu. Kondisi saat terjadinya situasi sulit tersebut membuat seseorang hanya mengatur perilakunya sedemikian rupa. Bentuk self efficacy yang dilakukan masing-masing mahasiswa double degree dapat bervariasi, sesuai dengan tingkat keyakinan yang dimiliki mahasiswa tersebut terhadap kemampuannya. Setiap mahasiswa double degree memiliki cara terbaiknya masing-masing untuk mengontrol dirinya, dipengaruhi oleh berbagai pengalaman yang mereka dapat dari masa lalu. Sebagai contoh, pada penelitian ini terlihat bahwa bentuk self efficacy yang dominan dilakukan oleh subjek 1 adalah decision control, pada subjek 2 adalah cognitive control, sedangkan pada subjek 3 adalah retrospective control.
F.     Hasil Analisis
1.      Hal-hal Yang Belum Sesuai Dengan Kode Etik Psikologi 2010
Menurut analisa saya, pada skripsi yang berjudul “Self Efficacy Pada Mahasiswa Double Degree” yang disusun oleh Mira Palupi Haryati (110110511) mahasiswa Psikologi Unversitas Air Langga Surabaya (UNAIR) pada tahun 2006, telah melanggar beberapa kode etik Psikologi 2010 sebagai berikut :
a)    Tidak adanya surat ijin penelitian dari Universitas tempat dia studi
Ini tidak sesuai dengan Pasal 47 no. 1 tentang Aturan dan Izin Penelitian yang berbunyi “Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi harus memenuhi aturan profesional dan ketentuan yang berlaku, baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan penulisan publikasi penelitian. Dalam hal ini termasuk izin penelitian dari instansi terkait dan dari pemangku wewenang dari wilayah dan badan setempat yang menjadi lokasi.
b)   Tidak adanya surat persetujuan antara peneliti dengan partisipan
Ini tidak sesuai dengan Pasal 20 tentang Informed Consent yang berbunyi “Setiap proses di bidang psikologi yang meliputi penelitian/pendidikan/pelatihan/asesmen/intervensi yang melibatkan manusia harus disertai dengan Informed Consent. Informed Consent adalah persetujuan dari orang yang akan menjalani proses dibidang psikologi yang meliputi penelitian pendidikan/pelatihan/asesmen dan intervensi psikologi. Persetujuan dinyatakan dalam bentuk tertulis dan ditanda tangani oleh orang yang menjalani pemeriksaan yang menjadi subjek penelitian dan saksi.”
c)    Tidak adanya penjelasan mengenai proses/prosedur penelitian yang akan dilaksanakan kepada partisipan
Ini tidak sesuai dengan Pasal 49 no. 1 tentang Informed Consent dalam Penelitian yang berbunyi “Sebelum pengambilan data penelitian Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi menjelaskan pada calon partisipan penelitian dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan istilah-istilah yang dipahami masyarakat umum tentang penelitian yang akan dilakukan. Psikolog dan/atauIlmuwan Psikologi menjelaskan kepada calon partisipan asas kesediaan sebagai partisipan penelitian yang menyatakan bahwa keikutsertaan dalam penelitian yang dilakukan bersifat sukarela, sehingga memungkinkan pengunduran diri atau penolakan untuk terlibat. Partisipan harus menyatakan kesediaannya seperti yang dijelaskan pada pasal yang mengatur tentang itu.
1)      Informed consent Penelitian
Dalam rangka mendapat persetujuan dari calon partisipan, Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi menjelaskan proses penelitian. Secara lebih terinci informasi yang penting untuk disampaikan adalah:
a)    Tujuan penelitian, jangka waktu dan prosedur, antisipasi dari keikutsertaan, yang bila diketahui mungkin dapat mempengaruhi kesediaan untuk berpartisipasi, seperti risiko
yang mungkin timbul, ketidaknyamanan, atau efek sebaliknya; keuntungan yang mungkin diperoleh dari penelitian; hak untuk menarik diri dari keikutsertaan dan mengundurkan diri dari penelitian setelah penelitian dimulai, konsekuensi yang mungkin timbul dari penarikan dan pengunduran diri; keterbatasan kerahasiaan; insentif untuk partisipan; dan siapa yang dapat dihubungi untuk memperoleh informasi lebih lanjut.

2.      Hal-hal Yang Sudah Sesuai Dengan Kode Etik
Adapun mengenai hal-hal yang sudah sesuai dengan kode etik psikologi 2010, yaitu
a)    Identitas partisipan dirahasiakan

Ini sesuai dengan  Pasal 48 no. 1 tentang Partisipan Penelitian yang berbunyi “Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi mengambil langkah-langkah untuk melindungi perorangan atau kelompok yang akan menjadi partisipan penelitian dari konsekuensi yang tidak menyenangkan, baik dari keikutsertaan atau penarikan diri/pengunduran dari keikutsertaan.